Advertisement

Islam di Sisilia, selama abad ke-9 sampai ke-11 Sisilia, sebuah pulau di ujung se­latan Italia, telah diperintah oleh pengua­sa-penguasa muslim. Sisilia yang luasnya 25.711 km2 terbagi menjadi 3 wilayah: Val di Mazara, Val di Noto, dan Val di Demone. Sebelum orang Islam menapak­kan kekuasaan di Sisilia, pulau tersebut te­lah dikuasai raja-raja Yunani, Romawi dan Bizantium secara bergantian. Di samping lokasinya yang strategis di Laut Tengah Sisilia memiliki kawasan pertanian yang subur; karenanya tak mengherankan apa­bila pulau itu telah diperebutkan kekuatan-kekuatan besar di Laut Tengah, terma­suk penguasa muslim.

Perhatian para penguasa muslim ke atas Sisilia telah bermula sejak masa ekspansi besar-besaran di akhir abad pertama Hij­riah. Kalau di kawasan daratan pasukan Islam cepat beradaptasi dan bermukim, ti­dak demikian dengan pola penguasa atas pulau-pulau di Laut Tengah seperti Siprus, Rhodus, Sardinia. Kreta, dan Sisilia. Pu­lau-pulau ini kebanyakan telah dijadikan basis penyerangan serta sumber rampasan dan tawanan. kendati hubungan perda­gangan juga telah turn buh. Di samping itu kekuatan dan interes kerajaan Bizantium di Sisilia telah menyulitkan pasukan Islam untuk mendudukinya. Tetapi setelah gu­bernur Abbasiyah yang otonom di Afrika Utara, Bani Aglab. semakin kuat posisinya serta perlu mencari kawasan baru maka pulau-pulau di Laut Tengah, khususnya Sisilia, dijadikan tujuan ekspansi. Apalagi pasukan Aglabi di bawah Ziyadatullah (817 838/202-223 H) menjumpai casus belli yang tepat akibat permintaan bantu­an oleh seorang komandan tentara Bizan­tium di Sisilia bernama Euphemius untuk menyerang kekuatan Bizantium di sana. Pada 827 (212 H) Ziyadatullah memerin­tahkan orang kepercayaannya Asad bin al­Furat untuk melaksanakan penyerbuan. Ekspedisi yang berlangsung selama dua ta­hun dan memakan korban dua komandan tersebut mampu menguasai dua kota kecil Mazara di barat dan Mineo di timur. Pada 831 (216 H) Palermo pun dapat dikuasai sehingga pasukan Aglabi terus dapat me­ngokohkan kedudukannya di Sisilia, ter­utama di bagian barat (Val di Mazara). Te­tapi ibukotanya sendiri, Castrogiovanni (dulunya Syracuse) baru dapat diduduki pada 859 (245 H). Kegembiraan pasukan Aglabi ini juga ditandai dengan pengiriman rampasan perang kepada khalifah di Bag­dad, al-Mutawakkil (w. 861/347 H). Pada 902 (289 H) pulau Sisilia berhasil secara penuh dikuasai, tiga perempat abad sete­lah ekspidisi pertama mereka.

Advertisement

Kekuasaan Bani Aglab di Sisilia tidak bertahan lama. Ditabalkannya al-Mandi pada 909 (296 H) sebagai khalifah Fatimi berakibat negatif langsung terhadap ke­ kuasaan Bani Aglab termasuk Sisilia. Ke­kuasaan Fatimi di Sisilia bermula dengan munculnya gerakan lokal yang mengatas­namakan khalifah Fatimi. Kemudian baru­lah khalifah menunjuk wakilnya sendiri pada 910 (297 H). Selama dasawarsa ke­dua abad ke-10, terjadi perebutan kekua­saan antara pendukung al-Mandi dan ke­kuatan lokal lainnya yang pro-Abbasi. Akhirnya, kekuatan Fatimiyah yang ber­jaya menguasai keadaan. Kendati masih sering terjadi pemberontakan tetapi ke­kuasaan Fatimiyah tetap kokoh sampai di­kirimkannya seorang gubernur, Hasan bin Ali al-Kalbi pada 947 (335 H) ke Sisilia. Selama ini ekspidisi-ekspidisi juga dilan­carkan ke berbagai kota pantai di Italia.

Kegubernuran Hasan di Sisilia akhirnya membidani munculnya kekuasaan dinasti Kalbi yang otonom. Gejala terpenting da­lam perkembangan ini adalah berpindah­nya pusat pemerintahan dan okupasi Fati­mi ke Kairo pada 972 (361 H). Selanjut­nya dinasti Kalbi memerintah Sisilia seca­ra otonom walau tetap mempertahankan loyalitas terhadap khalifah Fatimi. Seba­gai imbalan para penguasa Kalbi memper­oleh berbagai gelar kehormatan dari khali­fah seperti Tiqat ad-Daulah dan Ta`yid ad­Daulah. Selama berkuasa di Sisilia, dinasti Kalbi aktif mengadakan ekspidisi ke wila­yah-wilayah kekuasaan Bizantium dan lainnya di Italia. Bahkan pada 1034 (426 H) seorang penguasa Kalbi, al-Akhal men­dapatkan gelar kehormatan magistros dan emperor Bizantium (Michael IV). Bagai­manapun sejak 1040 (432 H) para pengua­sa Kalbi gagal menekan pemberontakan lokal, sehingga muncul sejumlah penguasa muslim yang saling bermusuhan.

Selama dasawarsa 1050-an perebutan kekuasaan di Sisilia berpuncak dengan permusuhan antara Ibnu Hawwas dan Ib nu as-Sumnah; sedangkan dinasti Kalbi sendiri telah tersingkir. Dalam upaya me­mastikan kemenangan buat dirinya, Ibnu as-Sumnah meminta bantuan kelompok Norman yang sedang meluaskan kekuasa­an di Italia Selatan. Sejak 1060 (453 H) mulailah serangan-serangan Norman ke Si­silia. Tetapi rupanya orang Norman mem­punyai rencana tertentu; apalagi pada 1062 (455 H) Ibnu as-Sumnah terbunuh. Penaklukan Sisilia oleh Norman memakan waktu tidak kurang dari tiga dekade. Per­lawanan-perlawanan gigih diorganisir oleh para pahlawan muslim seperti Ibnu Haw-was (w. 1063/456 H), Ayyub dan Bena­vert (w. 1086/479 H). Di bawah penguasa Norman awal, orang Islam di Sisilia tetap bertahan dan sebagian beradaptasi dengan sistem pemerintahan Norman, di antara­nya menjadi anggota tentara. Tetapi ke­matian William II pada 1189 (585 H) te­lah menghapuskan berbagai kesempatan dan hak yang dimiliki komunitas muslim di Sisilia. Apalagi sikap kejam penguasa baru, Tancred de Lecce, yang sedang menghadapi krisis internal telah meng­akhiri prospek orang Islam untuk berta­han di Sisilia. Pergantian kepemimpinan di Sisilia pada 1194 (590 H) ke tangan pe­nguasa Jerman tak banyak menolong na­sib orang Islam. Tak mengherankan kalau pada 1219 (616 H) timbul pemberontak­an benar yang dipimpin Ibnu Abbad. Ken­dati dapat dipadamkan pemberontakan orang Islam terus bermunculan di berba­gai tempat di kawasan Val di Mazara se­hingga 1224 (621 H). Raja Frederick II mengerahkan seluruh kekuatan untuk me­numpas pemberontakan tersebut. Akhir­nya ia memutuskan untuk mengasingkan orang Islam yang tertangkap ke Lucera di Italia. Orang Islam bisa dikatakan habis se­telah pengasingan ke Lucera pada 1243 (641 H). Juga, pada 1300 (699 H) pemu­kiman mereka di Lucera telah dihancur­kan oleh Charles II dari Anjou. Mereka yang hidup dipaksa memeluk Kristen.

Sisilia pernah menjadi tempat penting dalam menghubungkan Eropa dengan du­nia Islam. Di camping Andalusia, Sisilia berperan memperkenalkan berbagai aspek budaya, ilmu pengetahuan dan kehidupan spiritual Islam kepada orang Eropa. Walau Sisilia sendiri tidak menghasilkan pemikir dan lembaga yang spektakuler, tetapi ke­beradaan literatur dan tradisi keilmuan yang dibawa dari dunia Islam lainnya te­lah memungkinkan para ulama dan cende­kiawan Sisilia menyalurkan hal-hal baru kepada kolega mereka dari daratan Eropa. Pendrjemahan karya-karya penting baik falsafat, kedokteran, sufisme, matematik, optik, atau astronomi ke dalam bahasa-ba­hasa Eropa banyak dilakukan lewat Sisi­lia. Transfer khazanah ilmu pengetahuan ini jelas ikut menopang renaissance di Ita­lia dan Eropa untuk masa-masa selanjut­nya. Kendati Islam dan pendukung-pen­dukungnya pada zaman pertengahan dito­lak dan dimusuhi untuk hidup di Eropa, kenyataannya sumbangan Islam terhadap kebangkitan Eropa lewat Sisilia adalah cu­kup penting.

Advertisement