Advertisement

Islam Dewasa Ini Sebagai satu agama yang mengklaim ajarannya akan memba­wa kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, Islam wajar menjadi relevan bah­kan dalam kurun pasta industri ini. Yang menjadi persoalan di sini bukan Islam se­bagai yang tercantum dalam Quran dan Sunnah serta pendukung kedua sumber tersebut. Hal itu sudah jelas kedudukan­nya. Tetapi yang diangkat adalah pada sa­tu pihak persepsi orang Islam terhadap agamanya dan pada pihak lain bagaimana non muslim memberikan reaksi terhadap corak keberagamaan Islam dewasa ini.

Pencapaian Barat dalam berbagai bi­dang telah menimbulkan berbagai akibat terhadap dunia Islam dan orang Islam. Apa pun kontribusi Islam terhadap penca­ paian tersebut, Barat tetap melihat dunia Islam untuk “dipimpin” dan “dikuasai”, paling tidak dalam kehidupan ekonomi dan teknologi. Kelebihan Barat dalam ba­nyak segi kehidupan materiil, telah tidak mungkin ditutup-tutupi lagi oleh dunia Islam. Tawaran yang diberikan, kendati sering menggiurkan, selalu bercorak pater-nails, apakah itu sistem demokrasi, pasar terbuka, ekonomi global, sekularisme ataupun lainnya. Sikap dan penampilan yang agresif ini tentu tidak mudah diteri­ma oleh siapa pun, termasuk orang Islam, di dunia non-Barat. Bagi orang Islam pan­dangan yang mendiskreditkan daya dan upaya mereka t ak selalu dibiarkan begi­tu saja.  Tetapi memang berbagai penga­laman dan sifat terhadap Barat seperti benci, khawatir, kagum dan kemandirian telah bercampur sehingga sikap dan res­pon orang Islam tidak monolit, bahkan berbeda secara generasi, space dan waktu. Untuk lebih menjelaskan fenomena Islam dewasa ini perlu diperhatikan keadaan in­ternal orang dan dunia Islam per se.

Advertisement

Secara umum dan dasar struktur inter­nal keagamaan orang Islam dapat dibagi menjadi dua: alot dan elastis. Bagian yang alot ini membawahi berbagai gerakan dan pemahaman keagamaan seperti skriptu­ralis, salafiyah, Wahabiyah dan fundamen­talis. Yang elastis meliputi aliran-aliran dan gerakan mulai dan yang ekstrim se­umpama kelompok Islam kiri, sampai de­ngan pendekatan kultural. Dalam mengha­dapi dunia yang cepat berubah dan penuh tantangan ini sebenarnya sikap dasar dua ini tetap mencerminkan upaya pergulatan muslim. Hanya saja perbedaannya terletak pada kemauan dan atau kemampuan me­manfaatkan terobosan-terobosan baru yang selalu muncul, dari manapun sumber­nya. Yang perlu diingat pertanyaan rele­vansi hanya timbul pada kategori elastis.

Bagaimanapun bukan berarti bahwa di antara kategori alot tidak timbul persoal­an. Fundamentalis, umpamanya, dituntut untuk membuktikan bahwa klaim mereka adalah benar bukan hanya dengan menge­tengahkan setumpuk kumpulan hadis sa­hih melainkan juga meyakinkan bahwa ajaran Quran dan Nabi adalah superior atas segala parafelnalia modern. Bahkan metode mereka mungkin lebih progresif dan sofistiket, belum lagi mempersoalkan tentang propaganda yang mereka lancar­kan dan partisipasi yang mereka upaya­kan.

Memang pada taraf kehidupan nyata se­benarnya semua pendukung Islam sedang ditantang apa kelebihan Islam dalam me­nata kehidupan. Bagi yang menganggap perlunya lepas diri dari tantangan ini, dan meyakini serta menikmati kekayaan spiri­tual Islam masalahnya menjadi, paling ti­dak untuk sementara, tidak rumit. Namun mereka harus lebih banyak menutup mata terhadap sekitar. Bagi yang lainnya, de­ngan cara masing-masing, Islam harus ber­kiprah dalam kehidupan. Persoalannya, se­cara simplistik, dapat digambarkan terle­tak pada berapa tawaran yang bisa diaju­kan terhadap segala perangkat modern. Memang selalu terdapat fluktuasi dalam tawar menawar ini, diakui dan atau disa­dari maupun tidak. Dengan dasar ini terja­dilah perubahan yang terus menerus da­lam corak dan sifat pengejawantahan Is­lam dalam semua kategori, khususnya di antara yang elastis.

Kecenderungan terakhir selama 1970an dan 1980an adalah meningkatnya pamor kategori alot yang progresif. Maksudnya gerakan dan pemikiran Islam kategori ini mengumandangkan superioritas dan ke­mandirian Islam dan sekaligus mengguna­kan seperangkat sarana, simbol dan bah­kan ideologi modem. Tetapi semuanya di­tegaskan sebagai murni beridentitas Islam.

Telah banyak tulisan mengemukakan sebab timbulnya kembali trend semacam ini. Pada dasarnya adalah reaksi dan keti­dakpuasan terhadap status quo. Kalau di­amati secara diakronik lewat kacamata bu­days pemikiran dan pengalaman sejarah Islam “gerakan jarum jam” atau “pasang surut” pendekatan keagamaan dalam Is­lam semacam ini adalah tidak aneh, is me­mang merupakan dinamika Islam itu sen­did sebagai agama wahyu yang telah di­ tinggalkan Nabi Muhammad sejak 14 abad yang lalu. Hanya saja volume kebangkitan ini selalu relatif dengan perubahan dan dampak masyarakat secara keseluruhan. Yang istimewa pada akhir abad ke-20 ini adalah semakin dirasakan akutnya ketidak­adilan di antara kehidupan antarbangsa, bagaimanapun diteriakkannya slogan ke­prihatinan oleh kelompok adikuasa. Pada pihak lain, sekelompok orang Islam meli­hat kelemahan dalam tatanan modern bahkan yang dianut oleh adikuasa. Dari si­nilah timbul semangat menghidupkan kembali ajaran murni Islam dalam konteks modern.

Hal ini tidak berarti bahwa kelompok dan gerakan lainnya telah lenyap. Yang je­las sosialisasi dan. pendidikan keagamaan mayoritas orang Islam masih tetap tidak banyak berubah; karenanya arus bawah yang besar tetapi diam adalah tetap apa yang disebut Nasr (1988) sebagai “Islam tradisional”. Juga, gerakan yang secara terbuka mengumandangkan rasionalisasi dan keterbukaan, kendati diserang habis- habisan oleh alot-progresif, tetap berhasil menggaet “bibit-bibit unggul berbobot” dan terus melangkah maju. Dengan sema­kin konkritnya hubungan internasional se­sama muslim di lima benua yang diikuti dengan mengalirnya informasi secara lebih cepat Islam jelas akan terus diupayakan untuk dibuktikan oleh para pengikutnya menjadi benar-benar relevan dengan ke­hidupan kapan pun. Pada pihak lain, Islam diharapkan akan lebih dipahami secara wajar oleh non-muslim.

Advertisement