Advertisement

Ishak seorang nabi dan rasul Tuhan. Ia hidup di Kan’an, Palestina pada abad ke­18 atau 17 SM, dan termasuk kakek-mo­yang bangsa Yahudi (Israil). Menurut tradisi Yahudi (Israil), ia lahir tatkala ayahnya, Nabi Ibrahim, telah berusia 100 tahun, sedang ibunya, Siti Sarah, berusia 85 tahun. Kakaknya, Nabi Ismail (putra Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar) lebih tua 13 tahun darinya. Bahwa ia dan kakaknya itu lahir pada waktu ayah mereka telah berusia lanjut, dikuatkan oleh al-Quran (14:39), yang memuat ungkapan syukur Ibrahim sebagai berikut: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahiku pada usia tua, Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku maha mendengar doa.”

Kelahiran Ishak dari dua orang-tua yang sudah tua termasuk peristiwa yang amat jarang terjadi. Istri Ibrahim, yakni Siti Sa­rah, menurut al-Quran (yang menguatkan tradisi Yahudi atau Israil), merasa heran menerima berita gembira (bahwa ia akan melahirkan) yang disampaikan oleh para utusan-Tuhan (para malaikat), dan berka­ta: “Aduhai diriku! Apakah aku akan me­lahirkan anak, padahal aku seorang perem­puan yang sudah tua, dan suamiku ini juga sudah sangat tua? Sungguh perkara ini sa­ngat mengherankan.” Para utusan Tuhan itu menjawab: “Apakah kamu tercengang dengan urusan Allah? Rahmat Allah dan berkat-Nya adalah untuk kamu, wahai penghuni rumah. Sesungguhnya Tuhan itu maha terpuji dan mulia.” (al-Quran: 11, 71-73).

Advertisement

Kendati dalam beberapa hal. tentang Is­hak, keterangan tradisi Yahudi (Israil) da­pat dibenarkan oleh umat Islam (karena tradisi itu dikuatkan oleh al-Quran), kete­rangan tradisi Yahudi (Israil), yang me­nyatakan bahwa Ishak-lah yang hendak di­korbankan oleh ayahnya, Nabi Ibrahim, tidak dapat dibenarkan oleh umat Islam, karena tradisi itu mengandung kejanggalan dan tidak sesuai dengan keterangan al­Quran. Kejanggalan tradisi itu adalah da­lam menyatakan bahwa Ishak itu anak­tunggal Ibrahim dan anak-tunggal yang di­kasihinya itulah yang hendak dikorban­kan, berdasarkan mimpi yang dialaminya. Tentu sebutan anak-tunggal hanya pantas untuk Ismail, selama tiga belas tahun atau sampai lahirnya Ishak. Sejak lahirnya Is­hak, sebagai anak kedua bagi Ibrahim, se­butan anak-tunggal tidak pantas lagi bagi Ismail, apalagi bagi Ishak, kendati ibu ma­sing-masing anaknya itu berbeda. Adapun keterangan al-Quran yang tidak bersesuai­an dengan tradisi Yahudi (Israil) itu, ter- dapat pada ayat 37: 102-113. Kisah ten-tang Nabi Ibrahim hendak mengorbankan putranya, yang sudah berusia remaja dan sudah mulai berusaha (37: 102-111), langsung disusul dengan berita gembira untuk Ibrahim tentang akan lahirnya Is­hak (37: 112-113). Dengan demikian je­las bahwa yang hendak dikorbankan itu bukanlah Ishak, tapi Ismail, yang memang pantas disebut anak-tunggal pada waktu hendak dikorbankan itu, karena adiknya, Ishak, belum dilahirkan.

Tradisi Yahudi (Israil) menyebutkan bahwa Ishak menikah pada usia 40 tahun dengan Ribka, pucu Nahor, pamannya, dan Baru memperoleh anak-kembar 20 ta­hun kemudian; yang lebih tua bernama Esau dan adiknya bernama Yatub, yang kemudian bergelar Israil. Esau itulah yang menurunkan bangsa Edom dan Yalub menurunkan bangsa Israil (Yahudi). Ishak sendiri meninggal dalam usia yang sudah tua.

Tidak ada di dalam al-Quran kisah ten-tang perjuangan Ishak menegakkan agama Allah, seperti yang dilakukan oleh ayah­nya, Nabi Ibrahim. Kendati demikian, ia jelas dinyatakan oleh al-Quran sebagai se­orang nabi (37: 112), dan sebagaimana halnya nabi/rasul yang lain, ia menerima wahyu (2:136; 3:84; 4:163), menerima petunjuk dari Tuhan (6:84), tergolong orang yang saleh (21:72), diberkati Tuhan (37:112), memiliki wibawa dan pandang­an, disucikan Tuhan pikirannya untuk mengingat akhirat, dan termasuk °rang­pilihan (38:45-45). Boleh jadi ia, sebagai nabi/rasul Tuhan, hanya memberikan bim­bingan agama dalam komunitas kecil, yang terdiri dari segenap mereka yang ikut berhijrah bersama Nabi Ibrahim ke tanah Kan’an (Palestina).

Advertisement