Advertisement

Hamzah Fansuri adalah sufi terkemu­ka dari Aceh. Naskah-naskah tua tidak me­nyingkapkan dengan terang riwayat hidup­nya, tapi para ahli masih bisa mengenal dengan baik ajaran-ajaran tasawufnya, me­lalui sejumlah karyatulisnya sendiri, atau karya tulis ulama lain, .seperti Nuruddin­Raniri, yang melakukan penilaian terha­dap paham yang dianutnya.

Para sarjana tidaklah meragukan keber­adaan pribadinya. Dapat dipastikan bahwa ia dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yak­ni Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkel Fansuri. Para sarjana juga cen­derung menetapkan, berdasarkan kenya­taan, bahwa ungkapan-ungkapannya ka­dang-kadang diku tip dan bahkan karya­nya, Rubai, juga disyarah (dikomentari) oleh Syamsuddin Sumatrani, bahwa ia lebih dulu beberapa atau belasan tahun la­hir dan menjadi ulama terbanding dengan SyamsuddinSumatrani. Boleh jadi benar bahwa ia adalah guru, sedang Syamsuddin Sumatrani murid dan sekaligus khalifah­nya. Sementara Syamsuddin Sumatrani di­ketahui menjadi mufti dan penasihat aga­ma di Istana Sultan Iskandar Muda (1607 — 1636/ 1016-1045 H), maka tentang diri­nya terdapat isyarat bahwa ia telah men­jadi penulis pada masa pemerintahan Sul­tan Aliddin Ri`ayat Syah IV Sayyid Mu­kammil (1589-1604/997-1011 H). Isya­ rat itu terlihat pada syairnya yang berbu­nyi sebagai berikut: — Hamba mengikat syair ini — Di bawah hadrat raja yang wali — Syah Alam raja yang adil — Raja qutub sampurna kamil — Wali Allah sem­puma wasil — Raja arif lagi Mukammil.

Advertisement

Tidak dapat dipastikan kapan dan di­mana ia lahir, namun ada beberapa isyarat penting dalam syairnya berikut ini: — Hamzah nin asalnya Fansuri — Menda­pat wujud di tanah Syahr Nawi — Beroleh Khilafat ilmu yang ‘all — Dan pada Abdul Qadir Sayyid Jailani.

Dan syairnya itu dan dari namanya sen­diri dapat dipahami bahwa is berasal dari keluarga Fansuri, ‘yakni keluarga yang su­dah sekian lama berdomisili di Fansur, de­kat Singkel, sehingga mereka dan turunan mereka pantas digelari Fansuri. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama All Fan­suri, ayah dari Abdurrauf Singkel Fansuri. Para ahli cenderung memahami dari syair di atas bahwa Hamzah Fansuri lahir di ta­nah Syahr Nawi, tapi tidak ada kesepakat­an mereka dalam mengidentifikasi tanah Syahr Nawi itu. Ada yang menunjuk ta­nah Aceh sendiri, ada yang menunjuk ta­nah Siam, dan bahkan ada sarjana yang menunjuk negeri di Persia, sebagai tanah yang diacu oleh nama Syahr Nawi.

Dan syair-syairnya juga, para peneliti mendapat kesan yang kuat bahwa ia ba­nyak mengembara dalam kawasan yang bias: ke Banten, Kudus, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Mekah, Madinah, dan lain sebagainya, dalam rangka memper­kaya dirinya dengan pengamalan dan ilmu, demi memperoleh makrifatullah, sebagai tujuan utama kaum sufi. Konon sesudah banyak mengembara, ia kembali ke Aceh; mula-mula ia mengajar di Barus, kemudian di Banda Aceh, dan akhirnya di sebuah desa antara Singkel dengan Run­deng; sebuah kuburan di desa ini dipan­dang oleh masyarakat banyak sebagai ku­buran Hamzah Fansuri, yang diperkirakan wafat pada dasawarsa pertama abad ke-17.

Boleh jadi Hamzah Fansuri menghasil­kan karya tulis yang banyak. Akan tetapi karya-karya tulisnya itu bersama karya­karya tulis Syamsuddin Sumatrani, dibi­nasakan (dibakar) berdasarkan perintah Sultan Iskandar Sani (1636-1641/1045­1050 H) atau anjuran Nuruddin ar-Raniri, mufti dan penasihat agama di Istana Sul­tan tersebut. Meskipun demikian para pe­neliti masih berhasil menjumpai turunan (salinan) dari sejumlah karya tulisnya, seperti: Asrar _ (Rahasia Orang­orang Arif), Syarab al-`Asyigin (Minuman Orang-orang yang Asyik), Zinat al-Muwah­hidin (perhiasan Orang-orang yang Meng­esakan Tuhan), Syair si Burung Pungguk, Syair si Burung Pingai, Syair Perahu, dan lain-lain. Karya-karya tulis tersebut ditulis dalam Bahasa Melayu, tiga pertama dalam bentuk prosa, sedang yang lain berbentuk syair.

Dari penelitian terhadap naskah-naskah tua, dapat disimpulkan bahwa karya-karya tulis Hamzah Fansuri merupakan awal ke­lahiran literatur Islam dalam Bahasa Mela­yu. Selain itu ia tercatat sebagai orang yang pertama memperkenalkan puisi da­lam bentuk syair ke dalam sastra Melayu. Ia juga,agaknya ulama pertama yang mem­bawa ke Aceh atau Asia Tenggara paham wandatul wujud (kesatuan wujud), yang berasal dari Ibnu Arabi.

Kesatuan wujud, antara Tuhan (wujud hakiki yang tetap) dengan alam (wujud bukan hakiki, yang berobah) diibaratkan oleh Hamzah Fansuri, antara lain sebagai berikut: “Jika ditunu (dibakar) asrafi itu, asrafi juga yang hangus, emas tiada ha­ngus. Sungguh .pun asrafi dengan emas tia­da bercerai seratus kali atau seribu kali di­perbuat, maka apabila ditunu, asrafi juga yang hangus, emas baka: manakan hangus dan manakan lenyap! Karena asrafi seperti makhluqat, emas seperti Khaliq, makhluk juga yang hangus dan binasa….”

Hamzah Fansuri memang sering menun­jukkan tasybih (keniiripan) antara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya, tapi ia tidak lupa menunjukkan tanz ih, perbedaan esensil, antara keduanya, seperti yang da­pat dir-asakan dari kutipan di atas. Oleh sebab itu tidaklah tepat paham wandatul­wujud Hamzah Fansuri ini divonis sesat atau divonis sebagai paham panteisme, se­perti yang dipahami sebagian ahli atau ula­ma.

Advertisement