Advertisement

Iskandar Muda adalah salah seorang raja Aceh Darussalam yang terbesar, dan pada masa pemerintahannya, kerajaan Is­lam di ujung utara pulau Sumatra ini me­ngalami puncak kejayaannya. Tahun kela­hirannya ada yang menulis 1588 dan 1590, dan A. Hasymi menulis 1593 (1001 H). Ayahnya adalah Laksamana Muda Man­shur Syah yang gugur melawan Portugis pada waktu Iskandar Muda baru berusia 2 tahun, dan ibunya adalah Putri Raja Indra Wangsa.

Waktu kecilnya bernama Sulaiman, se­telah 3 tahun neneknya memberi nama Abangta Raja Munawar Syah dan setelah dewasa mendapat beberapa nama lagi, se­perti: Pancagah, Johan Alam Syah, Perka­sa Alam Syah, Darma Wangsa, dan Iskan­dar Muda. Diceritakan, ketika kecilnya, ikut mengasuh Laksamana Malahayati dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun, dan setelah berusia 6 tahun, ditunjuk beberapa orang guru dan ulama untuk mendidiknya dalam bidang-bidang keagamaan Islam, Ba­hasa, hukum, seni budaya, kemiliteran dan ketangkasan jasmani.

Advertisement

Tahun 1604 (1011 H), kakeknya, Sul­tan Saidil Mukammil, turun tahta, diganti­kan oleh, putranya, Raja Muda All dengan gelar Sultan Ala`iddin Ri`ayat Syah V, dan sebagai wakilnya adalah adik Sultan sendi­ri, Raja Husain Syah, yang berkedudukan di Pidie. Sultan yang baru ini yang juga abang dari ibunda Iskandar Muda, bukan raja yang bijaksana. Iskandar Muda beser­ta ibunya dikeluarkan dari keraton Darud Dunia tempat ia lahir dan dibesarkan. Ka­kelcnya yang mantan raja membawa ke­duanya ke rumah pribadinya. Agaknya di sinilah Iskandar Muda menyampaikan kri­tiknya (atau mungkin ketika masih dalam istana Darud Dunia) terhadap cara,paman­nya memerintah. Oleh Sultan ia dituduh menghasut, sehingga lari ke Pedir (Pidie) dan tinggal di istana Teungku Cik di Reubee, abang tertua ibunda Iskandar Mu­da. Sultan Ali marah, dikirimnya pasukan ke Pedir. Iskandar Muda ditangkap dan dipenjarakan. Sementara itu, kekacauan terjadi tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi Portugis sudah men­duduki salah satu benteng Aceh, benteng Kuta Lubok. Dari penjara, Iskandar muda menyampaikan pesan kepada raja, sean­dainya ia dikeluarkan dari penjara dan di­persenjatai, ia sanggup mengusir Portugis. Ketika permohonannya dikabulkan, de­ngan tentara gajah yang dipimpinnya, Per­kasa Alam berhasil merebut benteng itu kembali. Sementara itu, Sultan Ali Ri`ayat Syah meninggal dengan tiba-tiba, agaknya karena serangan jantung (4 April 1607). Dalam kesempatan ini, Perkasa Alam me­nyerbu istana, dan atas persetujuan para pembesar istana dan Kali Malikul-Adil, ia diangkat sebagai Sultan yang baru.

Yang pertama kali dibenahi oleh Sultan Iskandar Muda adalah konsolidasi ke da­lam. Wilayah Aceh sebelah timur sampai ke Tamiang disusun kembali, dan di sebe­lah barat, terutama di luar Aceh yang su­dah dikuasai, seperti Natal, Paseman, Ti­ku, Pariaman, Salida dan Indrapura ditem­patkan tenaga-tenaga ahli dan berwibawa dalam menjalankan tugasnya. Selanjutnya, ia berusaha untuk menaklukkan wilayah­wilayah yang selalu terganggu oleh Portu­gis dan Johor. Aru dan Deli dikuasai (1612). Tahun 1613, dengan armada dan tentara yang cukup, ia menyerbu Johor karena kerja sama dengan Portugis. Ben­teng Johor, Batusawar, dihancurkan. Raja­nya, Sultan Aleuddin melarikan diri, teta­pi adiknya, Raja Bungsu, ditangkap; akan tetapi ia dikembalikan ke Johor dengan syarat-syarat tertentu, bahkan dikawinkan dengan adik Iskandar Muda sendiri. Tahun 1615, rencananya ingin menyerang Portu­gis di Malaka, akan tetapi urung setelah melihat persiapan Portugis. Sementara itu hubungan dengan Johor tegang kembali sehingga untuk kedua kalinya, Sultan Is­kandar menyerbu Johor. Sultan Aleuddin dapat ditangkap dan dihukum mati. Raja Bungsu lari ke Tembelan dan meninggal di sana pada 1623. Antara 1617-1620 di­taklukkanlah Bintan, Baning, Pahang, Ke­dah dan Perak. Antara 1623-1625, dapat ditaklukkan Nias, Asahan, Inderagiri dan Jambi. Sumber lain mengatakan bahwa wilayah kekuasaan Iskandar Muda, untuk pantai barat Sumatra sampai ke Bengkulu, dan pantai timur sampai ke Palembang, di­tambah semenanjung Tanah Melayu selain Malaka. Tujuan terakhir Iskandar Muda adalah menggempur Malaka yang dikuasai Portugis. Sayang, serbuan yang sudah la­ma dipersiapkan oleh Aceh dan berlang­sung 1628 sampai 1629, akhirnya tidak berhasil setelah Portugis yang sudah payah mendapat bantuan Pahang.

Di samping perluasan wilayah kekuasa­an dan usaha mematahkan dominasi orang­orang Eropa, banyak usaha-usaha lain yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Mu­da. Ia melakukan penertiban mengenai su­sunan pemerintahan, kedudukan, hak dan kewajiban rakyat terhadap pemerintah, dan penertiban perdagangan. Dalam bi­dang keagamaan, ia mendirikan mesjid Baitur-Rahman, rumah-rumah ibadat dan lembaga pengajian. Tentang keilmuan ke­islaman, Sultan Islandar Muda sangat ber­untung, karena pada waktu itu terdapat ulama-ulama dan pujangga Islam terkenal yang pengaruhnya justru melampaui wila­yah kerajaan Aceh, seperti: Hamzah Fan­suri, Syamsuddin dari Pasai, Syekh Nurud­din ar-Raniri dan Syekh Abdurreuf dari Singkel. Perundang-undangan yang diadakannya dikenal dengan sebutan Adat Ma­kuta Alam. Hubungan dengan luar negeri, baik utus-mengutus maupun surat-menyu­rat sangat luas, antara lain dengan Turki, Inggris dan Belanda. Keraton Darud Dunia dilengkapi dengan Taman Gairah dan Ba­talion Kawal Kehormatan yang semuanya wanita dengan nama Dipsi Kemala Caha­ya.

Sultan Iskandar Muda wafat pada 27 Desember 1936 (29 Rajab 1046 H), setelah beberapa lama sebelumnya, konon, meng­hukum mati putranya sendiri.

Advertisement