Advertisement

Kebudayaan Islam. Islam datang se­bagai petunjuk hidup manusia. Dalam hal ini Nabi Muhammad telah diberi tuntunan wahyu berupa al-Quran. Dalam praktek kehidupan yang terus berkembang Nabi tentu dihadapkan kepada berbagai masa­lah yang memerlukan penyelesaian lang­sung. Karena hubungan Nabi yang dekat dengan Allah is juga diberi wewenang un­tuk memformulasikan petunjuk dalam al­Quran dan lainnya guna disampaikan ke­pada umat manusia. Dalam istilah keaga­maan ajaran yang bersumber pada Nabi di­kenal sebagai sunnah atau hadis. Kedua sumber ajaran Islam tersebut akhirnya menjadi paradigma dalam segala urusan keagamaan orang Islam. Idealnya segala sikap, tin dakan dan visi haruslah berorien­tasikan dua sumber itu. Namitn perjalanan hidup umat Islam membuktikan adanya kesenjangan antara ideal ajaran dan prak­tek sejarah. Hasil pergumulan umat Islam untuk merealisir pokok-pokok ajaran da­lam kehidupan nyata berbagai ke­lompok telah menghasilkan sebuah kebu­dayaan yang tak berlebihan kalau disebut Kebudayaan Islam.

Sentralitas tauhid dalam ajaran Islam mempunyai dampak langsung dalam corak dan pola kebudayaan Islam. Keesaan Allah sebagai suatu fokus kehidupan ma­nusia muslim telah’mewarnai hampir sega­la aspek kehidupan dunia Islam. Tugas manusia yang berfokus kepada tauhid ber­cermin dalam keyakinan perlunya diapli­kasikan ajaran Islam dalam segala dimensi kehidupan. Keyakinan ini telah menghasil­kan berbagai pemikiran dan karya baik da­lam hukum maupun teologi. Walaupun ti­dak semua tulisan dalam bidang ini adalah hasil dari pengamatan empirik para pakar, namun karya mereka juga merupakan ku­mulasi dan kombinasi antara pernikiran dan pengalaman kehidupan beragama dan bermasyarakat. Kalau hasil pemikiran orang Islam yang berdasarkan ajaran kitab dan sunnah mencerminkan budaya berpi­kir, maka praktek kehidupan mereka seba­gai realisasi ajaran Islam akan memperli­hatkan versi kehidupan yang berbau Is­lam, baik dalam wahana kenegaraan, ke­masyarakatan, arsitektur, kesenian, perko­taan, ekonomi dan sebagainya.

Advertisement

Kepemimpinan Nabi selalu mcrangsang berbagai pihak untuk dijadikan model ke­pemimpinan umat. Tentunya kepercayaan akan pentingnya mempertahankan sebuah komunitas yang mentaati ajaran Islam te­lah mendorong dipertahankannya konsep pemerintahan yang sentralis. Ide bahwa orang-orang Islam adalah anggota sebuah kelompok yang bersatu menghendaki se­orang pemimpin yang berperan hampir se­perti contoh Nabi. Berlakunya konsep khalifah untuk berabad-abad jelas merupa­kan inovasi politik Islam yang diwarnai model ciptaan Nabi dan juga seruan al­Quran. Di samping itu semakin luasnya wilayah kekhalifahan dan beragamnya ke­lompok dan bangsa yang bemaimg di ba­wah panji-panji khalifah juga merangsang munculnya berbagai konsep ketatanegara­an, seperti sultan, wazir, polisi dan lain-lain. Diterimanya konsep-konsep politik ini dalam .kehidupan orang Islam telah menunjukkan penyerapan Islam dan ta­tanan lokal secara timbal balik., Inilah se­buah raut muka dari kebudayaan Islam yang telah memperkaya khazanah intelek­tual dan praktis bagi umat manusia.

Dalam bidang tata hidup, arsitektur, perkotaan, ilmu pengetahuan, perniagaan dan produksi, Islam telah menyumbang­kan andil yang tidak sedikit bagi kehidup­an modern. Ajaran Islam yang menekan­kan persamaan dan keadilan sebagai eks­presi dan realisasi dari doktrin tauhid me­lahirkan sistem sosial Islam yang unik. Da-lam perjalanannya yang panjang konsep tersebut tentunya telah dihadapkan kepa­da tatanan ketnasyarakatan yang berlaku pada berbagai kelompok yang menerima Islam. Proses demokratisasi kemasyarakat­an yang dicetuskan Islam berpengaruh be­sar dalam partisipasi yang tinggi dari ber­bagai kelompok yang hidup di bawah sis­tern yang Islami. Walaupun terjadi kon­flik-konflik sosial di antara berbagai unsur dalam masyarakat Islam, ternyata identifi­kasi terhadap Islam dan tatanan yang di­kemukakan telah menjadi faktor penting dalam penataan hubungan hidup dari ber­bagai kelompok. Susunan masyarakat Is­lam yang multiras tersebut di samping memperkaya corak estetik tetapi juga me­nunjukkan citra yang menyatu dan ber­sentuhan. Umpamanya, arsitektur Islam yang dibangun para khalifah, sultan, ula­ma, dan masyarakat secara umum meng­gambarkan tingkat dan rasa seni yang ber­beda, kendati terdapat kesatuan ungkapan yang dapat disebut arsitektur dan seni Is­lam. Hal ini terlihat jelas bagaimana mes­jid tern pat beribadat dibangun begitu me­gah dan bervariasi tetapi mempertahankan ciri sentral, tempat beribadat kepada Allah yang Esa.

 

Advertisement