Advertisement

Kerajaan Banten, merupakan keraja­an Islam di ujung barat Jawa Barat. Pen­dirinya adalah Sunan Gunung Jati (Fata­hillah) setelah berhasil merebut kota pelabuhan itu dari tangan bupati Sunda yang menjadi penguasa kota itu berkat bantuan laskar dari Demak. Peristiwa itu terjadi pada 1525. Setelah kerajaan itu cukup kokoh, lebih-lebih setelah dapat menguasai Sunda Kelapa, pada 1522 Su­nan Gunung Jati pindah ke -Cirebon dan wafat di sana. Untuk penguasa di kerajaan itu, diangkatnya putranya, Hasanuddin, sebagai raja. Ia kawin dengan putri Demak dan mendapat dua orang anak laki-laki. Yang sulung, Maulana Yusuf, dicalonkan untuk menjadi gantinya nanti. Adiknya, Pangeran Aryo, diasuh oleh bibi dari pi­hak ibunya, Ratu Kalinyamat di Jepara yang tidak berputra (mungkin karena sua­minya, Pangeran Hadiri, terlalu cepat ter­bunuh oleh Arya Penangsang). Setelah bibinya meninggal, ia menjadi Adipati di Jepara dan terkenal dengan nama Pange­ran Jepara.

Sultan Hasanuddin dapat meluaskan wilayah kekuasaannya di Lampung dan daerah sekitarnya yang ternyata merupa­kan p_enghasil lada yang besar, suatu komoditi ekspor yang amat penting wak­tu itu. Perdagangan lada ini menjadikan Banten kota pelabuhan yang ramai, dising­gahi kapal-kapal dagang dari Cina, India dan Eropa. Mungkin nama Sum Saji di­berikan kepada kota pelabuhan Banten setelah diperbesar pada masa Hasanuddin ini yang dipimpin oleh seorang penguasa pelabuhan. Banten lama, Banten Girang, letaknya lebih ke arah hulu sungai.

Advertisement

Sultan Hasanuddin wafat pada tahun yang sama dengan ayahnya, 1570, setelah sempat memisahkan diri dan Demak. Da-lam cerita Banten, ia terkenal dengan nama anumerta Pangeran Saba Kingking, sesuai dengan tempat ia dimakamkan, tidak jauh dan Banten. Gantinya, Maulana Yusuf Panembahan Pangkalan Gede, me­merintah antara tahun 1570-1580. Sela­ma masa pemerintahannya, ia mendirikan Mesjid Agung Banten, membuat perben­tengan yang kuat, memperluas perkam­pungan dan pesawahan serta mengusaha­kan irigasi dan bendungan-bendungan. Pada 1579, ia berhasil menaklukkan kera­jaan Pakuan, benteng terakhir pertahanan Hindu di Jawa Barat. Menurut Sejarah Banten, penyerbuan ke Pakuan ini mengi­kut sertakan para penguasa dan alim ula­ma. Raja dan keluarganya menghilang, sedangkan golongan bangsawan Sunda ma­suk Islam. Sesudah selesai menaklukkan Pakuan, Sultan Maulana Yusuf membuat ibu kota baru, Banten Surasowan (Sura Saji).

Tatkala ia sedang sakit menjelang wafat­nya, Pangeran Aryo (Pangeran Jepara) datang ke Banten untuk menggantikan saudaranya (Maulana Yusuf) dengan di­iringkan oleh pengawal bersenjata. Perse­lisihan terjadi sehingga timbul pertempur­an yang berakhir dengan kembalinya Pa­ngeran Aryo ke Jepara. Setelah Maulana Yusuf wafat dalam usia muda, diangkatlah putranya, Maulana Muhammad yang baru berusia 9 tahun sebagai ganti ayahnya dengan gelar Kanjeng Ratu Banten, dan memerintah antara 1580-1596. Karena masih anak-anak, ia didampingi oleh Mangkubumi yang bertindak sebagai wali­nya. Mungkin karena kemudaannya, tidak hanya kena pengaruh walinya, tetapi juga ia terpengaruh oleh adipati Demak yang mengungsi ke Banten, Pangeran Mas kare­na kekalahannya melawan Mataram. Ia yang lebih tua sedikit dari Maulana Mu­hammad, membujuk saudaranya itu untuk melakukan ekspedisi ke Palembang. Wak­tu melakukan pengepungan terhadap kota itu, Maulana Muhammad yang masih mu­da itu (25 tahun) gugur, dan hal itu terjadi pada 1596. Putranya yang baru berusia 5 bulan, Abulmufakhir Mahmud Abdulkadir, diangkat sebagai gantinya de­ngan Jayanegara yang bertindak sebagai walinya. Pada 22 Juni 1596, Cornelis de Houtman dalam pelayaran pertamanya melabuhkan 4 buah kapal Belanda di Ban-ten.

Mangkubumi Jayanegara wafat 1602 (tahun berdirinya VOC), digantikan oleh ayah tiri Sultan yang ternyata lemah dan terbunuh 1608. Mangkubumi selanjutnya adalah Ranamenggala yang berusaha mem­pertahankan integritas Banten dan rong­rongan Belanda. Belanda mengalihkan per­hatian ke Jayakarta yang dipimpin oleh Pangeran Wijayakarma. Karena ingin Jaya­karta maju, ia membolehkan Belanda membangun loji, tetapi juga memboleh­kan Inggris untuk hal yang sama. Timbul perselisihan, dan sementara itu, Rana­menggala tidak senang atas prakarsa Wija­yakarma tanpa seizin Banten. Timbul ke melut yang akibatnya Y.P. Coen yang sudah jadi Gubernur Jenderal minta ban­tuan ke Maluku, dan Wijayakrama dipecat oleh Banten. Tahun 1619, Coen kembali dari Maluku dan berhasil merebut Jaya­karta yang kemudian namanya diganti menjadi “Batavia”.

Sultan Abulmufakkhir digantikan oleh putranya Abdul Maali Rahmatullah yang keduanya lemah. Banten bangkit kembali ketika Sultan Abul Fatah Abdul Fattah yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa (1651-1680). Pertanian dan perdagangan maju, demiki­an pula agama Islam. Ulama-ulama besar didatangkan termasuk Syekh Yusuf dari Sulawesi yang kemudian diambil menantu. Surat-menyurat dan utus-mengutus dila­kukan sampai ke kerajaan Mugal, Turki dan Syarif di Mekah. Tahun 1661, putra­nya, Pangeran Ratu, diangkat menjadi raja kedua dengan gelar Sultan Abunnasar Ab- dulkahar dan terkenal dengan sebutan Sultan Haji. Ketika terjadi perselisihan an­tara ayah dengan anak ini, si anak minta bantuan VOC. Sultan yang sudah tua itu ditawan di dalam benteng Batavia dan wa­fat 1695. Sejak itu, kedaulatan Banten dapat dikatakan hilang, tunduk kepada kemauan Belanda.

Advertisement