Advertisement

Hasan al-Banna dilahirkan pada 1906 (1325 H) di kota Mahrnudiyah, propinsi Buhairah, Mesh. Ayahnya, Syekh Ahmad Abdur-Rahman al-Banna, seorang ulama yang hafal al-Quran. Sebagai anak seorang ulama, Hasan al-Banna memperoleh pen­didikan dasar keagamaannya di lingkung­an keluarga. Kemudian, ia dimasukkan ayahnya ke sekolah dasar ar-Rasyad ad­Diniyah. Pada usia 12 tahun, Hasan al­Banna pernah menyaksikan praktek zikir tarekat al-Hasafiyah yang diselenggarakan setelah salat Isya. Praktek zikir tersebut menampilkan paduan suara yang serasi, irama yang seronok, dan kekhusyukan yang lama. Di samping itu, dalam kelom­pok tersebut, Hasan al-Banna menangkap kesan tentang kelapangan hati dan kesa­lehan orang tua-tua serta kerendahan orang-orang muda. Rupanya, suasana seperti itu sangat mengesankannya.

Sejak itulah nama Syekh Hasafiyah, guru tarekat tersebut, melekat kuat dalam hati­nya. Hasrat untuk berjumpa, duduk ber­dampingan dan belajar kepada Syekh ini, senantiasa menggodanya. Bahkan, pada masa itu pula, ia sempat membaca buku al-Manlial as-Safi fi ManiNib Hasanain al­Hasafi (Telaga Bening, Jejak-Langkah Ha­sanain al-Hasafi). Buku ini, sebagaimana tarekatnya, sangat mengesankan hati Ha­san al-Banna. Ia sangat mengagumi Syekh Hasafi. Fenomena ini, kekaguman Hasan al-Banna terhadap Syekh Hasafi dan tare­katnya, untuk seorang anak berusia 12 tahun, sesungguhnya, merupakan sesuatu yang luar-biasa.

Advertisement

Pada 1920 (1339 H) ia pindah ke seko­lah guru, Dar al-Mu’allimin di Damanhur. Rupanya, pesona tarekat al-Hasafiyah se­makin memenuhi jiwanya. Akhirnya, pada (1922 Ramadan 1341 H). Ia berbarat, berikrar, menjadi anggota tarekat terse-but. Setahun kemudian, 1923 (1342 H) ia pindah ke sekolah Dar al-`Ulum, Kairo. Selama belajar di sekolah ini, ia telah aktif mengikuti kegiatan tarekat. Ia me­nyelesaikan belajarnya di Dar al-Trlum pada 1927 (1346 H). Kemudian, ia diang­kat menjadi guru di salah satu sekolah di kota Ismailiyah, sekitar terusan Suez. Selain mengajar, di kota ini, ia pun mulai pengaruhi oleh salah seorang guru utama­nya: Syekh Mahfuz at-Tarmisi yang ba­nyak menganut tradisi Syekh Nawawi. Se-lama belajar di Mekah, sebenarnya, ia pun mengenal ide-ide pembaharuan Muham­mad Abduh. Tetapi ia cenderung tidak menyetujui pikiran-pikiran Abduh, teruta­ma dalam hal kebebasan berfikir dan peng­abaian mazhab. Menurutnya kembali lang­sung ke al-Quran dan as-Sunnah tanpa me­lalui hasil-hasil ijtihad para imam mazhab adalah tidak mungkin. Menafsirkan al­Quran dan hadis secara langsung, tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama besar dan imam mazhab, hanya akan menghasil­kan pemahaman yang keliru tentang ajar-an Islam. Latar belakang orientasi pema­haman keislaman seperti inilah yang mem­buat Kiai. Hasyim menjadi salah seorang pendiri dan pemimpin utama Nandlatul Ulama. Tidak kurang dari 21 tahun ia menjadi Rais ‘Am, Ketua Umum, Nandla­tul Ulama (1926-1947).

Ketokohan Kiai Hasyim di kalangan masyarakat dan organisasi Islam tradisio­nal bukan saja sangat sentral, tetapi juga menjadi tipe utama seorang pemimpin. Se-lain mengembangkan Islam melaui lemba­ga pesantren dan organisasi sosial keaga­maan, ia pun aktif mengorganisir perjuang­an politik melawan kolonial. Untuk meng­gerakkan massa, dalam upaya menentang dominasi politik Belanda, ia mengemuka­kan fatwa politik keagamaan. Menurut­nya, umat Islam diharamkan berkompro­mi dengan dan menerima bantuan apa pun dari Belanda. Bahkan, perjuangan menen­tang Belanda adalah jihad, perang suci. Se-lain itu, ia pun melarang kaum muslimin Indonesia menumpang kapal Belanda da­lam melakukan perjalanan ibadat hajinya. Dengan demikian ia telah memainkan pe­ranannya sebagai tokoh karismatik.

Jauh sebelumnya, sesungguhnya, gejala ini telah terbaca oleh pemerintah pendu­dukan Jepang. Untuk menarik simpati ma­syarakat Islam Indonesia dan agar mereka tidak membuka front pergerakan terhadap pemerintah pendudukan Jepang, Kiai Ha­syim diangkat pemerintah pendudukan Je­pang sebagai Kepala Kantor Urusan Aga-ma (Shumubu) untuk wilayah Jawa dan

Madura pada 1944. Namun, karena Kiai Hasyim tidak dapat meninggalkan lemba­ga pendidikan asuhannya, pada praktek­nya jabatan tersebut diserahkan kepada anaknya, K.H. Abdul Wahid Hasyim. Ketika organisasi sosial keagamaan Masyu­mi dijadikan partai politik pada 1945, Kiai Hasyim terpilih sebagai Ketua Urnurn. Setahun kemudian, 7 September 1947 (1367 H), K.H. Muhammad Hasyim Asy`a­ri, yang bergelar Hadrat asy-Syaikh, wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/ 1964, ia diakui sebagai seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional: suatu bukti bah­wa ia bukan saja tokoh utama agama, te­tapi juga sebagai tokoh nasional.

 

Advertisement