Advertisement

Atau tupai bruyuk, adalah kelompok binatang mamalia yang mirip bangsa Primata dan Insekti- vora atau di antara keduanya, namun sebenarnya tidak tergolong keduanya. Binatang ini dikelompokkan dalam bangsa tersendiri, yaitu Scandentia.

Bentuk tubuh tupai bruyuk mirip bajing. Namun, secara anatomi dan tingkah laku, kedua binatang ini berbeda. Tupai bruyuk mempunyai moncong panjang dan tanpa misai; sedangkan ekornya gundul, kecuali bagian ujungnya yang berambut seperti bulu ayam. Kulit tupai mempunyai kelenjar yang berbau asam amoniak dan berasa pahit. Jika dimakan, dagingnya berasa pahit. Biasanya, rambut tubuhnya lembut seperti wol. Warna punggungnya cokelat zaitun dengan bagian perut putih berbaur merah, sehingga seperti kelihatan beruban merah. Ekornya panjang dengan bagian atas berwarna lebih gelap daripada bagian punggung; sedangkan bagian bawah ekornya kemerahan. Tupai bruyuk mirip tupai moncong kecil (Tupaia minor); bedanya ujung ekor tupai bruyuk berambut lebih lebat. Puting susunya empat buah. Panjang tubuh tupai dewasa 13,5-16,5 sentimeter dengan panjang ekor 115- 135 persen dari panjang tubuh. Panjang telapak kaki belakangnya 3,7-4,3 sentimeter dengan jari kaki tampak panjang, bercakar tajam, dan kelihatan agak melengkung. Hidupnya di pohon pada hutan primer atau hutan sekunder sampai ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.

Advertisement

Tupai bruyuk mempunyai tiga anak jenis dengan daerah penyebaran yang berbeda-beda, yaitu Tupaia gracilis gracilis di Kalimantan dan Pulau Banggai; T. g. inflata di Bangka dan Belitung; dan T. g. edarata di Kepulauan Karimata.

Advertisement