Advertisement

Hasan bin Ali bin Abi Talib adalah pu­tra dari perkawinan Ali bin Abi Talib de­ngan Fatimah, putri Rasulullah. Ia lahir pada 624 (3 H) di pertengahan bulan Ra­madan.

Nama Hasan itu sendiri diberikan oleh Rasulullah kepadanya. Ia, bersama adik­nya Husein sangat disayangi oleh Rasulul­lah. Itulah sebabnya, sebagai yang banyak diriwayatkan baik oleh sumber Sunni maupun sumber Syi`ah, Rasulullah sering sekali bermain-main dengan cucu-cucunya tersebut.

Advertisement

Di antara hadis-hadis Rasulullah yang membicarakan bagaimana cintanya Rasul­lullah terhadap Hasan dan juga Husein, adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Keduanya (Hasan dan Husein) adalah kembang mekarku di da­lam dunia ini.” Juga hadis: “Keduanya (Hasan dan Husein) ini adalah anakku dan anak dari anak perempuanku, Ya Tuhan, aku mencintai keduanya dan aku pun cin­ta kepada siapa yang mencintai kedua­nya.” Serta hadis berikut, yang diriwayat­kan oleh Bukhari dan Abu Bukrah, kata­nya: “Aku pernah melihat Rasulullah sedang berdiri di atas mimbar sedang Ha­san duduk melihat sebentar kepada khala­yak ramai, lalu melihat pula kepada Nabi sebentar. Ketika itu Nabi bersabcrar “Se­sungguhnya anakku ini adalah sayid, dan moga-moga Allah melalui dia akan men­damaikan kaum muslimin yang pecah menjadi dua golongan’.”

Hasan berusia tujuh tahun, ketika ka­keknya, Rasulullah wafat. Dan tidak be­rapa lama sesudah itu, ibunya, Fatimah juga wafat.

Hasan bin’ Ali adalah seorang yang sa­ngat jujur, membenci perpecahan. Ia lebih mengutamakan persatuan dan kerukunan. Ketika terjadi pemberontakan menentang kebijaksanaan khalifah Usman bin Affan, ia tidak turut dalam pemberontakan terse-but. Bahkan ia termasuk dari beberapa pe­muda yang datang ke tempat kediaman khalifah untuk melindungi khalifah. Ma­lah ketika khalifah Usman terbunuh Ha­san berpendap at agar ayahnya tetap berada di Madinah dan tidak mencalonkan din sebagai khalifah. Namun umat tetap saja membaiat Ali bin Abi Talib sebagai khali­fah. Itulah sebabnya ia selalu mendampi­ngi ayahnya dalam beberapa peperangan, kendatipun hal itu dilakukannya bukan atas kemauannya sendiri.

Ketika ayahnya Ali bin Abi Talib wa­fat, umat Islam membiatnya sebagai kha­lifah, menggantikan ayahnya. Selama dua bulan di Kufah ia tidak menyebut-nyebut soal peperangan serta tidak memperlihat­kan tanda-tanda melanjutkan peperangan. Barulah ketika para pendukungnya men­desak, Hasan menyiapkan pasukan ber­gerak menuju Siria untuk menghadapi Mu`awiyah bin Abi Sufyan. Namun di dalam hatinya, ia sebenarnya hendak me­rundingkan perdamaian dengan Mu`awi­yah. Maksud Hasan ini tercium juga di kalangan pengikutnya, sehingga beberapa orang yang tidak senang dengan maksud damai itu berusaha membunuh Hasan, te­tapi tidak berhasil.

Pada 42 H tercapailah perdamaian an­tara khalifah Hasan bin Ali dengan Mu`a­wiyah bin Abi Sufyan yang juga sebagai khalifah. Tahun perdamaian ini dikenal dalam sejarah Islam dengan nama ‘Am al­Jameah (Tahun Persatuan). Perdamaian tersebut berisi beberapa kesepakatan, yakni: Hasan bin Ali menyerahkan jabat­an khalifah kepada Mu`awiyah dengan syarat Mu`awiyah memerintah sesuai de­ngan Kitabullah dan Sunah Rasul, dan pengangkatan khalifah sesudah Mu`awiyah harus berdasarkan musyawarah kaum muslimin, serta tidak mengambil tindakan kekerasan terhadap para pengikut All bin Abi Talib serta keluarganya. Mu`awiyah menyerahkan dua wilayah di Persia kepa­da Hasan serta memberikan uang bantuan sebesar 100.000 dirham kepada Hasan dan keluarganya yang diambil dari Baitulmal.

Sesudah terjadi perdamaian tersebut Hasan ,bin Ali kembali ke Madinah. Sepe­ninggal Hasan bin Ali, Mu`awiyah melang­gar kesepakatan yang dicapainya dengan Hasan. Ia melakukan kekerasan kepada siapa saja yang tidak setuju dengan ke­bijaksanaannya. Bahkan Mu`awiyah me­rencanakan membunuh Hasan bin Ali.

Demikianlah, dengan tipu muslihat yang dilakukan oleh Mu`awiyah, Hasan bin Ali terbunuh dan wafat pada tahun 50 H. Banyak sumber yang berbicara ten-tang proses kewafatan Hasan bin Ali. Na­mun yang terkuat adalah sumber yang mengatakan bahwa yang membunuh Ha­san bin Ali, adalah istrinya sendiri, ber­nama Ja`clah binti al-As’as. Ia dipilih oleh Mu`awiyah dengan janji memberinya uang sebesar 100.000 dirham serta akan dijadikan istri oleh Mu`awiyah. Namun setelah Ja`clah membunuh Hasan dengan meracunnya, Mu`awiyah tidak menikahi­nya. Kepada Jeclah hanya diberikan uang imbalan 100.000 dirham.

Hasan akhirnya wafat dengan sangat tragic dalam usia 47 tahun. Di kalangan Syi`ah Hasan bin All dianggap sebagai Imam kedua dalam rentetan Imam-Imam Syi`ah.

 

Advertisement