Advertisement

Daud adalah seorang nabi atau rasul Tuhan; is juga seorang raja, yakni raja ke­dua Bani lsrail (raja pertama mereka ada­lah Saul, yang dalam al-Quran disebut Talut). Para ahli memperkirakan bahwa Daud hidup pada abad ke-11 atau 10 SM. Di dalam al-Quran (2:25) disebutkan bah­wa Daud membunuh Jalut (Goliat), pe­mimpin suku Falistin, dalam peperangan antara Bani Israil, yang dipimpin oleh Ra­ja Talut, dengan kaum Palistin. Tradisi lsrail atau Yahudi menggambarkan-bahwa nama Daud, sejak keberhasilannya mem­bunuh Goliat, menjadi masyhur dan di­hormati oleh kaum Israil. Upaya Raja Saul (Talut) untuk menyingkirkan Daud, demi mewariskan kursi kerajaan kepada putra­nya sendiri, sama sekali gagal. Setelah Ra­ja itu wafat 10.10 SM), Daud dinobatkan sebagai Raja Bani Israil. Ia berhasil me­nundukkan suku-suku yang bertetangga dengan Bani Israil di tanah Kan’an (tanah Karean berarti tanah Rendah) Palestina atau Israel sekarang. Al-Quran juga me­nyebutkan bahwa is adalah pribadi yang mempunyai kekuasaan besar, menguasai daerah-daerah pegunungan, dan Tuhan mengukuhkan kerajaannya (38:18-20).

Berdasarkan ay at al-Quran (34:10-11) dan (2:80), sebagian ulama berkesimpulan bahwa Daud diberi Tuhan mukjizat, yaitu dapat melunakkan besi dengan tangannya, tanpa membalcarnya dalam api. Dengan kemampuan seperti itu, ia dapat membuat baju besi dengan mudah untuk keperluan perang. Akan tetapi menurut sebagian ula­ma lainnya, ayat-ayat di atas tidak menga­cu kepada perbuatan mukjizat, tetapi ke­pada berkembangnya bengkel-bengkel per­senjataan yang terbuat dari besi, sejalan dengan be rtam bah b esamy a kerajaan yang dipimpin Daud.

Advertisement

Dalam al-Quran (38:22) terdapat jcisah tentang mihrab (kamar khusus) Daud, yang dimasuki orang-orang dengan memanjat dinding mihrab itu. Menurut ki­sah itu, Daud terkejut ketika mengetahui perbuatan mereka, tapi segera mereka ber­kata: “Janganlah Tuan khawatir.” Mereka kemudian berkisah tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka dan memo­hon penyelesaian pada Daud. Disebutkan bahwa satu pihak memiliki 99 ekor kam­birig, sedangkan pihak lain hanya memiliki satu ekor saja. Kendati demikian pihak pertama masih mendesak supaya pihak kedua menyerahkan kambingnya yang hanya satu ekor itu kepada pihak petta­ ma. Setelah mendengar kisah perselisihan itu, Nabi Daud menyatakan pihak perta­ma sebagai pihak yang laliin. Dan peristi­wa yang telah berlalu itu, Daud kemudian menjadi sadar bahwa Tuhan telah membe­rikan cobaan kepadanya, dan karena itu ia memohon ampun dan perlindungan kepa­da-Nya.

Mengingat Nabi Daud sebagai raja juga mempunyai saingan atau musuh, baik dari turunan Raja Talut, kalangan lain dalam Bani Israil, dan juga dari luar Bani Israil, kisah mihrabnya yang dimasuki dengan cara yang tidak benar itu, dapat dipahami sebagai isyarat bahwa mereka yang me­lakukan perbuatan tersebut bermaksud jahat hendak membunuh Nabi Daud. Ken­dati Nabi Daud kaget dan tampak khawa­tir -setelah mengetahui adanya mereka yang memasuki mihrabnya, agaknya ia dapat menguasai diri dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bu­ruk, sedangkan mereka yang berkomplot itu, karena sudah diketahui dan merasa gagal, berupaya meyakinkan dan menen­tramkan Nabi Daud bahwa mereka hanya datang untuk meminta penyelesaian atas perselisihan di kalangan mereka. Setelah berlalu peristiwa itu, Nabi Daud sadar bahwa ia perlu lebili waspada lagi dengan musuh-musuhnya dan memohon perlin­dungan pada Allah.

Penafsiran sebagian ulama bahwa mere­ka yang memanjat mihrab itu adalah para malaikat yang menjelma sebagai manusia, dan perkara yang mereka ajukan itu meru­pakan sindiran kepada kelaliman Nabi Daud sendiri, adalah penafsiran berdasar­kan kisah Israiliat yang tidak bisa diper­tanggungjawabkan. Dalam cerita Israiliat itu disebutkan bahwa Nabi Daud meng­inginkan istri salah seorang perwiranya, karena ferpikat oleh kecantikannya dan karena telah berzina dengannya. Setelah perwiranya itu matt, karena sengaja diki­rim ke medan perang dan dibiarkan men­jadi sasaran senjata lawan, Nabi Daud ka­win dengan perempuan yang telah dizinai­nya itu. Kisah Israiliat demikian jelas mengada-ada, karena bertentangan sekali dengan gambaran al-Quran tentang kepri­badian Nabi Daud. Nabi Daud, yang namanya belasan kali dapat dijumpai dalarn al-Quran, digambarkan dalam kitab suci ini, sebagai orang yang terus menerus ber­paling kepada Tuhan, memperoleh ilmu dan hikmah, serta memperoleh kitab suci (Zabur) dari Tuhan. Sebagairnana halnya para nabi dan rasul Tuhan yang lain, Nabi Daud memiliki `ismat, kekuatan jiwa yang kokoh yang dapat memeliharanya dari berbuat dosa, apalagi menzinai istri orang. la suci dari kisah Israiliat di atas.

Menurut para ahli, Nabi Daud meme­rintah selama 40 tahun, dari 1010 SM sampai 970 SM. Setelah ia wafat, keraja­annya itu selanjutnya dipimpin oleh putra­nya, Sulaiman, juga seorang rasul Tuhan.

Advertisement