Advertisement

Kerajaan Malaka, adalah kerajaan Islam di Sernenanjung Malaka (sekarang salah sa­tu Negara Bagian di Malaysia Barat). Pen­diri dan tahun berdirinya masih sulit dipas­tikan. Ada yang berpendapat bahwa keraj a-an ini berdiri pada penggal kedua abad ke-14, didirikan oleh Permaisura, raja Hindu di Singapura yang terpaksa me­nyingkir ke Malaka karena diserbu oleh tentara kerajaan Majapahit. Ia bergelar Raja Kecil Besar dan setelah masuk Islam (1384) bergelar Sultan Mohammad Syah dan wafat 1414, digantikan oleh Sultan Iskandar Syah (1414-1424). Pendapat kedua, pendiri kerajaan ini adalah Parames­wara dari Palembang (Sriwijaya) yang menyingkir ke Singapura karena serangan Majapahit. Oleh karena Singapura diserang pula oleh Majapahit, ia menyingkir dan mendirikan kerajaan Malaka. Setelah masuk Islam, ia bergelar Sultan Iskandar Syah, bukan Mohammad Syah. Ia masih sempat memerintah di Palembang antara 1388/1389-1390/1391 di Singapura 1391/ 1392 —1496/1497 dan di Malaka 1399/ 1400-1412/1413 tetapi penggantinya yang memerintah antara 1412/1415­1423/1424 tidak disebutkan.

Sultan Iskandar Syah mempunyai dua orang putra, Raja Kasim dan Raja Ibra­him yang agaknya berlainan ibu. Ibu Raja Ibrahim berhasil membujuk Sultan, se­hingga yang menggantikannya bukan Raja Kasim yang lebih tua, tetapi Raja Ibrahim yang baru berusia kira-kira satu setengah tahun. Raja Kasim yang terusir dari istana, dengan dukungan Bendahara dan Seri Nara di Raja, berhasil mengalahkan pa-man Raja Ibrahim, Raja Rekan, yang me­merintah atas nama Raja Ibrahim yang masili anak-anak. Raja Kasim naik tahta dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah dan memerintah Malaka antara 1424-1444. Kemajuan Malaka menyebabkan raja Siam, Phra Chau Wadi,.menyerang kerajaan yang muda itu sampai dua kali, tetapi dapat di­pukul mundur.

Advertisement

Sultan Mudzaffar Syah digantikan oleh putranya, Raja Abdullah, dengan gelar Sultan Mansyur Syah (1444—1477), dan pada masa pemerintahannya, Malaka men­capai puncak zaman ke?,masannya. Sisa tentara pendudukan Siam di Pahang diser­bunya dan sejak itu Pahang di bawah ke­kuasaan Malaka, tetapi hubungannya de­ngan Siam diperbaiki. Setelah menakluk­kan beberapa kerajaan kecil di Sumatra, ia mengadakan kunjungan kenegaraan ke Majapahit diiringi oleh raja-raja negeri Merlang, Palembang, Jambi, Lingga dan Tungkal di samping beberapa pembesar Malaka, termasuk Laksamana Hang Tuah. Sebagai balasannya, ia mendapat hadiah seorang putri dan daerah jajahan Majapa­hit di Sumatra, Inderagiri dan pulau-pulau Siantan. Ke Tiongkok, sampai dua kali utusan dikirimkan. Yang pertama dipim­pin oleh Tun Perpatih Putih, mendapat hadiah putri untuk istri Sultan bersama 500 pengiring, di antaranya clayang-da­ yang, dan kedua dipimpin oleh Tun Tela­ni. Setelah itu, Sumatra Tengah yaitu Kampar, Siak dan Rokan ditaklukkan dan diislamkan. Di semenanjung sendiri, ditak­lukkannya Kelantan dan Trenggano. De­ngan Pasai dilakukannya ikatan persahabat­an. Karena luasnya pergaulan yang dilaku­kannya, perniagaan menjadi sangat maju, sampai ke India, Parsi dan Arab, di samping Siam, Tiongkok dan Jawa. Setelah meme­rintah 33 tahun lamanya, iapun wafat 1477 (882 H), dan digantikan oleh putra­nya, Raja Husin, dengan gelar Sultan Ala­ud-Din Ri`ayat Syah. Ia meneruskan cara ayahnya memerintah, sehingga Malaka bertambah makmur. Sayang, tidak diketa­hui kapan sultan ini wafat. Yang diketahui dengan jelas bahwa penguasa sesudahnya bernama Sultan Mahmud Syah yang ber­perangai buruk. Keharuman’ dan kebesar­an Malaka tidak lagi karena sultan. tetapi karena kcahlian Bendahara Sri Maharaja (jabatan tertinggi sesudah Sultan) yang nama aslinya adalah Tun Mutahir. Ke­masyhuran Bendahara menyebabkan iri hati Sultan Mahmud Syah dan hal ini ber­langsung sampai terjadi serangan Portugis I di bawah pimpinan Kapten Diego Lopez de Sequeira yang dapat dipukul mundur oleh Malaka di bawah pimpinan Bendalia­ra. Dengan kemenangan ini, Sultan ber­tambah iri, dan dengan tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, Bendaha­ra dihukum mati bersama panglima perang yang telah mempertahankan Malaka dari serbuan Portugis. Ketika Portugis datang kembali dengan laskar yang lebih besar (± 1000 orang) di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque (1511), Sultan Mahmud Syah yang tidak lagi didampingi orang­orang yang cakap, berusaha untuk berda­mai; tetapi karena tuntutan pihak Portugis terlalu berat, perang pun tidak dapat di­hindari lagi. Hanya 10 hari perang berlang­sung, Malaka jatuh ke tangan Portugis. Sultan Mahmud Syah menyingkir ke Ko­pak, kemudian ke Bintan (Riau) dan ke Kampar sampai ia wafat 1529.

Jasa kerajaan Islam Malaka adalah ke­berhasilannya menyusun adat-istiadat ke­rajaan yang disesuaikan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam “Undang-Undang Kerajaan Malaka”. Sampai masa­masa terakhir, adat tata cara ini sebagian­nya masih terpakai pada beberapa keraja­an Melayu.

 

Advertisement