Advertisement

K.H. Ahmad Dahlan, dilahirkan pada 1869 di Yogyakarta dengan nama Darwis. Ayahnya, Kiai Haji Abubakar bin Kiai Su­laiman, seorang khatib tetap di mesjid Sul­tan di kota tersebut. Ibunya adalah anak seorang penghulu. Haji Ibrahim. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di madrasah, di Yogyakarta, ia berangkat ke Mekah untuk pertama kali pada 1890. Se­lama setahun ia belajar di sana. Salah se­orang gurunya adalah Syekh Ahmad Kha­tib, seorang pembaharu dari Minangkabau, Sumatra Barat, Sekitar tiga tahun kemu­dian, 1903, untuk kedua kalinya, ia ber­kunjung kembali ke Mekah. Kali ini ia me­netap lebih lama, dua tahun.

Semangat dan cita-cita pembaharuan­nya telah tertanam sejak kembali dari Me­kah .pada kunjungannya yang pertama. Ia memperkenalkan cita-citanya mulai dari pembetulan posisi kiblat, arah orang ber­sembahyang. Sebelumnya, kiblat tersebut mengarah lurus ke Barat. Kemudian, ia mengorganisasi kawan-kawannya di dae­rah Kauman untuk melakukan kerja sosial dalam memperbaiki kesehatan lingkungan, seperti membersihkan jalan dan parit.

Advertisement

Dilihat dari kondisi kehidupan keber­againaan umat Islam sekarang, apa yang dilakukan Ahmad Dahlan dalam memper­kenalkan semangat pembaharuannya rela­tif cukup sederhana. Namun, dilihat dari kondisi kehidupan keberagamaan umat waktu itu, pembetulan posisi kiblat ke arah Ka`bah dan mengajak masyarakat menyadari linglcungan sehat, merupakan kerja mendasar. Terbukti, ia mendapat tantangan keras dalam mengupayakan pembetulan posisi kiblat mesjid Sultan di Yogyakarta. Karena tantangan tersebut, akhirnya ia gagal. Adapun dalam masalah kesehatan, menurut Ahmad Dahlan kesa­daran umat baru sampai kepada taraf teo­ritis. Karenanya, agar kesadaran terhadap kesehatan lingkungan menjadi suatu sikap hidup perlu digalakkan. Inilah gagasan awal dari semangat dan ci.ta-cita pembaha­ruannya.

Kegagalannya dalam membetulkan po­sisi kiblat mesjid Sultan, menyebabkan ia berusaha membangun langgarnya sendiri dengan letak kiblat yang tepat. Namun, kali ini pun ia m.endapat tantangan keras dari penghulu, Kiai Haji Mohammad Halil, yang memerintahkan untuk menghancur­kan langgar tersebut. Karena.begitu kece­wa, ia memutuskan, untuk meninggalkan kota kelahirannya. Untuk mengobati ke­kecewaan dan menghalangi keputusannya, seorang keluarganya mernbangunkan se­buah langgar untuknya denga.n jaminan bahwa Dahlan boleh me.ngajarkan dan mempraktekkan ajaran agama sesuai de­ngan keyakinannya. Berselang beberapa lama, Dahlan menggantikan ayahnya seba­gai khatib tetap di mesjid .Sultan. Sejak itu, Ahmad Dahlan.telah diakui sebagai se­orang ulama oleh. kiai=kiai lain. Karena ke­jujuran dan kesungguhannya dalam beker­ja, ia memperoleh sebutan ketib amin, khatib yang dipercaya.

Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat te­robosan dan strategi dakwah; ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya. Lebih dari itu, karena anggo­ta-anggota Budi Utomo pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah dan kantor­kantor pemerintah, Ahmad Dahlan berha­rap dapat mengajarkan pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah. Rupanya, pe­lajaran dan cara mengajar agama yang di­berikan Ahmad Dahlan dapat diterima balic oleh anggota-anggota Budi Utomo. Terbukti, mereka menyarankan agar Ah­mad Dahlan membuka sendiri sekolah se­cara terpisah. Sekolah tersebut hendaknya didukung oleh suatu organisasi yang bersi­fat permanen. Melalui organisasi tersebut, selain sistem pengajaran dapat diatur de­mikian rupa, juga lebih dapat terhindar dari kebangkrutan manakala pendirinya telah meninggal, sebagaimana sistem pe­santren tradisional ketika kiainya telah wafat.

Alchirnya,, . pada 18 Nopember 1912, Kiai Haji.Ahmad Dahlan mendirikan orga­nisasi Muhammadiyah di Yogyakarta. Su­dah barang teritu Kiai Haji.Ahmad Dahlan tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh kawan-kawannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, Haji Ta­mim, Haji. Hisyam, Haji Syarkawi, dan Ha­ji Abdulgant Sedangkan anggota-anggota Budi Utomo yang paling keras mendu­ktuig untuk segera didirikan sekolah aga­ma yang bersifat modern adalah Mas Ra­syidi, siswa Kweekschool di Yogyakarta, dan R. Sosrosugondo seorang guru di se­kolah tersebut. Sekitar sebelas tahun ke­mudian setelah organisasi Muhammadiyah didirikan, Kiai Haji Ahmad Dahlan me­ninggal dunia pada 23 Februari 1923.

Advertisement