Advertisement

Kalabazi, lcngkapnya Abu Bakar Mu­hammad bin Ibrahim al-Kalabazi adalah seorang ulama dari negeri Kalabaz, terma­suk dalam kawasan Bukhara (di Asia Te­ngah). Ia hidup pada abad ke-1.0 (4 H). Tahun kelahirannya tidak diketahui, tapi tahun wafatnya tercatat (989/380 H). Ia seorang ulama yang tergolong banyak menghafal hadis, bermazhab Hanafi dalam lapangan fikih, dan menjalani kehidupan sebagai sufi.

Karyatulisnya ada beberapa buah, di antaranya adalah: at-Ta’arruf li Ma2ahib Ahl at-Tasawwuf (Berkenalan dengan Mazhab-Mazhab dalam Tasawuf), al-A r-Fern Jr ad-Din, al-Asyfa` wa al-Awterr,

Advertisement

mcil fi al-Hadrs, dan lain-lain. Dari semua karyatulisnya, kitab yang pertama (at­Ta ‘arruf) dinilai para ahli amat berharga, dan kemasyhurannya, baik ‘di kalangan orang-orang tasawuf maupun di kalangan para peneliti (sarjana), terletak pada kitab­nya yang pertama itu..Kitab ini tercatat sebagai salah satu dari sumber-sumber ter­tua yang dapat diterima secara luas dalam lapangan tasawuf. Konon Kalabazi juga menulis komentar atas beberapa bagian dari kitab at-Ta’arruf, agar bagian-bagian itu dapat dipahami orang lebih terang.

Dari kandungan kitab at-Ta ‘arruf, orang dapat melihat bahwa Kalabazi termasuk ulama yang berupaya untuk menunjukkan bahwa tasawuf haruslah berawal dari ke­mantapan diri dalam akidah yang benar dan pengamalan ajaran syariat yang berda­sar pada al-Quran dan Sunnah Nabi. Keta­ huilah, katanya, bahwa pengetahuan orang-orang tasawuf adalah pengetahuan tentang ahwal (tunggalnya: hal) dan ahwal itu merupakan keadaan-keadaan yang di­wariskan oleh amal perbuatan. Ia tidak akan bisa didapat, kecuali oleh orang yang menunaikan amal perbuatan dengan be­nar.

Sebagai langkah awal untuk membetul­kan amal perbuatan, orang haruslah lebih dulu mematangkan pemahamannya dalam lapangan ilmu tauhid (ilmu akidah). Sete­lah itu, menurut Kalabazi, ia haruslah me­nuntut pengetahuan tentang amal per­buatan, seperti yang diajarkan dalam fikih dan usul fikih. Ia hams mengetahui de­ngan baik hukum-hukum syariat mengenai ibadat, seperti salat, puasa, dan kewajiban­kewajiban lain, serta mengenai muamalat, seperti perkawinan, jual beli, dan masalah kehidupan lainnya. Setelah mengetahui dan mengamalkan dengan baik apa yang diajarkan dalam ilmu tauhid, fikih, clan usul fikih, barulah ia berupaya mengeta­hui hal ihwal jiwa, melatih dan membina­nya sedemikian rupa, sehingga ia dapat mengatasi berbagai kelemahan pada jiwa­nya dan tantangan terhadapnya.

Pengetahuan tentang jiwa itu, menurut Kalabazi, disebut juga pengetahuan ten-tang hikmah. Bila jiwa telah lurus (konsis­ten) dalam menunaikan kewajiban, sudah baik tabiatnya, dan sudah beradab dengan adab-adab Allah, maka akan mudah bagi­nya untuk bersikap zuhud atau berpaling dari bujuk-rayu dunia. Dan sini, katanya, orang dapat meningkat terus untuk men­dapatkan pengetahuan tentang makrifat (pengetahuan untuk mencapai makrifat), yang disebut juga dengan pengetahuan tentang musyrthadat (penyaksian mata ba­tin), mukrzsyafat (penyingkapan tirai penghalang dari hati), atau pengetahuan isylfrat. Pengetahuan inilah yang ingin di­capai oleh orang-orang tasawuf.

Kalabazi, sesuai dengan jalan pikiran­nya di atas, tidak lupa dalam bukunya, at­Ta’arruf itu, membicarakan lebih dulu aki­dah-akidah yang dianut oleh orang-orang tasawuf, seperti akidah tentang Tuhan (keesaan, sifat-sifat, dan nama-nama-Nya), tentang al-Quran dan kalam Tuhan, tentang melihat Tuhan, tentang Nabi melihat Tuhan pada malam mikraj, tentang kadar, jabar, perbuatan manusia, al-aslah (yang terbaik) yang diperbuat oleh Tuhan, janji dan ancaman-Nya, syafaat, ruh dan ma­laikat, dan tentang para nabi/rasul dan ke­ramat para wali. Uraian Kalabazi tentang masalah-masalah akidah tersebut cukup menarik, padat, dan tidak berbelit. Infor­masinya tentang akidah orang-orang tasa­wuf, yang digambarkan tidak lain dari aki­dah kaum Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak kurang harganya bagi para pengkaji bidang akidah dalam Islam.

Setelah selesai membicarakan persoalan akidah, baru Kalabazi membicarakan isti­lah-istilah yang berkembang dalam lapang­an tasawuf, mulai dari istilah tobat, zu­hud, sabar, fakar, tawadu, takut, takwa, ikhlas, syukur, tawakal, rida, yakin, zikir, sampai kepada istilah-istilah yang mengan­dung ide-ide, yang perlu dijelaskan dengan penuh hati-hati, seperti ittisal (komunika­si), mabuk, fana, baka, dan lain sebagai­nya.

Mengenai ittisal misalnya, ia menulis bahwa maqam ittisal (berhubungan atau komunikasi) adalah putusnya hubungan sirr (hati) seseorang dengan apa saja selain Allah. Karena itu tak ada yang dilihat oleh hatinya kecuali Dia, dan tidak ada yang didengarnya kecuali suara dari Tuhan. Itti­sal baginya tidak lain dari penyaksian hati atau terbukanya mata hati kepada Tuhan, atau wujud gaib lainnya.

Advertisement