Advertisement

Daud Zahiri adalah seorang ahli hukum Islam (fikih) ternama, lahir di Kufah pada 202 H. Nama lengkapnya ialah Daud ibnu Ali ibnu Khalaf al-Asfahani az-Zahiri. Se­jak muds ia telah meninggalkan negeri tempat kelahirannya ke Naisabur. Di nege­ri itu ia mendalami fikih mazhab Syafil dari ahli-ahli hukum ternama, seperti Is­haq ibnu Rahawiyah, Abu Saur, Sulaiman ibnu Harb dan Amru ibnu Marzuq. Setelah menimba ilmu pengetahuan di negeri itu ia berangkat ke Bagdad dan di sana ia mulai mengajarkan ilmunya. Diriwayat­kan, banyak sekali para pelajar yang ber­datangan untuk mendalami ilmu fikih. Pa­da mulanya ia terkenal sebagai seorang yang teguh berpegang kepada mazhab Syaffi. Kekagumannya kepada Imam Sya­fici telah mendorongnya untuk menulis dua buah buku menceritakan keistimewa­an dan kelebihan Imam Mujtahid tersebut. Namun kemudian ia meninggalkan maz­hab tersebut dan ia mempunyai pikiran sendiri dalam masalah hukum yang kemu­dian dikenal dengan mazhab Zahiri.

Pendapat-pendapat hukumnya hanya semata berdasarkan atas lahir nas (teks) al­Quran dan hadis tanpa ada analisa lebih lanjut. Oleh sebab itu ia disebut Daud Za­hiri dan mazhabnya disebut mazhab Zahi­ri. Dengan mendasarkan pada lirman Allah dalam surat an-Nahl ayat 89 yang menyatakan bahwa al-Quran diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu, ia ber­keyakinan bahwa apa yang tertulis di da­lam al-Quran ditambah dengan sunnah Rasulullah sudah cukup untuk memecah­kan segala bentuk masalah hukum. Kias (analogi) sebagai metode ijtihad yang pa­ling banyak dipakai oleh mayoritas ulama, dengan tegas ditolaknya. Ia menolak me­tode tersebut, karena hukum Allah adalah bersifat mutlak kebenarannya, sedangkan kias adalah bersifat akli (pikiran manusia) yang biasa salah. Sebab itu ia tidak boleh campur tangan terhadap sesuatu yang mutlak kebenarannya. Al-Quran ditambah sunnah Rasulullah telah lengkap untuk mengatur hidup manusia. Kelengkapan al­Quran telah ditegaskan di akhir hayat Ra­sulullah. Melakukan kias, dan istihsan berarti tidak percaya dengan kesempuma­an al-Quran. Sebab itu segala bentuk me­tode ijtihad dengan pikiran tidak layak un­tuk dilakukan dalam pemecahan hukum. Yang haram ialah apa yang diharamkan Allah dalam al-Quran dan sunnah Rasul­Nya. Jika tidak ditemui larangan di dalam dua sumber itu, maka hukumnya adalah mubah (boleh) yang didasarkan atas fir-man Allah bahwa: “Ia (Allah) yang telah menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi.” (Q 2:29) Menjadikan segala sesuatu itu untuk manusia mengandung pengertian bahwa selama tidak ada la­rangan-Nya dalam al-Quran dan sunnah, hukumnya adalah boleh. Pembolehan itu adalah suatu anugerah Allah, maka terima­lah anugerah-Nya itu. Jangan banyak ta­nya, karena banyak tanya itu akan mem­beratkan dirimu.

Advertisement

Pemikiran hukum Daud Zahiri yang amat ketat berpegang kepada lahir nas dan menolak kias ini telah banyak mendapat tantangan pada masanya dan masa ber­ikutnya. Namun mazhabnya itu sempat juga tersebar luas. beberapa waktu lama­nya. Hal itu, seperti dianalisa oleh Abu Zahrah dalam buku Tarikh al-Mazehib al-

disebabkan tersebarnya kitab­kitab yang ditulis sendiri oleh Daud Zahiri dan peranan murid-muridnya yang ikut menyebar-luaskan mazhabnya, di antara­nya putranya sendiri yang bemama Abu Bakar Muhammad ibnu Daud.

Mazhab Zahiri tersebar luas di dunia Is­lam bagian timur pada abad ke-3 dan ke-4, sehingga ada yang mengatakan bahwa ia adalah mazhab keempat setelah mazhab Abu Hanifah, mazhab Malik dan mazhab Syafi`i. Rupanya mazhab ini pada abad ke-4 mempunyai pengikut lebih banyak terbanding mazhab Hambali. Namun sege­ra masuk abad ke-5, muncullah kadi Abu Yana yang telah menjadikan mazhab Hambali mempunyai peranah, sehingga menggeser kedudukan mazhab Zahiri. Mazhab Zahiri sendiri pada abad ke-5 ber­kembang luas di Andalus di bawah se­orang tokohnya yang terkenal, yaitu al-Imam Abu Muhammad Ali ibnu Hazm (w. 456 H). Mazhab ini, seperti disimpul­kan oleh Mustafa al-Maragi dalam buku­nya al-Fath al-Mubin pada masa berikut­nya pengikutnya semakin sedikit bahkan boleh dikatakan habis, karena tidak ada suatu kekuatan politik yang membantu penyebarluasannya.

Walaupun pemikiran-pemikiran Daud Zahiri, banyak mendapat tantangan pada masanya, namun tetap diakui sebagai se­orang yang banyak memiliki sifat-sifat terpuji, yang membuatnya dihormati orang. Ia dikenal sebagai seorang yang fasih berbicara, cerdas, mempunyai argu­mentasi yang kuat dan cepat mengeluar­kan dalil. to terkenal sebagai seorang yang banyak ibadatnya, sederhana hidupnya dan tidak mau hidup mengharapkan pem­berian orang lain. Ketika ia berkurijung ke Madinah, berkali-kali al-Jarjani seorang dermawan di kota itu menawarkan bantu­an makanan kepadany a ketika melihatnya hanya mencukupkan beberapa potong ro­ti yang kering kersang, riamun ia tetap me­nolaknya.

Seperti halnya Imam Syafici, Daud Za­hiri sempat menuliskan pemikiran-pemi­kiran hukum dan fatwa-fatwanya dalam beberapa buah buku, di antaranya kitab lb tel kitab Khabar

kitab al-Khabar al-Mujib                   kitab

al-Hujjah, kitab al-Khustis wa

dan kitab al-Mufassar wa al-Mujmal, ma­sing-masing dalam bidang usul-fikih. Ke­mudian beberapa kitab dalam bidang fikih dan kitab-kitab yang memuat keistirnewa­an-keistimewaan Imam Syafi`i. Pada masa berikutnya pemikiran-pemikiran hukumz nya dapat dilihat dalam kitab allhkam fi Usul dan kitab alMuhalla, oleh Ibnu Hazm.

Ia wafat di Bagdad pada 270 H dalam usia 68 tahun.

Advertisement