Advertisement

Hamka, singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia dilahirkan pada 16 Februari 1908 (1327 H) di Maninjau. Su­matra Barat. Ayahnya, Syekh Haji Abdul Karim Amrullah, terkenal dengan sebutan Haji Rasul, adalah seorang ulama yang cu­kup terkemuka dan pembaharu di Minang­kabau. Kecuali Sekolah Dasar, Hamka tidak memperoleh pendidikan formal. Se-lain pendidikan dasar keagamaannya di­peroleh di lingkungan keluarga, Hamka terkenal seorang otodidak dalam bidang agama. Keahliannya dalam bidang ke­islaman diakui dunia internasional. Kare­nanya, pada 1955, ia memperoleh gelar kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas al-Azhar. Sebelas tahun ke­mudian, 1976, gelar yang sama diperoleh­nya dari Universiti Kebangsaan Malaysia,

Pada usia remaja, ia mulai merantau ke Jawa. Di sini ia banyak belajar kepada, antara lain, H.O.S. Cokroaminoto. Kemu­dian, ia aktif dalam organisasi Muhamma­diyah. Tidak lama berselang, 1927, ia be­rangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadat haji. Sekembali dari Mekah, ia ting­gal di Medan, Sumatra Utara. Di sini, agak­nya, ia memulai karir keulamaannya. Se­iring dengan itu, antara 1938-1941, ia aktif sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam. Selama rentang waktu itu, ia mulai banyak menu­lis roman, suatu aktivitas yang dipandang menyalahi istiadat keulamaan tradisional. Karenanya, kemudian, timbul reaksi yang cukup menghebohkan dari pihak yang ti­dak setuju.

Advertisement

Adapun di antara roman yang ditulis­nya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939) dan Merantau ke Deli (1940). Ke­mudian yang bersifat kumpulan cerita pendek adalah Di Dalam Lembah Kehi­dupan (1940). Karya sastranya dipandang terpengaruh pujangga Mesir, al-Manfaluti. Selain itu, pada 1960-an, timbul tuduhan terhadap roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck sebagai plagiat dari roman Al- phonse Karr (pengarang Prancis) yang telah disadur ke dalam bahasa Arab oleh al-Manfaluti. Rupanya, tuduhan tersebut sempat menimbulkan polemik yang cukup hebat, terutama, karena situasi itu dijadi­kan kesempatan oleh golongan kiri untuk menjatuhkan Hamka secara politis. Ini merupakan gejala kontroversi yang me­nunjukkan bahwa ketokohan Hamka, baik sebagai ulama maupun sastrawan, sesung­guhnya, cukup mengakar pengaruhnya di masyarakat.

Karena ketokohan Hamka, Junus Amir Hamzah merasa perlu untuk mengumpul­kan dan menerbitkan polemik tersebut pada 1964 dengan judul Tenggelamnya Kapal van der Wijck dalam Polemik. Bah­kan, setahun sebelumnya, 1963, Junus Amir Hamzah telah menulis buku tentang roman-roman Hamka dengan judul Hamka sebagai Pengarang Roman.

Ketokohan yang semakin mengakar ini­lah, khususnya dalam bidang keulamaan, dan pengaruh Hamka dalam masyarakat sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan politik Orde Lama. Atas dasar ini, Hamka sempat meringkuk dalam pen­jara selama beberapa tahun. Namun demi­kian, ternyata, penjara bagi Hamka mem­beri hikmah yang tidak ternilai. Selama di penjara, ternyata, ia berhasil menyelesai­kan karya monumentalnya, Tafsir al-Az­har.

Selain karya monumental tersebut, Hamka terkenal sebagai ulama yang sangat produktif. Ia menulis bukan saja dalam bidang pengetahuan keislaman yang lebih bersifat umum, melainkan juga yang lebih bersifat khusus, bidang tasawuf. Dalam bidang ini ia menulis, misalnya, Tasawuf, Perkembangan dan Pernurniannya, dan Tasawuf Modern. Bahkan, bidang ini sa­ngat mewarnai metodenya dalam me­nyampaikan pesan-pesan keislaman, ber­dakwah. Kecuali pengetahuannya yang cukup luas, Hamka terkenal seorang ula­ma yang berpandangan moderat; sehingga ia bisa diterima oleh semua pihak. Panda­ngan moderatnya, boleh-jadi, sangat dipe­ngaruhi oleh semangat tasawufnya. Seba­gaimana diketahui, dalam disiplin ilmu keislaman tradisional, tasawuf merupakan satu-satunya disiplin yang mengajarkan pandangan moderat.

Ketokohan dan kemoderatan Hamka sangat menonjol, terutama, semenjak menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia. Ia mampu berkomunikasi dengan segala la­pisan masyarakat. Di kalangan masyarakat awam, Hamka sangat terkenal dengan pi­datonya yang sangat menyejukkan hati dan, sekaligus, memberikan semangat dan rasa optimisme. Sedangkan untuk kalang­an elite, termasuk pemerintah, Hamka mampu menyajikan pemahaman keislam­an yang lebih rasional, yang didasarkan kepada suatu keluasan pandangan. Sehing­ga semangat dan pesan ajaran keislaman dapat dimengerti dan diterima secara baik. Melihat figur atau ketokohan Hamka se­perti ini, khususnya dilihat dari segi tradisi keulamaan tradisional, agaknya, masih sulit menemukan penggantinya hingga kini.

Dalam bidang pembaharuan, sesungguh­nya, boleh dibilang, Hamka tidak memaju­kan gagasan-gagasan yang bersifat khas. Kecuali itu, Hamka terkenal seorang yang sangat menentang semangat dan dominasi adat terhadap ajaran agama, khususnya, di daerah Minangkabau yang struktur dan pola-pola hubungan kekeluargaannya ber­sifat matriaxkal, pola hubungan yang ber­dasarkan garis keibuan.

Adapun dalam bidang pendidikan, se­bagai orang yang pemah memperoleh anugerah Doctor Honoris Causa dari Uni­versitas al-Azhar pada 1955, Hamka ber­cita-cita — sebagaimana yang diungkap­kan dalam sebuah ceramahnya memba­ngun al-Azhar kedua ,di Indonesia, setelah Mesh, Sampai tarap tertentu, agaknya, kini cita-cita Hamka sudah mulai terwujud dalam bentuk lembaga pendidikan al-Az­har, (di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Akhirnya, Hamka, seorang ulama tradisio­nal yang moderat dan diterima oleh se­mua lapisan dan golongan masyarakat, wa­fat pada 24 Juli 1981 (1401 H), di Jakarta.

Advertisement