Advertisement

Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad dari putrinya, Fatimah. Husein bersama kakaknya, Hasan, untuk beberapa tahun sempat menikmati kasih sayang seorang kakek yang Nabi. Dilahirkan di Madinah setelah hijrah, Husein tumbuh dan kelihat­annya menikmati kehidupan di kota suci tersebut. Sebagai keturunan Nabi, Husein memenangkan simpati tersendiri di antara orang-orang Islam sezamannya. Tuntutan para pendukungnya untuk merealisir kehi­dupan yang lebih baik dari situasi yang di­ciptakan Bani Umayyah telah mendorong Husein menanggapi harapan mereka. Me­mang matinya Husein yang mengharukan di tangan pasukan Umawi telah mengha­rumkan namanya serta .menimbulkan rasa pemahaman keagamaan tersendiri bagi se­bagian umat. Di samping itu bagi kaum Syrah Husein, sebagai imam ketiga setelah Ali dan Hasan, menjadi simbol sentral dan paradigma dalam upaya “penebusan pen­deritaan” atas dirinya dan diri mereka sen­diri.

Husein bersama Hasan sangat disayangi Nabi. Sebagai cucu Nabi yang hidup ber­dekatan di Madinah, mereka sering bersa­ma Nabi. Karena hubungan yang demikian tak mengherankan jika nama mereka pun sering dijumpai dalam hadis-hadis yang berhubungan dengan ibadat dan kehidup­an Nabi sehari-hari. Umpamanya, digam­barkan bagaimana Hasan dan Husein yang masih anak-anak ikut bersembahyang dan menaiki badan Nabi, sedangkan Nabi terus beribadat seakan tidak terganggu oleh me­reka. Ikatan yang erat ini terbukti kemu­dian mempengaruhi kategori yang diberi­kan khalifah Umar kepada Hasan dan Hu­sein dalam sistem stratifikasi yang ia ca­nangkan. Masing-masing memang meneri­ma hampir dua kali lipat jumlah bayaran yang diterima rata-rata seorang dari kaum Ansar atau Muhajirin.

Advertisement

Husein menjadi tumpuan harapan kaum oposan untuk memimpin gerakan anti­Umawi. Kesulitan politik dan posisi yang tak menguntungkan bagi Ali telah mele­mahkan prospek kekuasaan keturunan­nya, khususnya Husein dan Hasan. Hal ini terlihat secara jelas dari ketidakmampuan Hasan untuk menolak fait accompli yang ditawarkan Mu`awiyah guna melepaskan tuntutan kepemimpinan dan berdiam diri di Madinah. Memang pola pendekatan Mu`awiyah yang terbuka dan kepribadian­nya yang teguh berhasil membuat peme­rintahannya berjalan, bisa dikatakan, seca­ra mulus. Namun penunjukan anaknya, Yazid, sebagai pengganti telah menum­buhkan keresahan luas. Dalam konteks ini dapat dipahami kenapa Husein bangkit menanggapi tawaran para pendukungnya dan bekas pengikut ayahnya di Irak untuk memimpin perlawanan terhadap rezim Umawi.

Keberangkatan Husein ke Kufah meru­pakan ekspresi kejujuran. Sebagai seorang terpandang, Husein sebelumnya tidak ba­nyak terlibat dalam kemelut -politik semen­jak terbunuhnya Usman pada 656 (36 H), walaupun ia telah terjun membantu ayah­nya dalam berbagai pertempuran. Namun dukungan sementara kelompok umat Ice­pada keturunan Ali rupanya tidak begitu saja diabaikan. Yang menarik, keberang­katan Husein ke Kufah bukanlah didu­kung oleh pasukan yang bent:, melainkan disertai oleh hampir seluruh anggota ke­luarganya, termasuk kaum wanita dan anak-anak (17), serta segelintir pengikut (60). Karenanya sulit untuk diterima bah­wa keberangkatannya adalah disiapkan untuk langsung melawan penguasa Uma­wi. Menurut satu sumber sebelum berang­kat ke Kufah Husein telah diperingatkan oleh tokoh-tokoh di Madinah • agar tidak menanggapi tawaran para pendukungnya di Irak. Keputusan teguh Husein menuju ke Kufah bersama seluruh anggota keluar­ganya perlu dipahami dalam konteks yang luas. Ia cenderung untuk menyusun kern­bali dukungan orang-orang Irak atas pola kepemimpinan yang dipromosikan ayah­nya,; Ali. Kalau kemudian ternyata ia di­hadapkan kepada pasukan Umawi di ba­wah komando Umar bin Sead, memang Husein belum siap. Di pihak lain, para pendukung Husein di Kufah ternyata ga­gal menyelamatkan misinya, baik dari segi militer maupun kerahasiaan kedatangan­nya. Sementara tuduhan bahwa orang­orang Kufah mengkhianati janji yang di­berikan kepada Husein tidak semestinya dipahami seperti apa adanya tanpa meli­hat posisi mereka di hadapan pasukan Umawi yang tangguh.. Kegagalan pendu­kung Husein di Kufah bukan semata peng­khianatan melainkan kekalahan dalam segala hal, khususnya sarana kornunikasi dan kekuatan, melawan kemampuan rezim Umawi kala itu.

Kematian Husein di Karbala pada 680 (61 H) mempunyai akibat penting terhadap kehidupan umat. Kejadian di Karbala me­mang sulit dikatakan pertempuran terbu­ka, ia lebih tepat disebut sergapan. Walau­pun Husein dan sejumlah pengikutnya memberikan perlawanan terhadap pasuk­an yang dikirim gubernur Irak Abdullah bin Ziad, karena ketidakseimbangan ke­kuatan hampir semua rombongan Husein tewas. Beberapa anggota keluarganya yang selamat, termasuk Ali bin Husein Zainal­Abidin, dikirim ke hadapan Yazid di Da­maskus, kemudian dipulangkan ke Madi­nah. Ketidakseimbangan kekuatan dan penganiayaan terhadap Husein, bahkan se­telah ia mati telah membangkitkan rasa ngeri dan bersalah bagi orang-orang Islam. Dan, bagi para pendukungnya, kejadian tersebut mempunyai arti simbolik penting dalam kehidupan beragama mereka. Ke­matian Husein pada 10 Muharam kemu­dian dikukuhkan sebagai hari Asyura, ke­sempatan mengekspresikan protes, kese­dihan dan rasa bersalah (ta`ziyah). Di sam­ping itu, kematian Husein dalam situasi yang tidak seimbang tersebut telah men­dorong bangkitnya gerakan-gerakan ber­senjata yang di antara salah satu sembo­yannya adalah menuntut balas kematian Husein, seperti gerakan at-Tawwabun (60/65 H), pemberontakan Miikhtar as­Sacfafi (686/67 H) dan Zaid bin Ali (740/ 122 H). Bagi golongan Syrah, kematian Husein yang imam telah memberikan te­ma-tema keagamaan dan simbol pengor­banan dalam doktrin mereka.

Advertisement