Advertisement

ibnu Yaqzan (Hidup putra Ba­ngun) adalah tokoh utama dalam risalah pendek yang ditulis oleh Ibnu Sina (w. 1036/428 H) dan juga dalam risalah lain yang ditulis oleh Ibnu Tufail (w. 1186/ 581 H) dan karenanya kedua risalah itu mempunyai nama yang sama, Risalat Hayy ibn Yaq:Tan, Kedua karya tulis itu merupakan kisah roman dengan menam­pilkan sejumlah tokoh simbolis.

Hayy ibnu Yaqzan, dalam risalah yang ditulis Ibnu Sina, adalah tokoh yang dilu­kiskan sebagai syekh tua yang di tangannya tergenggam kunci-kunci segenap pengeta­huan, yang ia terima dari bapaknya. Ia se­orang pengembara yang dapat menjelajahi semua penjuru bumi. Disebutkan dalam ri­salah itu bahwa Ibnu Sina sendiri bersama kawan-kawannya, dalam suatu perjalanan, berjumpa dengan Hayy ibnu Yaqzan itu, dan terjadilah perkenalan dan dialog. Ba­nyak hal atau pengetahuan yang .disampai­kan syekh tua itu dalam perjumpaan ter­sebut kepada mereka.

Advertisement

Berbeda dengan versi di atas, Hayy ibnu Yaqzan dalam tulisan Ibnu Tufail dilukis­kan sebagai seorang bayi yang terpaksa di­buang ke sebuah pulau terpencil dalam ka­wasan pulau-pulau Hindi yang terletak di khatulistiwa (boleh jadi maksudnya se­buah pulau dalam kepulauan Indonesia). Kendati di pulau itu ia disusukan dan dira­wat oleh rusa dan hidup dalam lingkungan binatang, Hayy ibnu Yaqzan dapat ber­kembang baik menjadi manusia dewasa, yang berbeda dengan binatang. Akal se­hatnya berkembang secara alamiah sede­mikian rupa, sehingga ia bukan saja mam­pu berpikir tentang dunia fenomena, tapi juga dapat menangkap hal-hal abstrak dan mengetahui adanya Tuhan, Pencipta seka­lian alam. Ia bahkan dapat dengan mata batin melihat-Nya, serta merasa dekat de­ngan-Nya dan merasa berbahagia.

Tidak jauh dari pulau itu terdapat pu­lau lain, yang dihuni oleh satu masyarakat manusia. Absal dan Salaman, yang termasuk pemuka dalam masyarakat itu, adalah penganut agama wahyu, tapi memiliki kecenderungan yang berbeda. Absal ba­nyak tertarik pada pengertian-pengertian metaforis dari teks-teks agama, sedang Sa­laman lebih cenderung berpegang pada arti-arti lahir, sejalan dengan sikap masya­rakat pada umumnya di pulau tersebut.

Absal kemudian mengasingkan diri dari masyarakat; ia pada suatu hari menyebe­rang dan berjumpa dengan Hayy ibnu Yaqzan. Keduanya berdialog dan saling berkisah. Hayy ibnu Yaqzan dengan mu­dah dapat memahami dan menyetujui ke­terangan-keterangan Absal tentang Tuhan, surga, neraka, hari kebangkitan, timbang­an, jalan lurus, dan lain-lain, sebagaimana yang diajarkan oleh wahyu. Absal juga bersikap demikian terhadap keterangan Hayy ibnu Yaqzan tentang hasil-hasil re­nungan dan pengalaman rohaniahnya de­ngan Thhan. Kedua insan itu saling mem­benarkaii.

Sebagai salah satu bentuk pengungkap­an bagi pemikiran falsafi masing-masing, Hayy ibnu Yaqzan dalam karya-tulis Ibnu Sina diangkat sebagai tokoh simbolis bagi Akal Aktif (Jibril), yang selain berkomu­nikasi dengan para nabi, juga dengan para filosof, sedang dalam karya-tulis Ibnu Tu­fail ia diangkat sebagai tokoh simbolis ba­gi pemikiran falsafi, yang bisa berjumpa secara serasi dengan ajaran wahyu yang datang dari Tuhan.

Advertisement