Advertisement

Burhanpuri, lengkapnya Muhammad bin Fadullah al-Burhanpuri adalah seorang ulama tasawuf dari Gujarat, India. Riwa­yat hidupnya kurang dikenal, namun me­nurut para ahli tahun wafatnya adalah 1620 (1020 H). Ia mempunyai karya tulis yang berjudul at-Tuhfat al-Mursaktt RIM an-Nabi (Hadiah yang Dikirim kepa­da Ruh Nabi),_dan komentarnya, yang berjudul al-Haqiqat al-MuwYfiqat ii asy­SyarPat (Hakikat yang Serasi dengan Sya­riat).

Ia dikenal sebagai perumus pertama ajaran martabat tujuh (lihat entri marta­bat tujuh), yang tersebar cukup luas di kalangan kaum tarekat. Selain berbicara tentang martabat tujuh itu, ia juga ber­bicara tentang hal lain-lain, seperti tentang kedekatan (qurb) dengan Tuhan dan ten-tang penyaksian (musyrthadat) dengan hati nurani.

Advertisement

Menurutnya, ada dua macam kedekatan dengan Tuhan. Pertama, kedekatan mela­lui upaya penunaian amal-amal sunah (an­nawfffil); upaya tersebut akan membuah­kan hilangnya sifat-sifat kemanusiaan dan munculnya sifat-sifat Allah pada drii yang berupaya, dan dengan begitu ia merasakan bahwa hidup dan mati itu berlangsung de­ngan izin Allah, serta mendengar atau me­lihat tidak hanya dengan telinga atau mata kepala, tetapi ia dapat mendengar atau melihat sesuatu yang jauh. Lenyapnya si­fat-sifat kemanusiaan itu dapat juga dise­but sebagai fananya sifat manusia dalam sifat-sifat ketuhanan. Kedua, kedekatan melalui upaya penunaian amal-amal yang waib (al-fartiid) dan ini akan membuahkan fananya (lenyapnya) seseorang secara me­nyeluruh, sehingga ia tidak lagi menyaksi­kan segenap yang maujud (termasuk diri­nya sendiri); satu-satunya yang ada dalam kesadarannya hanyalah wujud al-Haqq (Tuhan). Keadaan begini disebutnya juga dengan fananya seseorang dalam Tuhan.

Tentang penyaksian Tuhan dengan hati nurani, Burhanpuri menjelaskan bahwa orang-orang yang mengakui ajaran kesatu­an wujud (wandat al-wujEld), sebagian me­reka mengetahui dengan pengetahuan yang yakin bahwa al-Haqq (Tuhan) adalah aspek hakiki atau aspek batini dari sege­nap yang maujud (ada), tapi mereka tidak menyaksikan aspek al-Haqq itu dalam alam ciptaan. Kemampuan penyaksian batin mereka baru berada pada tingkat pertama. Sebagian lagi mampu menyaksi­kan aspek al-Haqq (Tuhan) dalam alam ciptaan, melalui hatinya (sebagai suatu hal). Ini berarti bahwa kemampuari pe­nyaksian batin mereka sudah berada pada tingkat kedua (lebih tinggi dari tingkat pertama). Sebagian lagi mampu menyaksi­kan dengan batin mereka aspek al-Haqq (Tuhari) dalam alam ciptaan, dan aspek ciptaan (al-khalq) pada al-Haqq (Tuhan), dengan pengertian bahwa suatu aspek ti­dak menjadi penghalang bagi hati mereka untuk menyaksikan aspek yang lain. Pe­nyaksian yang akhir ini berada pada ting­kat ketiga (tertinggi), yang selain dimiliki oleh nabi atau rasul juga dimiliki oleh para wali atau qutub.

Burhanpuri juga menegaskan bahwa mustahil bagi seseorang untuk mencapai penyaksian tingkat kedua, apalagi tingkat ketiga, bila ia melanggar syariat dan tare­kat. Penegasan ini penting dalam rangka menyadarkan orang, baik yang berada da­lam tarekat maupun yang berada di luar, bahwa tasawuf atau tarekat itu wajib se­jalan dengan syariat.

Advertisement