Advertisement

K.H.M. Bisri Syansuri dilahirkan pada tanggal 18 September 1886 (28 Zul­hijjah 1304 H) di Tayu, Pati, Jawa Tengah. Ayahnya, Syansuri bin Abdusshamad, ber­asal dari keluarga saudagar; sedangkan ibu­nya, Mariah, berasal dari keluarga ulama. Pada usia 7 tahun, ia mulai belajar agama kepada Kiai Shaleh di Tayu. Kemudian, ia belajar kepada Kiai Abdus-Salam, salah se­orang keluarga dekatnya dan pengasuh pe­santren di Kajen (sekitar 8 kilometer dari Tayu). Sebelum belajar kepada Kiai Khalil

di Bangkalan, Madura, pada usia 15 tahun ia belajar kepada dua ulama yang cukup terkenal di pesisir Utara Jawa: Kiai Khalil Kasingan dan Kiai Syueb. Ketika berusia sekitar 20 tahun, 1906, ia pindah dari Ma­dura ke pesantren Tebuireng di bawah asuhan Kiai Hasyim. Di pesantren ini ia belajar 6 tahun, dan antara 1911-1914 ia belajar di Mekah. Di sana ia berkawan de­kat dengan Kiai Wahab Hasbullah, yang kemudian ketika masih di Mekah menjadi kakak iparnya.

Advertisement

Sekembalinya dari Mekah, selama dua tahun ia mengajar di pesantren Tambak­beras. Setahun b,erikutnya, 1917, ia men­dirikan pesantren di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, tidak jauh dari Tambakberas. Ketika NU didirikan pada 1926 ia terma­suk salah seorang pendirinya. Selain mena­ngani lembaga pendidikannya dan aktif di organisasi, baik NU maupun Masyumi, ia pun banyak terlibat dalam gerakan mela­wan Belanda. Bahkan, untuk menggerak­kan massa, pada Oktober 1945 pun ia mengemukakan fatwa untuk berjihad me­nentang Belanda: fatwa yang sama pernah dikemukakan oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Setelah masa kemerdekaan, pada 1946 ia mulai terlibat dalam bidang pemerintahan. Mulanya ia menjadi anggota Komite Na­sional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi. Kemudian, berdasarkan hasil Pemilihan Umum 1955 ia menjadi anggota Dewan Konstituante mewakili NU, yang telah menjadi anggota sosial politik (par-tai) pada 1952.

Keterlibatan Kiai Bisri dalam bidang politik lebih meningkat sejak permulaan masa Orde Baru, 1966. Karenanya, dalam pemilihan Umum 1971, ia terpilih men­jadi anggota DPR pusat. Tahun yang sama, ketika K.H. Wahab Hasbullah wafat pada 1971, ia menggantikannya sebagai Rais Am (Ketua Umum) Nandlatul Ula­ma. Dengan demikian, perhatiannya sema­kin tercurah kepada masalah-masalah ke­organisasian dan politik ketimbang terha­dap lembaga pendidikannya, pesantren Denanyar. Dalam Pemilihan Umum 1977, ia terpilih kembali sebagai anggota DPR pusat. Sampai akhir hayatnya, 1980 (1400 H). ia menjadi tokoh utama dalam menyuarakan pandangan-pandangan poli­tik NU. Sebagai salah seorang pendiri NU, Kiai Bisri merupakan tokoh utarna ketiga — setelah K.H. Hasyim Asrari dan K.H. Wahab Hasbullah — dalam kepemimpinan NU, yang masa jabatannya (sebagai Rais AM) berakhir pada masa akhir hayatnya.

Advertisement