Advertisement

Fatahillah adalah salah seorang wali sembilan yang dalam rangka melaksana­kan misinya untuk mengislamkan Jawa Barat, berhasil mendirikan dua buah kera­jaan Islam, Banten dan Cirebon, dan me­nguasai Sunda Kelapa, pelabuhan terpen­ting bagi kerajaan Hindu, kerajaan Pakuan (Bogor). Ada yang mengatakan bahwa na­manya Fatullah Khan yang oleh orang­orang Portugis diucapkan Faletehan dan berasal dari Pasai. Natna aliasnya banyak, antara lain: Syarif Hidayatullah, Syekh Nurullah, Muharmnad Nuruddin, Sayyid K.amil, Syckh Mazkurullah, Makdum Jati, Maulana lsrail, dan Sunan Gunung Jati. Olch karena pada 1521 Pasai ditaklukkan oleh Portugis, ia meninggalkan negerinya untuk melakukan ibadat haji ke Mekah. la tidak mau kembali ke negerinya, me­lainkan ke keraton Demak di Jawa. Ia di­kawinkan dengan saudara perempuan Sul­tan Trenggono dan dengan bantuan laskar dari Demak, ia menuju Jawa Barat. la ke Circbon lebih dahulu, baru ke Banten se­kitar 1525, dan berhasil menyingkirkan bupati Sunda di kota itu. Tahun 1527, ko­ta pclabuhan yang sangat penting bagi per­dagangan kerajaan Hindu Pajajaran, yaitu Sunda Kelapa, berhasil ia rebut yang mela­lui perjuangan yang cukup scngit meng­ingat letaknya yang tidak jauh dari pusat kerajaan Pakuan (Bogor). Keberhasilan ini cukup pcnting, sehingga kota pelabuhan ini diubah namanya menjadi Jayakarta. Orang-orang Portugis yang hendak mendi­rikan perbentengan di kota pelabuhan itu atas dasar perjanjiannya dengan raja Paja­jaran (1522), dapat digagalkan setelah ter­jadi kontak senjata. Karena keberhasilan ini, Sultan Trenggono, menghadiahkan se­pucuk meriam (1528) yang dibubuhi ta­hun tersebut. la tidak berusaha untuk me­naklukkan Pakuan, tetapi memperluas ke­kuasaannya atas kota-kota pelabuhan yang semula terrnasuk Pajajaran.

Menurut babad Jawa, Fatahillah me­ninggalkan salah seorang putranya di Ci­rebon untuk bertindak seba7gai wakilnya. Putranya ini kawin dengan putri Sultan Trenggono, dan wafat dalam usia muda pada 1552. Agaknya hal itu merupakan alasan baginya untuk menetap di Cirebon.

Advertisement

Banten diserahkan kepada putranya yang lain, Sultan Hasanuddin, yang juga menja­di penguasa atas Jayakarta. Iapun kawin dengan putri Sultan Trenggono yang lain, sehingga dua kerajaan Islam di Jawa Barat itu tetap setia kepada Demak, sampai De­mak Merigalami kernelut perang saudara setelah Sultan Trenggono gugur dalam pertempuran di Panarukan, Jawa Timur (1546).

Fatahillah pindah ke Cirebon dalam usia lanjut, lebih dari 60 tahun. Ia mendi­rikan mesjid besar dengan gaya mesjid De­mak dan memperluas tempat-tempat iba-. dat. Ada kemungkinan, bahwa selama ma­sih menetap di Banten, sekali-kali ia pergi ke Cirebon, sebab ada riwayat yang me­ngatakan bahwa di situ ia pernah meneri­ma Raden Mas Sahid yang kemudian men­jadi Sunan Kalijaga.

Fatahillah yang besar jasanya terhadap penyebaran islam di Jawa Barat itu wafat 1570 dalam usia lebih dari 80 tahun. Je­nazahnya dimakamkan di Gunung Jati (konon pada mulanya bernama Gunung Sembung), 7 km di sebelah utara Cirebon, sehingga terkenal pula dengan nama Su­nan Gunung Jati. Makamnya menjadi tempat ziarah yang ramai sampai seka­rang.

 

Advertisement