Advertisement

Isa al-Masih adalah nama dan gelar yang mengacu kepada satu pribadi, yang diyakini oleh umat Islam sebagai nabi atau rasul Tuhan yang terakhir untuk bani Is-rail. Nama kecilnya dalam bahasa ibunya, bahasa Aramea, adalah Yesylea sedang ge­lar yang disandangnya setelah berdakwah adalah Mesiah (Yang diurapi). Dalam tra­disi Yahudi atau bani Israil, setiap orang yang diangkat menjadi nabi, imam, atau raja, diurapi dengan minyak. Sementara bani Israil, yang waktu itu sedang terjajah oleh kerajaan Romawi, tengah menunggu­nunggu munculnya Mesiah yang akan membebaskan mereka dari penjajahan. Yesylea diyakini oleh para pengikutnya sebagai Mesiah yang ditunggu-tunggu itu. Yesyu’a yang Mesiah itu berubah dalam bahasa Arab menjadi `Isl al-Masih, dan melalui bahasa Arab dikenal oleh umat Islam Indonesia dengan sebutan Isa al­Masih. Di samping itu, melalui perubahan bentuk dalam bahasa Yunani, Latin, dan Belanda, umat Kristen Indonesia lebih la­zim menyebutnya Yesus Kristus. Para pengikut Isa al-Masih dikenal dengan se­butan Masehi (pengikut al-Masih), Kristen (pengikut Kristus), atau Nasrani (pengikut orang desa Nasirah atau Nazaret; Isa di­katakan sebagai orang yang berasal dari Nasirah atau Nazaret di Galilia).

Penentuan tahun kelahiran Isa al-Masih dan tarikh Masehi, yang didasarkan pada tahun kelahiran itu, baru diupayakan pada 533 M oleh rahib Dionysius Exiguus, dan penentuan tersebut (yang berlaku sampai sekarang) menurut penilaian para ahli me­leset (kurang) 6 atau 7 tahun dari yang se­mestinya. Oleh sebab itu para ahli menga­takan bahwa Isa al-Masih lahir bukan pada 1 M, tapi pada 6 atau 7 SM (sebelum Ma­sehi). Sementara sejarah tidak dapat me­mastikan tanggal dan bulan kelahirannya, umat Kristen sejak abad ke-4 Masehi telah mengambil-alih 25 Desember (hari peraya­an lahirnya Dewa Matahari di kalangan berbagai bangsa di Eropa, sebelum mereka menjadi Kristen) sebagai hari Natal (kela­hiran) Isa al-Masih. Sedang dari al-Quran, orang bisa mendapatkan isyarat bahwa Isa al-Masih dilahirkan di saat ibu yang me­ngandungnya sedang dalam perjalanan jauh; ia dilahirkan di bawah pohon kur­ma, yang sedang berbuah matang di mu­sim panas.

Advertisement

Tidak seperti umat Yahudi, yang meng­hina Isa al-Masih sebagai anak zina, umat Kristen dan umat Islam yakin bahwa ia bukan anak zina, dan yakin bahwa ibuya, Maryam, adalah wanita saleh.

Semua umat Kristen dan sebagian besar umat Islam berpandangan bahwa dalam keadaan “masih perawan”, Maryam men­jadi hamil (mengandung Isa al-Masih) se-cam ajaib, karena kehendak Tuhan. Al­Quran menggambarkan betapa Maryam yang saleh menjadi kaget, ketika ia dibe­ri tahu oleh malaikat bahwa ia akan mem­punyai anak, dan bertanya bagaimana ia akan memperolehnya padahal ia belum “disentuh” (dinikahi) oleh lelaki mana pun. Al-Quran tidaklah menjelaskan bera­pa lamanya jarak waktu antara pemberi­tahuan malaikat tersebut dengan berada­nya Isa al-Masih dalam kandungan ibunya, dan ticiak memberitahukan apakah dalam jarak waktu itu Maryam tidak menikah, sehingga kehamilannya dapat dipandang sebagai kehamilan ajaib, atau menikah, se­hingga kehamilannya itu hanyalah keha­milan biasa, seperti wanita lainnya. Tak adanya pemberitahuan dan al-Quran ten-tang itu memberi peluang bagi sebagian orang Islam untuk cenderung berpendapat bahwa setelah pemberitahuan malaikat, Maryam menikah dan baru mengandung serta kemudian melahirkan Isa al-Masih. Bahwa al-Quran menyebutnya al-Masih ibn Maryam, tidak mesti berarti bah­wa ayahnya tidak ada.

Terbayang pada ayat-ayat al-Quran (19: 29-34) bahwa Isa al-Masih diangkat men­jadi nabi dalam usia muda, tapi para pe­muka Yahudi merendahkannya sebagai “anak kecil kemarin”. Sejarah umat Kris­ten memang menunjukkan bahwa Isa al­Masih mulai berkeliling untuk berdakwah dalam usia ± 30 tahun, dan setelah berja­lan 3 atau 4 tahun, maka pemuka-pemuka Yahudi yang memusuhinya berupaya un­tuk membunuhnya.

Jika Injil-Injil yang menjadi pegangan umat Kristen mengatakan bahwa ia disalib pada Jumat sore dan segera diturunkan dad tiang salib sebelum terbenam mataha­ri, maka al-Quran menyatakan bahwa me­reka (para musuh Isa) tidak membunuh­nya dan tidak menyalibnya, tapi diserupa­kan bagi mereka (4:157). Kebanyakan ulama Islam berpaham bahwa bukan Isa al-Masih yang tertangkap dan disalib, tapi orang lain yang dibuat Tuhan tampak se­rupa dengan Isa al-Masih pada malam pe­nangkapan. Ulama yang lain mencoba mengkompromikan keterangan Injil-Injil dengan keterangan al-Quran, dengan me­ngatakan bahwa betul Isa al-Masih yang disalib, tapi karena hanya beberap jam saja di tiang salib dan diambil oleh Yusuf Arimatea (secara diam-diam telah menjadi pengikut Isa al-Masih), maka ia tidak ma-ti; ia hanya pingsan saja di tiang salib itu, dan keadaan pingsan itulah yang dikata­kan al-Quran “diserupakan” (seperti

Setelah sembuh dari luka-luka tersalib, ia menyingkir ke tempat lain, dan di situ ia kemudian wafat seperti manusia lain­nya.

Sejarah menunjukkan bahwa setelah Isa al-Masih tidak lagi bersama para pengikut­nya di Palestina atau Kan’an, maka jemaat Kristen Yerusalem (jemaat Ebionit) terli­bat pertengkaran sengit dengan para peng­ikut Paulus, yang menuhankan Isa al-Ma­sih. Jemaat Jerusalem, sebagai jemaat Kristen awal, yang menyangkal ketuhanan Isa al-Masih, terdesak oleh berkembang­luasnya jemaat Paulus, dan lenyap setelah beberapa abad kemudian. Pendirian umat Islam, yang berdasarkan al-Quran, menya­takan bahwa ia hanyalah manusia yang menjadi nabi dan rasul Tuhan, bukan ok­num Tuhan; dengan demikian Islam mem­berikan konfirmasi bagi kebenaran jemaat­jemaat Kristen, yang tidak menuhankan Isa al-Masih, kendati mereka punah atau dipunahkan.

 

Advertisement