Advertisement

Harun ar-Rasyid bin Muhammad al­Mandi, khalifah Abbasi kelima. Masa pe­merintahannya (786-809/170-193 H) merupakan puncak kebesaran.Bani Abbas. Keberhasilan Harun menjaga kestabilan, menciptakan kesejahteraan dan mengem­bangkan ilmu pengetahuan masih tetap mempunyai daya tarik tersendiri bagi ke­banyakan orang Islam. Hubungan Harun yang intensif dengan keluarga Barmak telah memberikannya visi yang lebih luas tentang seni pemerintahan. Semenjak masa remaja Harun diserahi tugas ayahnya sebagai penguasa di Armenia di bawah bimbingan khusus Yahya bin Khalid al­Barmaki. Keakraban ini telah menjadikan Yahya identik sebagai ayahnya. Namun kecenderungan ini juga mendorong Harun, sewaktu menjadi khalifah, untuk mengi­kuti pola hidup dan gaya seorang raja Per­sia daripada seorang “kepala suku Arab” yang primus inter pares. Tentunya ke­haruman nama Harun bukannya semata-mata karena keberhasilannya memenang­kan simpati para penulis dan golongan elite pada masanya, melainkan juga kare­na sukses yang ia capai dalam memimpin kekhalifahan.

Kecemerlangan pemerintahan Harun ti­daklah terjadi secara terpisah. Dukungan militer pasukan Kurasan (abna’ ad-da`wah) yang berhasil dibina oleh pemimpin dak­wah Abbasiyah merupakan modal berharga bagi kelanjutan kekhalifahan Bani Abbas. Di samping itu upaya dan kebijaksanaan para khalifah awal telah memantapkan ke­pemimpinan dan administrasi khilafah. Memang keberanian al-Mandi, ayah Harun, untuk melancarkan pembersihan terhadap kelompok elite yang diidentifisir sebagai zatadigah (jamak dari zindiq) mengacu ke­pada kekuatan dan dukungan yang dimili­ki khalifah. Kendatipun keluarga Fatimah yang dipimpin Muhammad an-Nafs az-Za­kiyah mampu membangun kekuatan ter­nyata para khalifah tidak menghadapi ke­suntan. menumpas pergolakan tersebut dan mengokohkan fondasi. kepemimpinan Bard Abbas. Yang menarik, di masa al­Mandi lah Bani Abbas mengembangkan teori baru tentang legitimasi kepemimpin­an mereka. Kalau sebelumnya raison d’etat khilafah terletak pada wasiat yang diterima Muhammad bin Ali al-Abbasi dari keluarga Ali, maka konsep baru di­kembangkan bahwa hak mereka atas khi­lafah adalah berdasar kepada hubungan kerabat antara Nabi dan pamannya, al-Abbas (`umfanah). Dengan demikian se­waktu Harun menggantikan saudaranya, al-Hadi, yang hanya setahun berkuasa, ia mewarisi dan menikmati kemantapan posisi Bani Abbas hampir dari segala segi. Dalam keadaan serupa ini, Harun berke­sempatan berbuat banyak, dan memang ia terlihat mencurahkan perhatian bukan ha­nya untuk membuat image buat dirinya melainkan juga untuk memajukan khila­fah.

Advertisement

Harun melancarkan ekspedisi ke Bizan­tium serta merebut simpati kaum mush-min dan ulama. Semenjak masa kekhalifa­han Bani Umayyah, para khalifah telah menganggap ekspedisi musim panas (sa`i­fah) ke perbatasan timur (Sugi7r) kerajaan

Bizantium sebagai kebiasaan rutin. Namun kekacauan di akhir kekuasaan Bani Umay­yah telah meredusir intensitas dan kuanti­tas ekepedisi ini; sedangkan para khalifah Abbasi awal lebih tertarik kepada masa­lah-masalah internal. Tentunya Harun bu­kanlah hanya didotong oleh upaya meme­nuhi sentimen kebanyakan rakyatnya se­bagai seorang kuat (gZizi) yang bersikeras menundukkan kekuatan non muslim me­lainkan juga didorong oleh faktor-faktor keamanan di perbatasan dan perlindungan jalur perdagangan. Hal ini berkaitan erat dengan tindakan-tindakan ekonomi yang dilancarkan para pembantu khalifah di bawah Bani Barmak guna memperkuat kemampuan keuangan Bani Abbas. Me­mang sebelum tercapainya perjanjian da­mai antara khalifah dan kaisar pada 805 (190 H), Harun selalu memimpin ekspedi­si dua tahun sekali, sebab ia membagi di antara waktunya setiap tahun untuk ber­haji ke Mekah dan baru tahun berikutnya memimpin ekspedisi ke sugar. Kalau pun tindakan-tindakan formal ini masih belum mampu menutup ekses-ekses tingkah laku pribadi Harun di kalangan ularna maka ia terbukti menaruh perhatian besar terha­dap kegiatan ilmiah dan keagamaan para ulama. Hal ini dapat dilihat dalam hubu­ngan yang ia bina dengan tokoh-tokoh ularna dan fukaha seperti Abu Yusuf. Tan-pa disadari saling pengertian dan itikad baik mustahil Kitt& al-Kharaj-nya (Aturan Perpajakan) Abu Yusuf yang cukup kritis terhadap praktek-praktek khalifah dapat diterima Harun.

Meskipun Harun dekat dengan tokoh­tokoh seperti Abu Yusuf, ia juga merintis jalan bagi pengembangan ilmu pengetahu­an secara umum. Hubungan yang telah terbina dengan para cendekiawan Jundi Syapur diperkuat Harun dengan diberi­kannya fasilitas buat mereka dan lainnya berupa madrasah Bagdad yang kemudian disempurnakan dan menjadi terkenal de­ngan sebutan Bait al-Hikmah pada masa al-Makmun. Di samping itu, kedermawan­an khalifah dan para tokoh lainnya juga mendukung berkembangnya seni dan sas­tra sebagai terbukti dengan munculnya figur-figur seperti Abu Nuwas (w.± 803/187 H), al-Kisa’i (w. 805/189 H) dan Ibra­him al-Mausil (w. 804/188 H).

Peranan keluarga Barmak yang domi­nan dan menentukan bagi pemerintahan Harun berakhir dengan tragis pada 803 (187 H). Kendatipun sebab jatuhnya kepu­tusan tugas khalifah atas keluarga Bar­mak tetap misteri, ada beberapa interpre­tasi yang cukup menarik di antaranya: kecenderungan keluarga Barmak untuk terus merekrut pasukan-pasukan baru dari Khurasan telah menimbulkan protes di an­tara para komandan baik di Bagdad mau pun di propinsi-propinsi yang strategis. Dalam situasi demikian Harun memihak kepada para komandan. Memang pada akhir masa kekhalifahannya Harun mulai menghadapi krisis, sebagaimana terlihat dari skema pembagian wilayah menjadi dua yang ia ajukan kepada para pengganti­nya, Amin dan Makmun. Di samping itu konsesi yang diberikan kepada Bani Aglab di Tunis juga menunjukkan semakin le­mahnya jangkauan keluar khalifah di Bag­dad. Bagaimana pun sampai dengan me­ninggalnya di kota Raqqah, tempat ting­galnya pada 809 (193 H) Harun tetap me­nyaksikan kemewahan kehidupan kota­kota penting, kemajuan seni dan ilmu pengetahuan serta kokohnya ekonomi dan administrasi, meski tanpa Bani Barmak.

Advertisement