Advertisement

Cut Nyak Dien diperkirakan lahir pa­da 1848 di Lampadang, Aceh Besar. Ayahnya, Nanta Setia, seorang Ulebalang VI Mukim. Nanta Setia adalah saudara Teuku Mahmud, Ayah Teuku Umar. De­ngan demikian, Cut Nyak Dien merupa­kan saudara sepupu Teuku Umar. Kakek Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, Nanta Cih, berasal dari keturunan darah Minang­kabau yang merantau ke Aceh. Kemudian, Nanta Cih dianugerahi gelar kebangsawan­an Teuku oleh Sultan Alaidin Syah.

Pada 1857, ketika Cut Nyak Dien ber­usia sekitar sembilan tahun, Belanda menandatangani perjanjian persahabatan dengan Aceh. Sudah barang tentu, yang di­maksudkan perjanjian persahabatan oleh

Advertisement

Belanda adalah mempunyai latar belakang politik kolonial. Tetapi hal ini belum disa­dari oleh pihak Aceh. Mereka, rakyat Aceh, barn tersentak ketika, secara

Belanda menduduki Siak pada 1858. Padahal Siak ketika itu berada di bawah kekuasaan Aceh. Sejak itu hubungan Aceh dengan pemerintah kolonial Belanda kian memburuk. Akhirnya, pada 1873 Belanda menyerbu Aceh. Di luar dugaan Belanda, rakyat Aceh dapat memberikan perlawan­an tangguh, dan bahkan memukul mundur pasukan Belanda. Dalam pertempuran ter­sebut, Belanda kehilangan panglima pe­rangnya, Jenderal Kohler. Sebagaimana sudah dapat diduga, karena kegagalannya, Belanda akan menyerbu kembali. Di ba­wah panglima Van Swieten, pasukan Be­landa kembali menyerang Aceh pada 9 Desember 1873. Sejak itu, Perang Aceh terus berkelanjutan hingga 1904.

Cut Nyak Dien mulai terlibat langsung dalam medan pertempuran setelah suami­nya, Teungku Ibrahim Lam Nga, gugur pada 29 Juni 1878. Sepeninggal suaminya, ia menikah kembali dengan saudara sepu­punya, Teuku. Umar. Bersama dengan Teuku Umar, ia berjuang dengan gigih me­lawan penjajah. Pada 11 IPebruari. 1899, Teuku Umar gugur di depan matanya. Se­telah Teuku Umar gugur, bersama dengan para panglima Aceh lainnya, ia memimpin perjuangan yang berpusat di Gayo dan Ta­keungon, kabupaten Aceh Besar. Kemudi­an; setelah pasukannya kian melemah, ia meminsdahkan wilayah pertempurannya ke dadrah-daerah pedalaman. Meskipun sudah demikian terdesak, Cut Nyak Dien tetap tidak mengenal menyerah. Akhir­nya, Cut Nyak Dien ditangkap Belanda dan ditawan di Kutaraja. Srikandi Aceh ini, pada 11 Desember 1905 diasingkan ke Sumedang sampai akhir hanyatnya, 22 September 1906.

Advertisement