Advertisement

Kerajaan Murabitun, adalah nama suatu kerajaa.n Islam di Magrib (Afrika Utara) yang pada mulanya merupakan ge­rakan keagamaan yang kemudian berkem­bang menjadi gerakan religio-militer. Kiai dan santri tinggal bersama di dalam ribat (biara), semacam pesantren di Indonesia.

Dinasti ini didirikan oleh beberapa cabang suku bangsa Sanhajah di Sahara. Kegiatannya bermula ketika kepala suku Sanhajah ini, Yahya ibnu Ibrahim yang berasal dari cabang Jaddalah pergi naik haji beserta beberapa orang terkemuka da­ri kaumnya. Timbul keinginannya untuk mencari seorang alim yang dapat meng­ajari kaumnya tentang agama Islam yang benar. Pada perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang alien dari mazhab Maliki, Abu Imaran al-Fasi, dan atas petunjuknya, ia mendapat guru dan mazhab tersebut bernama Abdullah ibnu Yasin. Pada mula­nya, Ibnu Yasin hanya mengajar 7 atau 8 orang murid, 2 orang di antaranya adalah kepala suku Lamtunah (suatu cabang dari Sanhajah), Yahya ibnu Umar dan adik­nya, Abu Bakar ibnu Umar. Mereka mem­bangun pondok yang disebut ribat dan Ibnu Yasin menamai murid-muridnya al­Murdbittin. Dengan adanya ribat, murid Ibnu Yasin mencapai 1000 orang dan me­reka direkrut dan para prajurit dan kepala suku dari. Lamtunah dan Nusufah. Dengan kekuatan personil sebanyak itu, cabang-cabang suku Sanhajah satu persatu ditak­lukkan, sehingga pengikut al-Murabitun berkernbang pesat. Dengan mengangkat Yahya ibnu Umar sebagai panglima mili­ter, suku-suku bangsa di Sahara mereka taklukkan, bahkan sampai ke Wadi Dar’ah. Penguasa Sijilmasah, Mas`ud ibnu Wanudin al-Magrawi, memberikan perlawanan se­ngit, tetapi ia gugur dan ibu kotanya dire-but al-Murabitun (1055/447 H). Setelah Yahya ibnu Umar gugur, adiknya, Abu Bakar, menggantikannya guna melanjut­kan penaklukan ke arah utara. Daerah­daerah Sus dan ibu kotanya, Tarudant, dan juga kerajaan Agmat ditaklukkannya; bahkan Abu Bakar kemudian mengawini janda raja Agmat, Zainab, yang ikut ber­peran nanti dalam mendirikan Daulat Mu­rabitin. Kemudian, pasukan Murabitin me­pyerbu orang-orang Barbar Bergwatah yang teritorialnya sampai ke Lautan At­lantik. Mereka pengikut Salih ibnu Tarir yang mengaku sebagai nabi. Dalam per­tempuran ini, Ibnu Yasin gugur (1059/ 451 H). Kedudukannya digantikan oleh Abu Bakar ibnu Umar yang meneruskan perjuangannya sampai Bergwatah takluk kepadanya (1060/452 H). Tiba-tiba dide­ngarnya bahwa Bulugin, penguasa per­bentengan Bani Hamid, dengan kekuatan yang besar menyerang pinggiran Magrib dan pada waktu yang sama didengarnya pula perselisihan dan perkelahian antara beberapa cabang suku Sanhajah yang ma­sih tinggal di gurun pasir. Ia merasa ber­kewajiban untuk melerai perselisihan itu. Oleh sebab itu, sebelum berangkat, ko­mandan di Magrib diserahkan kepada Yu­suf ibnu Tasyfin, saudara sepupunya, ter­masuk istrinya, Zainab, setelah ia ceraikan yang kemudian dikawini oleh Ibnu Tasy­fin. Setelah berhasil mendamaikan suku­nya di gurun pasir dan mendengar bahwa Ibnu Tasyfin sudah berhasil menguasai se­luruh Magrib, ia segera kembali ke utara untuk mengambil kendali pimpinan al-. Murabitin. Akan tetapi Ibnu Tasyfin, atas saran istrinya, Zainab, hanya menumpuki dia dengan hadiah tanpa menyinggung­nyinggung coal kepemimpinan al-Murabi­tin, Ia tidak mendesaknya, bahkan akhir­nya hanya kembali ke gurun pasir, kemu-

Advertisement

dian,ke Sudan dan meninggal di sana 1087 (480 H).

Sepeninggal Abu Bakar, Ibnu Tasyfin membangun kota Marrakusy untuk dijadi­kan sebagai pusat pemerintahannya, dan sementara itu ia melanjutkan penaklukan­nya sampai ke Aljir.

Karena desalcan al-Mtetamid ibnu Ab­bad, raja Sevilla, Ibnu Tasyfin menyebe­rang ke Spanyol beserta sepasukan muter yang kuat untuk menghadapi pasukan Kristen yang dipimpin oleh Alfonso VI, raja di Leon dan Castile. Pertempuran itu dimenangkan oleh Ibnu Tasyfin di Zalla­qah (1086/479 H), dan merupakan titik awal penaklukannya di Spanyol. Sementa­ra pengarang mengatakan bahwa sejak itu, Ibnu Tasyfin memakai gelar Amirul-Muk­minin. Hal ini meragukan, sebab tanpa ge­lar itu pun, keagamaan penguasa-pengua­sa al-Murabitin, baik ilmu maupun ama­liahnya, lebih tinggi dari khalifah-khalifah Bani Abbas di Timur.

Raja-raja kecil di Andalus (Mulrik at­Tawalf) termasuk segera me­nyadari bahwa wewenang dan kekayaan yang pindalt ke tangan penguasa al-Mura­bitin jauh lebih besar dari ketakutan mere­ka terhadap orang-orang Kristen. Mereka merasa bahwa kebesaran dan kehormatan mereka dirampas oleh Yusuf ibnu Tasyfin, karena ia meninggallcan pasukannya di Spanyol di samping mengangkat gubernur­gubernur dari keluarga Ibnu Tasyfin sendi­ri, sehingga terasa bahwa Spanyol hanya­lah bagian dari kerajaan al-Murabitin di Afrika. Ketika Yusuf Ibnu Tasyfin wafat 1106 (500 H), ia mewariskan kepada putranya, Ali, suatu imperium yang sa­ngat luas, sejak dari wilayah-wilayah di Magrib dan sebagian Afrika yang lain sam­pai ke Spanyol Islam yang membentang ke utara sampai ke Fraga. Keturunannya hanya dapat bertahan kurang dari sete­ngah abad. Dinasti ini hancur ketika di­nasti al-Muwahhidin menaklukkan Marra­kusy 1146 (541 H) dan membunuh raja al-Murabitin yang terakhir, Ishaq ibnu Ali; dan dengan meninggalnya gubernur al-Mu­rabitin yang terakhir, Yahya ibnu Gani­yah, berakhirlah kekuasaan al-Murabitin di Andalus.

Nama-nama penguasa al-Murabitin ada­lah:

  • Yahya ibnu Ibrahim,
  • Yahya ibnu Umar (w. 1055/447 H),
  • Abu Bakar ibnu Umar (w. 1087/ 480 H),
  • Yusuf ibnu Ibrahim Amir al-Mus­limin 1061-1107 (453-500 H),
  • Ali ibnu Yusuf, 1107-1143 (500­537 H),
  • Tasyfin ibnu Ali, 1143-1145 (537­539 H),
  • Ibrahim ibnu Tasyfin, segera dimak­zulkan,
  • Ishaq ibnu Ali, 1146 (541 H).

 

Advertisement