Advertisement

Fatimiyah, dinasti Syrah yang berkuasa dari 909 (296 H),sampai dengan 1173 (569 H) atas dasar legitimasi klaim keturunan Nabi lewat Fatimah untuk memerintah. Kelompok Syi’ah ini berpendapat bahwa Ismail bin Jafar as-Sadiq (w. 765/148 H), bukannya Musa saudaranya, yang berpe­ran sebagai imam ketujuh menggantikan ayah mereka. Berdasarkan legitimasi kepe­mimpinan Ismail inilah, sebuah gerakan politik keagamaan (ad-da’wah

y ah) diorganisir. Gerakan ini akhirnya ber­hasil merealisir, untuk pertama kali, pem­bentukan sebuah pemerintahan Syi’ah yang eksklusif (asy-syi’ah

Advertisement

atau asy-sab `iyah).

Gerakan Syi`ah Fatimiyah membuktf­kan potensi doktrin mesianik dan sentralitas organisasi penopangnya. Walaupun Syi`ah Fatimiyah menganggap Ismail seba­gai imam mereka, kenyataannya Ismail tak pernah berperan secara independen terutama karena kematiannya yang dini bahkan sebelum ayahnya, Imam Jafar. Namun hal ini tidak menghalangi berkem­bangnya para pendukung keturunan Is­mail serta fermentasi doktrin Ismaili yang mandiri. Kemampuan berkembang ini ten­tunya tidak lepas dari dominasi Bani Abbas yang dirasakan oleh semua kelom­pok Syi`a.h. Dengan dukungan para peng­ikut mereka, keturunan Ismail berhasil menjadi titik panutan bagi sebuah gerakan politik keagamaan. Keberhasilan para pen­dukung Bani Ismail memberikan perlin­dungan buat imam-imam mereka di Sala­miyah, Siria, telah memudahkan pengor­ganisasian dakwah Fatimiyah. Meskipun dinyatakan bahwa dakwah Fatimiyah te­lah dimulai semenjak dini, kelihatannya baru pada masa Abu Ubaidillah Husein, generasi keempat setelah. Ismail, secara aktif dakwah Fathniyah dilancarkan. Dok­trin yang dipopulerkan adalah berhaknya anak Abu Ubaidillah atas posisi “Penyela­mat” ( al-Mandi). Penyebaran doktrin ini menjadi sangat efektif karena pemanfaat­an sistem jaringan para agen (du`ah jamak dari dai) yang terorganisir rapi.

Abu Ubaidillah yang memimpin dak­wahnya •dari Salamiyah memenangkan du­kungan luas di beberapa daerah yang ku­rang diperhatikan para khalifah Abbasi. Lewat upaya para dai seperti Ali bin Fadl al-Yamani dan Ibnu al-Hawsyab al­Kufi, Yaman, termasuk ibukotanya Sa­na, dapat direbut. Dengan dikuasainya Yaman maka kemampuan dakwah Fatimi­yah pun semakin tangguh dan ini ‘terbukti dengan dikirimkannya para dai ke berba­gai penjuru termasuk Afrika Utara, belah­an timur Arabia dan India. Ternyata di Afrika bagian barat dukungan yang luas dimenangkan para dai dibawah Abu Ab­dullah asy-Syi’i. Dengan mengetengahkan konsep akan datangnya al-Mandi dari ke­turunan Nabi, para dai berhasil rnenjadi­kan suku-suku Barbar sebagai pendukung kepemimpinan Ubaidillah al-Mandi. Akhir­nya dengan dukungan pasukan yang keba­ nyakan terdiri dari orang-orang Barbar­Kutamah, asy-Syi’i berhasil menduduki Raqqadah, pusat pemerintahan Bani Ag­lab. A1-Mandi yang baru menggantikan ayahnya akhirnya datang ke Tunis untuk ditabalkan sebagai khalifah (amir al­mu’minin), pada 909 (297 H).

Dalam memperkuat posisinya al-Mandi mengambil beberapa tindakan penting. Se­bagai seorang pemimpin yang tak banyak mengetahui situasi setempat, al-Mandi sa­ngat bergantung kepada para dai seperti asy-Syi`i. Namun karena yang disebut bela­kangan rupanya banyak memberikan ha­rapan dan konsesi. terhadap penduduk lo­kal, ia dianggap kurang memenuhi pro­gram al-Mandi yang universal. A1-Mandi pun melancarkan pembersihan atas figur­figur yang dicurigai termasuk asy-Syi`i. Di samping itu al-Mandi berusaha menekan keresahan orang-orang Barbar atas per­ubahan yang dilakukannya dengan mem­perkenalkan sistem perpajakan baru yang lebih ringan dan membebaskan pajak bi­natang. Juga, ia memberikan kompensasi kepada orang-orang Barbar dengan meng­adakan ekspedisi ke wilayah-wilayah Laut Tengah seperti Genoa, Sisilia dan Mesir, kendatipun al-Mandi sangat berhati-hati untuk tidak melawan kepentingan-kepen­tingan penguasa Umawi di Andalusia. Me­mang penguasa-penguasa Fatimi berhasil membangun armada laut kuat yang ber­pangkalan di ibukota Mandiyah.

Masa kegemilangan dinasti Fatimi di­tandai dengan berpindahnya pusat peme­rintahan ke Kairo. Meskipun akhirnya hampir seluruh Afrika Utara bagian barat dapat dikuasi penguasa Fatimi, terutama setelah penaklukan wilayah Magrib oleh Jawhar asy-Siqilli pada 958 (347 H.) ke­kuasaan Umawi tetap menghalangi ambisi mereka di kawasan barat. Sebaliknya, ter­bukanya medan sebelah timur dengan di­kuasainya Mesir pada 969 (358 H) telah memberikan prospek baru bagi dinasti Fa­timi. Kemampuan dan ambisi penguasa Fatimi dapat dilihat dari pembangunan kota Kairo yang megah oleh Jawhar pada 970 (359 H). Setelah Kairo berdiri dan di­lengkapi dengan berbagai sarana termasuk masjid al-Azhar yang juga merupakan pusat pendidikan para dai, maka khalifah al­Muizz (w. 975/364 H) pun pindah ke ibu­kota baru tersebut pada 973 (362 H). Kanudian dinasi Fatimi yang ditopang clengan wilayah pengaruhnya yang luas aarnpu membangkitkan berbagai kegiatan ilmiah, perdagangan, dan keagamaan, wa­laupun peralihan orientasi mereka ke timur secara perlahan melenyapkan ke­kuasaan mereka di bagian barat. Memang pada 1041 (433 H) wakil mereka di Tunis, Bani Ziri, menyatakan tak terikat dengan khalifah Fatimi.

Berdirinya khalifah Fatimiyah sebagai entitas politik Syi`ah mendorong lahirnya eerakan-gerakan baru. Khalifah Fatimi ke­enam, al-Hakim (996-1021), dapat me­menangkan popularitas yang luas bukan hanya lewat keberhasilannya memajukan ilmu dan menjamin stabilitas melainkan juga lewat tingkah lakunya yang eksen­trik. Ia, umpamanya, menolak pengakuan umum atas dirinya sebagai imam dan me­larang kaum lelaki tidur di malam hari. Kemuaian sirnanya secara misterius pada 1021 telah mengilhami timbulnya kelom­pok Druzi di Libanon yang mengharap kedatangan kembali al-Hakim guna mene­gakkan keadilan dan kebenaran. Yang juga menarik konsepsi imamah kelompok Fati­mi ini bukan berhenti pada imam ketujuh tetapi merupakan siklus tujuh, karena ke­hidupan manusia tak bisa dilepaskan dari kehadiran imam. Mereka menolak bahwa al-Mandi hanya akan muncul di akhir za­man, sebab setiap imam juga bcrperan se­bagai al-Mandi. Karenanya, kendatipun khalifah Fatimiyah seeara fonnal berakhir pada 1173 (569 H) namun kelompok Is­maili semacam Nizariyah hingga dcwasa ini tetap mengakui adanya imam penerus.

Advertisement