Advertisement

Harun adalah nama saudara Nabi Musa yang diangkat sebagai rasul untuk men­dampinginya dalam berdakwah, karena Musa merasa kurang mampu menghadapi tugas berat yang dipikulnya, yaitu me­nyampaikan risalah ketauhidan kepada Fir`aun dan kaumnya, sekaligus membe­baskan Bani Israil dari penindasan dan perbudakan Fir`aun terhadap mereka.

Musa merasakan ada dua kendala besar yang dapat menghambat tugas risalahnya: pertama, beban psikologis dalam meng­hadapi ayah angkatnya, Fir`aun, dan kaumnya yang terkenal kejam dan bengis; terutama karena dengan tidak sengaja ke­tika membela salah seorang Bani Israil yang dianiaya orang Mesir, Musa membu­nuh orang Mesir itu. Kedua, kesulitan ber­komunikasi dengan kaumnya, Bani Israil. Musa dibesarkan dalam lingkungan istana, tentu ia hanya menguasai bahasa istana; karena itu ia tidak dapat berkomunikasi dengan balk dengan Bani Israil yang meng­gunakan bahasa biasa. Dengan ditemani Harun, diharapkan segala kendala tersebut dapat diatasi. Beban psikologis Musa ter­hadap ayah angkatnya, Fir`aun, dapat ber­kurang; di samping itu melalui Harun yang menguasai dengan baik bahasa rakyat, karena dibesarkan dalam lingkungan ma­syarakat biasa, Musa dapat berkomunikasi dengan Bani Israil, karena bahasa yang di­pergunakan sama.

Advertisement

Demikian, karena Harun menguasai ba­hasa rakyat dengan pasih dan memiliki kecerdasan yang kuat, dia diangkat men­jadi rasul untuk mendampingi Musa dalam menghadapi Fir`aun dan kaumnya yang angkuh dan sombong, dan membebaskan Bani Israil dari kekejaman Fir`aun untuk dikembalikan ke tanah air mereka di Pa­lestina.

Setelah mempersiapkan segalanya, da­lam surat Taha dan asy-Syu’ara dijelaskan, Musa bersama Harun diperintahkan meng­hadap Fir`aun. Terjadilah dialog antara Fir`aun dengan Musa. Pertama kali Fir`aun berusaha menjatuhkan mental Musa, de­ngan memojokkannya sebagai pembunuh yang kejam, dan anak yang tidak tahu membalas budi. Dengan bekal mental yang kuat, karena ditemani Harun, Musa dapat berkelit; bahkan berhasil memukul balik, bahwa justru Fir`aun sendirilah yang terbukti sangat kejam terhadap Bani Israil. Kemudian, masih dalam surat asy­Syu’ara dijelaskan, dialog dialihkan pada masalah-masalah metafisika, seperti masa­lah Tuhan dan kehidupan akhirat, dalam dialog itu pun Musa dan Harun dapat mengungguli Fir`aun. Merasa di pihak yang kalah, Fir`aun mengumpulkan para tukang sihir untuk menantang Musa. De­ngan kekuatan rohani dan ilmu yang di­karuniakan Allah kepadanya, Musa dapat menghancurkan dan menyingkap tabir kebohongan dan tipu daya yang dide­monstrasikan para tukang sihir Fir`aun. Meskipun demikian, dengan keangkuhan dan kesombongannya, Fir`aun tetap tidak man beriman, bahkan dia mengancam Musa, Harun dan para pengikutnya akan disiksa dan dibunuh.

Ketika Musa membawa Bani Israil ke luar dari Mesir, menyelamatkan mereka dari kejaran Fir`aun dan Bala tentaranya, menuju Palestina, Harun turut menyertai mereka. Bahkan, ketika Musa pergi ke bukit Tursina untuk menerima wahyu se-lama 40 hari 40 malam, untuk sementara memimpin dan mengawasi Bani Israil di­percayak an kepadanya.

Selama ditinggal Musa, di kalangan Bani Israil telah terjadi malapetaka besar; se­bagian besar dari mereka telah menjadi murtad, dengan menyembah patung anak sapi dari emas yang dibuat oleh Samiri (dari daerah Sameria). Harun yang men­dapat kepercayaan Musa untuk menjaga dan mengawasi Bani Israil merasa bertang­gung jawab, dia berusaha memperingatkan mereka; tetapi sama sekali tidak diindah­kan. Semakin tegas peringatan Harun, me­reka semakin melawan, bahkan Harun sen­diri mereka bunuh.

Sekembali dari bukit Tursina, Musa me­nyaksikan kaumnya telah murtad, ia ma-rah pada mereka; lebih-lebih terhadap Harun. Sambil memegang janggut dan ke­pala Harun, Musa membentak dan menu­duh Harun menghianati kepercayaannya, membiarkan Bani Israil dalam kemurtad­an. Mendapat perlakuan itu, Harun ber­usaha meredakan kemarahan Musa, dengan menyuruh melepaskan janggut dan kepalanya, kemudian dengan tenang ber­usaha menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya.

Mengetahui persoalan yang sebenarnya, Musa kemudian memanggil Samiri, untuk dimintai pertanggung-jawabannya. Dengan ketakutan Samiri menjelaskan, bahwa ia sebenarnya telah mengikuti Musa dan me­nerima ajaran yang dibawanya dengan pertimbangan akal, tidak membabi buta seperti Bani Israil. Tetapi ketika Musa per­gi ke bukit Tursina, ia mencampakkan jubah muslihat dan meninggalkan ajaran yang telah diterimanya itu, dan menyesat­kan Bani Israil dengan membuat patung anak sapi dariemas untuk mereka sembah.

Sesuai dengan dosa yang dilakukannya itu, Samiri telah dihukum dengan boikot sosial yang sangat ketat, sehingga dia ter­kena penyakit kemurungan (hypochon­driasis) dan jauh dari pergaulan sosial.

Setelah menyuruh kaumnya bertobat, dan dia pun memohonkan ampun bagi mereka, Musa bersama Harun meneruskan perjalanan; namun Harun meninggal du­nia lebih dahulu, sebelum Bani Israil sam­pai ke negeri mereka, Palestina.

Advertisement