Advertisement

Dr. Husein Jayadiningrat, dilahir­kan pada 8 Desember 1886 (1302 H) di Banten, Serang, Jawa Barat. Ayahnya se­orang Bupati Serang. Sejak semula, se­bagai seorang anak pejabat pemerintah, ia disekolahkan di lembaga pendidikan Belanda. Sebagairnana kakaknya, Aria Ahmad Jayadiningrat, sebagai murid per­tama yang dipromosikan Snouck Hur­gronje (penasihat Politik Islam Hindia Belanda) untuk dididik di sekolah Belan­da, :HUsein pun termasuk salah seorang di antaranya. Sebelum menyelesaikan se­kolah lanjutannya, HBS di Batavia (Ja­karta), Snouck Hurgronje telah meng­ajarinya bahasa Yunani dan Latin. Keti­ka berusia 18 tahun, 1904, ia diberang­katkan ke Negeri Belanda dan dimasuk­kan ke sekolah Gymnasium di Leiden. Setahun kemudian, 1905, ia memasuki Universitas Leiden, jurusan Bahasa dan Sastra Nusantara.

Selama belajar di sana, selain tidak ter­tinggal oleh kemampuan para mahasiswa Eropa, ia pun berhasil menUnjukkan prestasinya. Bahkan, pada 1910, misal­nya, Husein berhasil memenangkan sa­yembara tentang “Aneka data karya Me­layu mengenai Kesultanan Aceh”. Tiga tahun kemudian, 3 Mei 1913, Huseiri berhasil mempertahankan disertasi Dok­tornya, Critische beschouwing van delSa­djarah Banten: Bijdrage ter kenschetsing van de Javaansche Geschiedschrijving (Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten: Sumbangan bagi Pengenalan Sifat-sifat Penulisan Sejarah Jawa), dengan predikat cum laude. Disertasinya ini telah diterje­mahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Djambatan pa­da 1983.

Advertisement

Setelah menyelesaikan studinya, ia langsung kembali ke Indonesia. Bulan berikutnya, 21 Juni 1913, ia bekerja se­bagai peneliti bahasa-bahasa Nusantara di Kantoor voor Inlandsche Zaken (Kantor Urusan Pribumi) sampai 1918. Dua ta­hun kemudian, sejak 19 Mei 1920-1925, ia menjabat Waldi Penasihat di kantor tersebut. Sementara itu, pada 1924, ia diangkat sebagai Guru besar di Sekolah Tinggi Hukum Jakarta. Pada 1934, ia menjadi ketua panitia penyempurnaan Peradilan Agama. Empat tahun kemu­dian, 1937, hasil kerja kepanitiaannya ter­wujud dalam bentuk Mahkamah Islam Tinggi. Bersamaan dengan itu, 1935, ia menjadi anggota Raad van Nederlands Indie sampai dengan 1946. Selain itu, pa­da 1940, ia menjadi Direktur Pendidikan dan Agama. Kemudian, sejak 1951, Hu­sein menjadi Guru besar Pengetahuan Keislaman dan Bahasa Arab di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di samping mengajar dan bekerja di beberapa lemba­ga pemerintah, Husein pun aktif menu­lis. Karya-karyanya adalah De Moham­medaansche wet en het geestesleven der Indonesische Mohammedanen (1925), De Magische achtergrond van de Male­ische Pantoen (1933), dan Het Atjehsch Nederlandsche Woordenboek (1934). Se-lain itu, Husein pun aktif menulis arti­kel di berbagai majalah ilmiah. Bahkan, dua atau tiga tahun menjelang kewafat­annya, ia masih sempat menyumbangkan satu tulisan tentang Islam di Indonesia untuk sebuah bunga rampai tentang dunia Islam, yang ditulis oleh berbagai Guru besar pengetahuan keislaman.

Sebagaimana diketahui, dalam bunga rampai tersebut, Prof. Dr. H.M. Rasyidi pun turut menyumbangkan satu tulisan, Kesatuan dan Kepancaragaman dalam Is­lam. Bunga rampai tersebut diterbitkan pada 1958 oleh The Ronald Company, •New York, berjudul Islam the Straight Path. Adapun penyelenggara penerbitan­nya dilakukan oleh Kenneth W. Morgan, Guru besar pengetahuan keagamaan Uni­versitas Colgate, Amerika. Kenyataan ini memberikan kesan bahwa keprofesoran Husein Jajadiningrat diakui dunia interna­sional. Bunga rampai tersebut, pada 1963, telah ditedemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Islam Jalan Mutlak. Kemudian, pada 1980, diterbitkan ulang oleh Dunia Pustaka Jaya dengan judul Islam Jalan Lu­rus. Husein Jayadiningrat wafat pada 12 November 1960 (1.379 H).

Advertisement