Advertisement

Ibrahim bin Adham adalah seorang za­hid besar dan abad ke-8 (2 H). Kisah-kisah melukiskan bahwa ia pada mulanya hidup di istana, sebagai pangeran atau sebagai ra­ja di Balkh (sekarang termasuk wilayah Afganistan), kemudian meninggalkan ista­nya dan hidup sebagai zahid (orang yang tak tertarik kepada kesenangan duniawi), yang mengembara dari satu negeri ke ne­geri lain dalam kawasan yang luas (Persia, Irak, Hijaz, dan Syam). Konversi (perto­batannya) ini didahului oleh beberapa pe­ristiwa yang aneh, seperti ditegur oleh sua­ra aneh yang datang dan loteng istananya (kata suara itu: “Kau, hai Ibrahim, sia-sia saja hidup di istana ini; kau tak akan men­jumpai Allah), ditantang atau ditegur oleh orang asing yang tidak dikenal (katanya: “Istana ini jelas tempat persinggahan, yak­ni persinggahan dalam perjalanan menuju akhirat”), dan ditegur oleh suara ganjil yang sedang diburunya (kata suara itu: “Untuk inikah engkau diciptakan?”).

Sejarah agaknya masih belum menemu­kan bahan-bahan yang dapat mempetjelas perjalanan hidtip Ibrahim bin Adham. Lu­kisan kisahnya terasa mirip dengan kisah Sidarta Gautama. Belum dapat dipastikan apakah lukisan tentang berbagai teguran menggambarkan kejadian yang sebenarnya atau hanya merupakan lukisan simbolik dari teguran-teguran hati-nuraninya, yang tidak puas dengan kehidupannya selama ini, yang boleh jadi bergelimang harta dan dosa, kendati demikian, dari berbagai ki­sah yang ada tentang dirinya, dapat disim­pulkan bahwa ia adalah orang Arab, kela­hiran Khurasan, turunan bangsawan, dan setelah bertobat ia banyak bergaul dengan para zahid di Irak dan Tanah Suci (Mekah­Madinah); belakangan ia banyak mengem­bara di Syam dan wafat pada 778 (161 H).

Advertisement

Dari berbagai pengajaran dan butir-bu­tir hikmat yang dikatakan berasal darinya, tergambar bahwa ia cukup banyak menda­patkan hadis-hadis Nabi, yang erat kaitan­nya dengan hidup kerohanian yang ber­kualitas tinggi. la menerima hadis Nabi da­ri Abu Ishaq Amru bin Abdillah as-Su­bay% Yahya bin Sal& al-Ansari, Said bin Mirzaban, Abu Muqatil bin Hayyan an­Nabati, Yazid ar-Rafasyi, Malik bin Dinar, dan as-Sauri. Kendati ia pada umumnya mempelajari hadis-hadis demi untuk mengamalkannya, masih dapat dijumpai sejumlah orang yang meriwayatkan hadis melaluinya, seperti pembantunya, Ibrahim bin Basysyar, Baqiyyah bin al-Walid, Sya­qiq al-Balkhi, dan Abu Ishaq al-Fazari. Ahli-ahli hadis seperti Imam Bukhari, Imam Turinuzi, Imam Nasai, dan Imam Daraqutni menilai Ibrahim bin Adham se­bagai perawi yang dapat dipercaya.

Ibrahim bin Adham terkenal sangat ke­ras menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia berupaya bekerja baik mencari kayu untuk dijual, sekedar mendapatkan uang pembeli makanan, atau bekerja seba­gai orang upahan, seperti penjaga kebun atau pemetik hasil kebun, dan sebagainya. Kendati bekerja sebagai penjaga kebun yang sedang berbuah banyak, agak sebutir pun tak akan dimakannya, kalau buah itu belum diberikan kepadanya sebagai bagian dari upah yang harus diterimanya. Ia be­kerja, sering bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain, terutama un­ tuk para pengikutnya, yang setia mengem­bara bersamanya. Tekad untuk bekerja de­mi sesuap makanan yang halal dan tekad untuk bisa memiliki tangan-memberi, wa­lau tidak banyak, amat menonjol pada pri­badinya. Diriwayatkan bahwa ia bersama zahid yang lain menyaksikan dengan he-ran seekor burung yang tergeletak sendiri­an, dengan sayap yang patah, tapi di sam­pingnya ada makanan. Sementara terheran memikirkan dari mana datangnya ma­kanan itu, datanglah burung lain mengan­tarkan tambahan makanan. Dengan me­nyaksikan peristiwa itu, zahid yang berada di samping Ibrahim bin Adham berkata: “Bila burung tidak dibiarkan tergeletak kelaparan oleh temannya, maka apalagi ki­ta manusia; kita tidak usah khawatir mati kelaparan.” Mendengar pembicaraan itu, Ibrahim bin Adham berkata: “Ingatlah sabda Nabi, bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah!” Dari komen­tamya itu terlihat jelas pendiriannya bah­wa ia tidak ingin menunggu pemberian, ta­pi sebaliknya ingin membantu orang lain dengan hasil jerilt payahnya.

Di antara nasihat-nasihat Ibrahim bin Adham adalah sebagai berikut: “Perhati­kanlah setiap penghalang yang memutus hubungan anda dengan Tuhan putuslah penghalang itu. Janganlah mengharapkan sesuatu selain Allah; janganlah takut kepa­da selain-Nya. Cintailah orang yang men­cintai-Nya. Berdoalah anda,  bersikaplah rendah hati, menangislah dalam khalwat, dan tunduklah di mana pun anda berada. Kasihlah kepada kaum muslimin, dan beri­lah mereka nasihat. Ketahuilah bahwa orang tidak akan mencapai derajat saleh, sebelum ia melewati enam tantangan, ya­itu menutup enam buah gapura: berse­nang dengan kenikmatan duniawi, berme­gah-megah meninggikan diri, bersantai­santai, banyak tidur, mencari kekayaan duniawi, dan banyak angan-angan, sejalan dengan itu ia harus membuka enam gapu­ra lawannya, yaitu: merasakan kegetiran hidup, merendahkan diri, bersungguh­sungguh beramal, banyak bangun beriba­dat, memilih kefakiran, dan siap-sedia me­nyambut maut. Ingatlah bahwa tanda ber­sinarnya hati seseorang adalah: banyak beribadat, banyak memuji Allah, dan ba­nyak berbicara tentang orang saleh. Ter­tutupnya hati seseorang dari Tuhan, ada­lah karena ia mencintai sesuatu yang di­benci-Nya, condong kepada dunia, dan melalaikan tugas atau amal untuk negeri yang abadi.”

Advertisement