Advertisement

H.O.S. Cokroaminoto, dilahirkan pa­da 16 Agustus 1882 di Madiun, Jawa Ti­mur. Ayahnya, Cokroamiseno, seorang Wedana di Kloco, Madiun, Jawa Timur. Pada masa anak-anak, Cokroaminoto di­asuh di lingkungan pesantren. Kemudian, ayahnya memindahkannya ke sekolah Belanda. Sekitar usia 20 tahun ia lulus Ba­ri sekolah Pamong Praja (Bestuurs-school) di Magelang. Setelah itu, ia bekerja sebagai juru tulis di Kepatihan Ngawi selama tiga

tahun, 1902-1905. Tidak lama kemudi­an, 1905, ia pindah ke Surabaya dan be­kerja di perusahaan Belanda, Firma Cooy & Co., sambil sekolah malam di Burger­lijke Avondschool Afdeeling Werktuigkun­de, bagian mesin. Setelah lulus, ia pindah ke pabrik gula dekat Surabaya. Di pabrik tersebut, ia bekerja sebagai pembantu tek­nisi. Atas prestasi kerja yang berhasil di­tunjukkannya, Cokroaminoto naik kedu.– dukannya, menjadi analis.

Advertisement

Di samping bekerja, Cokroaminoto ter­tarik kepada dunia jurnalistik. Pada 1907-1910, ia aktif sebagai wartawan. Selama aktif dalam dunia jurnalistik, ia sempat mendirikan surat kabar Utusan Hindia, Fajar Asia, dan majalah alJihad. Melalui media tersebut, ia dapat menuang­kan ide-ide dan semangat pergerakan Na­sional serta kepentingan sosial ekonomi umat Islam. Ide-ide dan semangat terse-but, kelak; dituangkannya ke dalam orga­nisasi sosial politik, Syarekat Islam (SI) yang sebelumnya bernama Syarekat Da-gang Islam (SDI). Antara tahun 1911­1913, ia diangkat menjadi ketua cabang SI Jawa Timur.

Untuk mempeduanglcan kepentingan sosial politik bangsa, khususnya umat Is­lam, Cokroaminoto sempat menjadi ang­gota Volksraad (Dewan Rakyat) pada 1918 mewakili Partai Syarekat Islam. Ber­sama Haji Agus Salim, 1926, Cokroamino­to mendirikan • organisasi Haji Hindia. Se­tahun kemudian, mereka membentuk or­ganisasi Muktamar Alam Islami Far`ul Hindi Syarqiyah (MAIHS). Organisasi ter­sebut bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia berdasarkan keis­laman.

Di sela-sela kesibukannya, Cokroamino­to masih sempat menulis. Setidaknya, ter­catat dua buah buku keislaman sebagai ba­sil karyanya. Guna umat memahami seja­rah Islam dan kehidupan Nabi Muham­mad, ia menulis buku dengan judul Tarikh Agama Islam. Buku ini, terutama, disari­kan dan karya Amir Ali,. The Spirit of Is­lam, dan karya Kwaja Kamaluddin, The Ideal Prophet dan The Prophet of Muham­mad. Sedangkan yang bersifat ideologis, baik sistem politik maupun sosial, ia menulis Islam dan Sosialisme. Dalam buku yang disebut belakangan ini, menguraikan secara tegas tentang sistem ajaran dasar Islam yang menjunjung tinggi kemerdeka­an, persamaan, dan persaudaraan.

Di atas segalanya, untuk kalangan massa rakyat, Cokroaminoto terkenal se­bagai seorang tokoh dan pemimpin kha­rismatik. Ketokohannya menjadi demiki­an populer dikarenakan, bukan saja ia ber­usaha keras menumbuhkan kesadaran atas hak sosial politik massa rakyat dan ber­juang membebaskannya, melainkan juga terkenal seorang orator (ahli pidato) yang ulung. Sehingga, melalui keahlian pidato­Rya, ia dengan mudah dapat mengomuni­kasikan ide-ide perjuangannya kepada massa. Bagi kalangan massa rakyat yang tengah tertekan demikian rupa secara so­sial politik, kehadiran seorang tokoh pem­bebas yang bahasanya dapat mereka pa­hami merupakan suatu kenyataan yang luar biasa. Bahkan, dalam keadaan demi­kian, mereka sering tidak dapat meman­dang seorang tokoh sebagaimana adanya. Dengan kata lain, mereka cenderung me­mitoskan figur seorang tokoh pembebas. Atas dasar gejala inilah, sebagian massa rakyat memandang Cokroaminoto sebagai Ratu Adil, khususnya untuk tradisi buda­ya Jawa. Cokroaminoto yang terkenal sebagai tokoh dan pemimpin kharismatik iiyafat di Yogyakarta pada 1934 dalam usia sekitar 52 tahun.

Advertisement