Advertisement

Fir’aun adalah sebutan (gelar) bagi raja­raja Mesir Kuno. Kata ini kelihatannya berasal dari bahasa Ibrani PerO yang arti­nya Rumah Besar. Gelar ini diterapkan se­cara turun temurun kepada raja-raja Mesir Kuno, karena mereka dianggap sebagai ti­tisan dewa-dewa negbri Mesir, seperti Ho­rus, Buto dan lain-lainnya.

Al-Quran dan Perjanjian Lama meng­gambarkan Fir`aun sebagai penguasa yang lalim, kejam dan bengis terhadap rakyat­nya lebih-lebih terhadap Bani Israil. Bani Israil yang hidup dengan tenteram selama kurang lebih satu setengah abad pada ma­sa pemerintahan dinasti flyksos,isejak di­pimpin oleh raja-raja dari dinasti baru, ter­utama sejak Ramses II naik tahta, hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan, me­reka menjadi budak dan buruh-buruh ka­sar. Kesengsaraan dan penderitaan mereka mencapai puncaknya ketika Fir`aun Ram­ses II mengangkat dirinya sebagai Tuhan, penjelmaan Dewa Osiris, yang wajib dipu­ja dan disembah oleh segenap penduduk Mesir. Di samping itu, Fir`aun memerin­tahkan para pejabat negaranya untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Is­rail yang lahir.

Advertisement

Pengakuan Fir`aun Ramses II sebagai Tuhan bagi bangsa Mesir, diduga karena dia merasa telah berhasil membangun ne­geri Mesir mencapai tingkat kemakmuran yang tinggi. Akibat kekuasaan yang abso­lut dan tercapainya kemakmuran yang tinggi ini, maka tumbuhlah keangkuhan dan kesombongannya sehingga mengang­kat dirinya sebagai Tuhan. Sedangkan yang menjadi penyebab ia memerintahkan para pejabatnya untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil yang lahir adalah pengaruh dari takwil mimpinya. Dalam mimpinya, Fir`aun melihat seorang laki-la­ki datang dari Bait al-Muqaddas, tanah asal Bani Israil, membawa api ke rumah­nya. dan membakar istananya. Mimpi ter­sebut ditakwilkan oleh para pembesarnya, bahwa negeri Mesir akan dihancurkan oleh seorang laki-laki yang berasal dari Bani Is­rail. Oleh sebab itu, setiap anak laki-laki Bani lsrail yang lahir harus dibunuh. Ka­lau ditinjau dari sudut sosiologis dan poli­tis, pengakuan dirinya sebagai Tuhan dan pernbunuhan terhadap setiap anak laki-la­ki Bani Israil yang dilakukan oleh Fir`aun Ramses II, sebenarnya dalam rangka ber­usaha untuk melanggengkan kekuasaan­nya (status quo) saja.

Begitu angkuh, sombong dan tirannya Fir`aun, seperti diceritakan dalam al­Quran dan Perjanjian Lama, sehingga keti­ka Musa diutus oleh Allah untuk menyam­paikan ajaran Tauhid dan mengembalikan Bani Israil ke negeri asal mereka (Palesti­na), meskipun berbagai bukti kebenaran kerasulan (mu7izat) Musa telah dide­monstrasikan di hadapannya, dia tetap menolak untuk beriman; bahkan mengan­cam Musa dan Bani israil akan dibunuh. (Lihat Mus’a dan Harun). Dan karena kesombongan dan keangkuhannya pula, Fir`aun dan bala tentaranya tenggelam di tengah liutan, ketika mereka berusaha mengejar Musa dan Bani Israil yang tengah menuju Palestina. Setelah Fir`aun tengge­lam, mayatnya terdampar di pantai dike­temukan oleh orang-orang Mesir, kemudi­an dibalsem dijadikan mummi. Mummi tersebut sampai sekarang masih ada di mu­sium Mesir.

Advertisement