Advertisement

Hamzah bin Abdul Mutalib, salah seorang tokoh Quraisy yang telah meneri­ma ajaran Islam semenjak masa awal ke­nabian. Sebagai paman Nabi Muhammad yang muslim, Hamzah berperan besar da­lam memberikan dorongan moral dan per­lindungan terhadap Nabi, .khususnya sela­ma periode Mekah. Walaupun peranan Hamzah tidak dapat disamakan dengan Abu Talib, penerimaannya secara ter­buka atas ajaran Nabi telah memper­kuat barisan orang-orang Islam yang mino­ritas di Mekah. Posisi Hamzah semakin menanjak setelah hijrah ke Madinah.

Keterlibatan penghuni Madinah ke da­lam konflik fisik dengan Mekah melahir­kan serdadu-serdadu yang tangguh, terma­suk Hamzah bin Abdul Mutalib. Sebagai seorang pemuka dari 86 Muhajirin yang terjun ke Perang Badr (624/2 H), Hamzah memberikan andil penting dalam menyu­sun strategi menghadapi pasukan Mekah yang lebih besar jumlahnya. Akibat ke­beranian dan peranannya dalam Perang Badr, Nabi memberinya gelar “Singa Allah” (asad Karenanya tak meng­herankan jika tindakan-tindakannya yang berani di Badr menimbulkan rasa dendam, khususnya di antara keluarga Mekah yang kehilangan anggota kerabat dalam perang tersebut. Perasaan bela-sungkawa dan den-dam kelompok Quraisy ini dapat dilihat dalam syair yang diucapkan Hind istri Abu Sufyan atas kematian ayahnya Utbah bin Rabi`ah bin Abdi Syams di tangan Hamzah:

Advertisement

“Wahaikedua mataku yang digenangi air­mata karena (gugurnya) lelaki terbaik dari Khindif yang tidak akan kembali lagi”.

Atiggota keluarganya sendiri dari kera­bat ayahnya, baik Bani Hasyim maupun Bani al-Mutalib, telah membunuhnya. Me­mang sewaktu orang-orang Quraisy melan­carkan serangan ofensif ke Madinah pada 625 (3 H) yang kemudian dikenal dengan Perang Uhud, dendam semacam ini dapat tersalurkan. Hal ini terutama disebabkan karena keberhasilan pasukan Quraisy me­robek-robek barisan pertahanan pengikut Nabi dengan menjatuhkan banyak korban, termasuk Hamzah. Pembunuh Hamzah adalah Wahsyi, seorang sahaya milik Ju­bair bin Mut`im an-Naufali yang juga ke­hilangan pamannya di tangan Hamzah pada Perang Badr. Di samping itu, seusai pertempuran Hind istri Abu Sufyan yang ikut ke medan perang bersama rombongan wanita Quraisy guna membangkitkan se­mangat juang pasukan Mekah, tampil ke depan merobek-robek badan Hamzah yang telah gugur. Tindakan sadis ini ke­mudian diikuti dengan merenggut hati Hamzah dan mengunyahnya (akilat al-ka­bid) sebagai lampiasan rasa dendam atas kematian ayahnya, Utbah. Kejadian yang mengerikan atas tubuh tokoh sahabat pen­ting seperti Hamzah tersebut memang me­nimbulkan kepedihan yang dalam atas Nabi dan para pengikutnya, sehingga tak mengherankan jika peristiwa itu digam­barkan dalam beberapa hadis.

 

Advertisement