Advertisement

Juwaini lengkapnya Abu al-Ma’ali Ab­dul-Malik bin Abdillah al-Juwaini adalah ulama terkemuka yang hidup di Khurasan, Iran, pada abad ke-11 (5 H). Ia lahir di desa Pasytinqar, yang terletak di pinggir kota Naisapur, Khurasan, pada 1029 (419 H), dan wafat juga di desa yang sa­ma pada 1086 (478 H). Gelarnya, al-Juwai­ni, adalah gelar warisan dari ayahnya, yang lahir dan bermukim beberapa lama di desa Juwain (dekat dengan Naisapur). Ia juga bergelar Imam al-Haramain (Imam dua Kota Suci), karena pernah bermukim dan mengajar selama 4 tahun (1056­1060/447-451 H) di Mekah dan Madi­nah.

Juwaini memiliki otak yang cemerlang. Pada masa muda ia sudah berhasil mewa­risi ilmu ayahnya, Abdullah al-Juwaini, seorang ulama juga, yang memimpin se­buah madrasah di Naisapur. Ketika ayah­nya wafat pada 1047 (438 H), ia segera bisa mengajar, menggantikan posisi ayah­nya. Walaupun demikian, ia masih belum pugs dengan kedalaman atau keluasan il­munya. Di samping mengajar di madrasah tersebut, ia juga menyisihkan waktunya untuk berguru pada Abu al-Qasim al­Isfaraini (w. 1061/452 H), ulama Syafi`i Asy`ari yang menguasai fikih dan ilmu kalam; Abdullah al-Baihaqi (w. 1067/ 458 H), seorang fakih Syafi`i; dan Abu Abdillah al-Khubazi (w. 1058/449 H), ahli qiraat terkemuka.

Advertisement

Ketika memuncak pertentangan antara kaum Syi`ah dengan kaum Sunni di Khu­rasan pada 1050-an (440-an H), dan kaum Sunni semakin mendapat tekanan berat dari pihak penguasa (Wazir al-Kindi yang berpihak kepada Syi`ah/Mulazilah), Ju­waini hijrah ke Bagdad, dan kemudian bermukim selama empat tahun di al-Hara­main (Mekah dan Madinah). Setelah ke­kuasaan dipegang oleh Wazir Nizam al­Muluk, yang berpihak kepada kaum Sunni (baik al-Kindi maupun penggantinya, Ni­zam al-Muluk, adalah wazir dari Daulat Bani Saljuk), dan Khurasan tidak lagi berbahaya bagi kaum Sunni itu, Juwaini pu­lang kembali ke Naisapur pada 1060 (451 H). Ia dipercaya sebagai pimpinan se­kaligus pengajar pada Madrasah Nizami­yah yang baru didirikan di kota tersebut. Ia semakin termasyhur sebagai ulama ter­kemuka, yang dalam teologi menjadi pa­nutan bagi kaum Asrariyah dan dalam la­pangan fikih  menjadi panutan bagi mereka yang beimazhab Syafil. Di antara murid­nya yang kemudian juga menjadi ulama besar adalah Imam Abu Hamid al-Gazali (w. 1111/505 H).

Jumlah karyatulis Juwaini cukup ba­nyak, sepuluh judul dalam lapangan teolo­gi, lima judul dalam usul-fikih, delapan ju­dul dalam lapangan fikih, satu judul ten-tang jiwa, satu judul tentang perdebatan (jadal), dan dua judul lagi tentang lain-lain. Kebanyakan karyatulisnya masih ber­bentuk manuskrip. Yang sudah diedit dan diterbitkan antara lain adalah asy-Syernil fi Usul ad-Din (buku teologi),al-Irsyc7d ire Qawdti` al-Adillat fi Usti’ ad-Din (buku teologi), dan Luma` al-Adillat fi Qawald `Aq.rid Ahl as-Sunnat wa al-Jamrat. Be­berapa ahli yang meneliti karyatulisnya, berkesimpulan bahwa Juwani selain me­nguasai teologi, usul-fikih, dan fikih, juga mengerti kajian falsafat. Tampaknya ia juga menelaah sendiri buku-buku falsafat, yang sudah cukup banyak tersedia pada masa hidupnya di Naisapur.

Sebagai ulama besar, Juwaini telah memberikan sumbangan yang besar bagi kukuhnya teologi Asrariyah. Sebagaima­na pendahulunya, Baqillani, ia memperje­las ajaran-ajaranAsrariyah melalui karya­karyatulisnya. Walau begitu, berdasarkan informasi dari Syahristani, ia mempunyai pendapat yang berbeda dengan Imam Asrari, berkenaan dengan masalah per­buatan manusia. Daya yang ada pada ma­nusia dalam pendapatnya, menurut infor­masi Syahristani itu, mempunyai efek, se­perti yang terdapat antara sebab dan aki­bat. Wujud perbuatan tergantung pada da­ya yang ada pada manusia, wujud daya ini bergantung pula pada sebab lain, dan wu­jud sebab ini bergantung pula pada sebab lain lagi, dan demikianlah seterus­nya sehingga sampai kepada sebab dari se- gala sebab, yaitu Tuhan. Bila informasi Syahristani tentang pendapat Juwaini ini benar, berarti ia telah mendekat kepada ajaran Mu`tazilah (tentang perbuatan ma­nusia) melalui jalan yang berbelok-belok, hanya saja perlu dicatat bahwa pendapat­nya, dalam karyanya (Lume al-Adillat), masih sulit dipahami, karena terasa kon­troversil. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki daya, tidak dipaksa oleh Tuhan, tapi dayanya itu tidak berpengaruh (tidak efektif) bagi terwujudnya suatu perbuatan (seperti pendapat Imam Asrari).

Berkenaan dengan ayat-ayat Quran yang berbicara tentang tangan-, mata-, wajah-, dan arasy-Tuhan, Juwaini merasa perlu mentakwilkannya seperti yang dila­kukan oleh para teolog Mulazilah. Ia mentakwilkan tangan Tuhan dengan ke­kuasaan-Nya, mats Tuhan dengan pengli­hatan-Nya, wajah Tuhan dengan wujud­Nya, dan keadaan Tuhan duduk di atas arasy dengan keadaan-Nya berkuasa dan Maha Tinggi.

Juwaini juga mempunyai pendapat bah­wa seseorang muslim wajib mengadakan penyelidikan dengan akalnya agar ia dapat sampai kepada pengetahuan bahwa alam semesta ini baharu. Dengan mengetahui dan meyakini kebaharuan alam, ia akan tahu dan yakin bahwa pastilah ada zat yang menciptakannya dan itulah Tuhan. Kewajiban mengadakan penyelidikan de­ngan akal itu bagi Juwaini bukanlah kewa­jiban akli (kewajiban yang ditetapkan me­lalui akal), tapi kewajiban syari (syara yang menetapkan kewajiban tersebut). Bagi Juwaini, sebagai tokoh Asrariyah, tak ada kewajiban apa pun atas manusia, bila syara (wahyu) tidak turun dan Tuhan.

Advertisement