Advertisement

Gowa adalah kerajaan di Sulawesi Se­latan yang menjadi kerajaan Islam pada awal abad ke-17. Pada awal abad ke-16, di Sulawesi sudah terdapat beberapa keraja­an, yang dikenal adalah Gowa, Tallo, Bo­ne, Wajo dan Soppeng. Gowa dan Tallo membuat persekutuan Gowa-Tallo (Maka­sar), sedangkan Bone, Wajo dan Soppeng membuat persekutuan Bugis yang disebut Telumpocco. Menurut catatan Portugis yang berkunjung ke Gowa (1540), di saria sudah terdapat beberapa pendatang mus­lim yang menetap. Sultan Babullah dari Ternate (1570-1583) telah berhasititeng­islamkan penduduk pulau Buton, tetapi Gowa belum mau menerima Islam sebagai­mana ajakan Ternate atau Katolik sebagai­mana ajakan Portugis, sebab Gowa tidak mau berada di bawah pengaruh Ternate maupun Portugis. Kepada pihak Islam di­minta agar dikirim ulama yang alim dari Aceh, dan kepada Portugis diminta agar didatangkan pastur yang lebih tinggi keil­muannya dari Malaka. Oleh Aceh yang waktu itu sultannya adalah Sultan Saidi al-Mukammil, segera dikirim perutusan yang terdiri dari ulama-ulama dari Minang­kabau, yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro dan Datuk Patimang. Akhirnya, yang diterima oleh Gowa adalah Islam pada ma­sa kerajaan itu diperintah oleh Karaeng Motawaya Tumaamenanga ri Agamanna atau Karaeng Tonigallo (1591-1639). Setelah masuk Islam (1603), ia bernama Sul­tan Ala’uddin Awalul Islam, dan setelah meninggal disebut Matifiro Ri Agamanna (yang mangkat dalam memajukan agama­nya). Setelah memeluk Islam, raja ini sa­ngat giat menyiarkan Islam dan sekaligus memperluas wilayah pengaruhnya. Pada masa pemerintahannya, wilayahnya meli­puti sebagian besar Sulawesi dan pulau-pu­lau sekitarnya, bahkan sampai di bagian ti­mur kepulauan Nusa Tenggara. Terkenal sekali panglima kerajaan Gowa waktu itu yang bernama Lokmah Mandalle. Tahun 1616, ia berhasil menaklukkan Bima, dan pada 1618, Karaeng Mattoangin menak­lukkan pula Sumbawa keseluruhannya. Dengan kerajaan Mataram di Jawa, diki­rim utusan persahabatan dan menjalin ker­ja sama dalam rangka menghadapi Belanda (1630). Kunjungan itu dibalas dengan kunjungan pula (1633) oleh Mataram yang waktu itu rajanya adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) di bawah pimpinan Ki Ngabehi Sura Duta. Tentang hubungannya dengan Belanda, se­mula mereka diterima balk oleh Gowa. Hu­bungan itu menjadi sebaliknya, setelah Go­wa mengalami perlakuan yang tidak baik dari Belanda. Tatkala beberapa pembesar Gowa diundang untuk jamuan makan di kapal VOC (Belanda), senjata mereka dilu­cuti. Sebagai pembalasan, 1616, orang­orang Gowa menyerang kapal-kapal Belan­da di Ambon dan menewaskan awak ka­palnya. Tabun 1633, oleh Belanda dicoba untuk melakukan blokade terhadap kota Makasar, tetapi tidak berhasil. Kapal-kapal Makasar yang disebut “penisi” tetap dapat meloloskan diri dari kepungan kapal-kapal VOC, bahkan masih dapat membantu pemberontak Maluku yang menentang monopoli Belanda (1635). Pada 1638, timbul lagi perang antara Gowa dan Belan­da, karena Belanda menyerang kapal Go­wa yang membawa kayu cendana. Akhir­nya perang itu adalah bahwa Gowa ter­paksa harus mengakui monopoli Belanda di Maluku. Meskipun begitu, kapal-kapal Gowa tetap melakukan dagang dengan Maluku, walaupun perdagangannya diang­gap perdagangan gelap: Sementara itu, Sultan Ala’uddin wafat, dan digantikan oleh Sultan Muhammad Said (1639— 1653). Waktu itu, hubungan antara Gowa dan kerajaan-kerajaan tetangganya di Sula­wesi sangat tegang. Gowa menganggap ke­rajaan-kerajaan Bone, Sopeng dan Wajo se­bagai jajahan. Kerajaan Soppeng berontak. Karena kalah kuat, Sopeng tidak dapat bertahan, akibatnya dihukum dengan be-rat sekali. Rajanya ditumbuk di lesung se­perti menumbuk padi sampai mati, anak­nya ditusuk-tusuk juga sampai mati. Cucu rajanya yang bernama Aru Palaka dapat melarikan diri dan bekerja sama dengan Belanda. Dalam pada itu, Sultan Muham mad Said wafat, digantikan oleh Sultan Hasanuddin (1653-1669). Tahun 1655 terjadi pertempuran sengit di perairan Bu-ton. Di situlah Belanda kagum atas kega­gahberanian Hasanuddin, sampai ia men­dapat julukan “Haantjes van het Ooster” (Ayam jago dari Timur). Selanjutnya, per­tempuran antara Belanda dan Gowa terja­di pada 1655 (memperebutkan benteng Laha di Amboina yang memaksa Goa me­ninggalkan benteng tersebut), 1600, per­tempuran yang berakhir dengan kekalahan Gowa dan hams menerima perjanjian 19 Agustus 1660 di Batavia yang sangat me­rugikan Gowa sehingga Sultan Hasanuddin secara sepihak membatalkan perjanjian itu (1665). Tahun 1666-1667 yang terkenal dengan Perang Gowa (perang ini berakhir dengan kekalahan Gowa dan terjadilah perjanjian Bongaya) dan 1668 yang meru­pakan usaha terakhir bagi Sultan Hasanud­din. Setelah ini, patahlah pertahanan Sul­tan Hasanuddin, sehingga kerajaan dise­rahkan kepada putranya, I Mappasomba, 29 Juni 1669, dan pp.da 12 Juni 1670, ayam jantan dari Timur ini wafat dengan meninggalkan Gowa yang tidak berdaulat lagi (Lihat: Hasanuddin, sultan Gowa). Se­telah kekalahan ini, banyak pejuang Gowa yang meninggalkan tanah airnya, di anta­ranya adalah Karaeng Galesong yang ke­mudian bergabung dengan Pangeran Tru­najaya dari Madura untuk melawan Belan­da dalam Perang Trunajaya yang berlang­sung antara 1674-1679.

Advertisement
Advertisement