Advertisement

Cut Nyak Mutia adalah seorang putri Teuku Bin Daud dari desa Pirak, negeri Keureutoe, Aceh Timur. Sebagai tidak ada catatan yang pasti tentang tahun kelahiran Cut Nyak Dien, begitupun tentang keldhiran srikandi Aceh ini. Namun yang pasti, mereka hidup semasa atau satu generasi. Bahkan, diperki­rakan orang, tahun kelahiran mereka tidak terpaut jauh selisihnya. Kalau srikandi Aceh yang satu, Cut Nyak Dien, diperkira­kan lahir 1850, maka Cut Mutia diperkira­kan lahir 1850-an di Keureutoe, Aceh. Na­rnun demikian, sesungguhnya, tidak mus­tahil tahun kelahiran mereka sama. Lebih dari itu, perjalanan masa kecil hingga de­wasanya pun tidak tercatat secara baik.

Cut Mutia adalah istri Teuku Cut Mu­hammad, bergelar Teuku Cik Tunong. Bersama suaminya, dengan gigih ia turun ke medan juang melawan Belanda dalam upaya memberikan dukungan kepada Sul­tan Aceh. Pada 1904, Cut Mutia sekeluar­ga pindah ke Teupin Gajah, daerah Panton Labu. Kemudian, suaminya, Teuku Cik Tunong, ditangkap dan dihukum ma-ti Bclanda pada 1,905. Kematian suami­nya sama sekali tidak mengurangi sema­ ngat perjuangannya. Namun demikian, kemudian ia lebih rnempertimbangkan un­tuk bersuami kembali. Akhirnya, Cut Mu­tia menikah dengan Pang Nanggoe, se­orang pemimpin perjuangan bawahan sua­minya.

Advertisement

Bersama suaminya yang baru, pada 1907, Cut Mutia terus melancarkan pem­berontakan dan perlawanan terhadap Be­landa. Sekitar tiga tahun kemudian, 26 September 1910, suaminya gugur. Seba­gaimana kematian suaminya yang perta­ma, kematian suaminya yang kedua pun tidak membuat Cut Mutia mundur dari pertempuran. Ia bertekad akan terus mengadakan perlawanan- terhadap Belanda sampai titik darah penghabisan. Srikandi dan pahlawan Aceh ini, sungguh-sungguh telah membuktikan tekadnya. la gugur se­bulan setelah suaminya, pada 24 Oktober 1910.

Advertisement