Advertisement

Ibrahim dalam pandangan umat Islam, adalah seorang nabi atau rasul Tuhan. Para ahli, berdasarkan tradisi yang ada, mem­perkirakan bahwa ia hidup dalam abad ke­19 dan 18 SM. Pada mulanya ia bermukim di negeri kelahirannya, Urkasdim (di Irak Selatan), kemudian di Harran (di Syiria Utara), dan terakhir di Kan’an (Palestina atau Israel sekarang). Ia wafat dan dima­kamkan di Hebron (lebih kurang 30 km di selatan Yerusalem).

Tradisi Israiliyat menggambarkan bah­wa Ibrahim bersama keluarganya (istrinya, Sarah; keponakannya, Lut; ayahnya, Te­rah;) pindah dari Urkasdim ke Harran. Se­telah ayahnya wafat di Harran ia dan ke­luarganya pindah lagi ke Kan’an; pada saat itu ia sudah berusia 75 tahun. Pernah juga ia bersama keluarganya menyingkir untuk sementara waktu ke Mesir, karena Kan’an dilanda kelaparan, kemudian kembali me­netap di Kan’an. Karena perkawinannya dengan Sarah tidak melahirkan turunan, padahal istrinya itu sudah berusia 75 ta­hun, maka ia yang sudah berusia 85 tahun menikah lagi dengan Hajar, wanita Mesir, dan pernikahan ini segera membuahkan turunan; lahirlah putranya yang pertama, Ismail. Empat belas tahun kemudian ter­nyata Sarah bisa hamil dan melahirkan putra, Ishak. Pada saat ini Ibrahim berusia 100 tahun. Ibrahim terpaksa menyingkir­kan Hajar dan Ismail ke Birsyeba (lebih kurang 80 km di barat daya Yerusalem), karena hubungan kedua istrinya itu mem­buruk. Menurut tradisi Israiliyat ini, Ibra­him — melalui mimpi diperintah Tuhan agar mengorbankan putra-tunggalnya, Is­hak. Setelah ia menunjukkan ketaatan, merebahkan, dan hendak menyembelih Is­hak, ia dipanggil Tuhan agar mengurung­kan niatnya dan menggantinya dengan pe­nyembelihan domba besar yang sudah ter­sedia. Ia menikah lagi dengan Ketura, sete­lah Sarah wafat dalam usia 127 tahun. Bila dari perkawinannya dengan Sarah, Ib­rahim menurunkan antara lain bangsa Is-rail (Yahudi); dan dengan Hajar, menurun­kan antara lain bangsa Arab Hejaz; maka perkawinannya dengan Ketura melahirkan antara lain bangsa Midian, yang hidup di sebelah timur teluk Aqabah. Menurut tra­disi Israiliyat ini, Ibrahim mempunyai usia 175 tahun.

Advertisement

Ada dua hal dari keterangan tradisi Is­railiyat di atas yang mesti ditolak oleh umat Islam, yakni tentang etempat pe­nyingkiran Hajar dan Ismail, serta tentang putra mana yang hendak dikorbankan Ib­rahim. Berdasarkan keterangan al-Quran, ulama Islam dapat menegaskan bahwa Ha-jar dan Ismail bukanlah ditempatkan di Birsyeba, yang masih termasuk wilayah Kan’an, tapi di lembah tak bertanaman dekat Baitullah yang dihormati (Quran 14:37), yang tidak lain dan kota Mekah di Hejaz. Penempatan mereka di Mekah itu memungkinkan Ibrahim dan Ismail di lain waktu meninggikan dasar-dasar Bai­tullah itu (2:127), yang sejak masa itu sampai sekarang menjadi pusat pelaksana­an ibadat haji. Selanjutnya mengenai putra yang hendak dikorbankan Ibrahim, al-Quran menggambarkan bahwa setelah Ibrahim berlalu dengan peristiwa mimpi menyembelih putranya yang sabar, dan siap sedia hendak menyembelihnya, yang segera diganti Tuhan dengan penyembe­lihan domba besar, barulah ia diberi berita gembira tentang akan lahirnya Ishak. Jadi putra yang hendak dikorbankan itu bu­kanlah Ishak, tapi Ismail. Sebutan “putra­tunggal” dalam tradisi Israiliyat sebetul­nya sudah merupakan isyarat yang menga­cu kepada Ismail, karena hanya Ismail yang pantas disebut putra-tunggal, yakni ketika ia masih sendirian sebagai putra Ib­rahim. Ketika Ishak lahir, sebutan putra­tunggal tidak lagi pantas baik untuk Ismail maupun Ishak.

Dalam al-Quran, kisah-kisah tentang Ib­rahim ditampilkan lebih dari 40 kali. Me­mang tidak dilukiskan perjalanan hidup Ibrahim dari lahir sampai wafat, seperti yang dilukiskan oleh kitab suci umat Ya­hudi dan Nasrani, tapi ada aspek yang le­bih penting, yang diperlihatkan al-Quran melalui kisah-kisah tersebut, yaitu kepri­badian Ibrahim. Terlihat jelas bahwa ia memiliki tekad dan upaya yang sungguh­sungguh menentang kemusyrikan atau pe­nyembahan berhala-berhala. Ia berdialog dengan ayahnya dan dengan kaumnya yang musyrik untuk menunjukkan betapa tidak pantas menyembah berhala-berhala, karena yang disembah tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga menentang penyembahan terhadap benda-benda langit. Ia bahkan bertindak lebih jauh dengan menghancur­kan berhala-berhala yang disembah kaum­nya (Lihat al-Quran 6:75-84 19:42-48; 21:52-65; 26:69-84; 29:16, 17; 37: 88-96; 43:26, 27). Selain itu terlihat jelas betapa sempurnanya ketaatan Ibrahim ke­pada Allah. Apa pun yang diperintahkan

Tuhan, ditaatinya. Kesediaannya untuk mengorbankan putranya merupakan ilus­trasi yang mengesankan tentang ketaatan­nya yang tulus.

Umat Yahudi, Nasrani, dan kaum musy­rikin Arab, yang sama-sama menghormati Ibrahim, kakek mereka, berulang kali di­panggil atau diingatkan oleh al-Quran agar mengikuti agama Ibrahim, karena agama Ibrahim itu adalah agama yang benar, dan ia bukan Yahudi, bukan Nasrani, bukan musyrik, tapi seorang yang hanif (lurus) dan muslim (taat pada Allah); agama yang dibawa atau diikuti oleh Muhammad tidak lain dari agama Ibrahim yang benar itu (li­hat al-Quran 2:135; 3:67, 95; 4:125; 6: 161).

Bagi kaum muslimin, Ibrahim adalah manusia teladan dalam hal ketaatan pada Allah dan keteguhan menegakkan tauhid. Ia digambarkan oleh al-Quran sebagai ma­nusia pilihan, kekasih Allah, saleh, siddik, muslim, hanif, dan lain sebagainya. Tidak mengherankan bahwa institusi haji, kor­ban, dan khitan, yang dimulai oleh Ibra­him, tetapi dihidupkan oleh Islam.

Advertisement