Advertisement

Bung Tomo, lengkapnya Soetomo, di­lahirkan di Surabaya pada 30 Oktober 1920, dan meninggal di Arafah Saudi Ara­bia pada 7 Oktober 1981. Dia merupakan tokoh pejuang kemerdekaan dan pendiri BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indo­nesia).

Pendidikan yang ditempuhnya dimulai dari pendidikan dasar yang diperolehnya ketika dia tinggal di Surabaya, sampai pa­da akhirnya gelar saijana ekonomi dapat diraihnya di Fakultas Ekonomi Universi­tas Indonesia Jakarta.

Advertisement

Karirnya dimulai sebagai wartawan, mulanya bekerja sebagai pembantu pada surat kabar Soeara Oemoem Surabaya dan majalah Poestaka Timoer Yogyakarta. Ke­mudian dia diangkat menjadi redaktur mingguan Pernbela Rakyat, Surabaya. Ke­tika Jepang masuk dan menjajah Indone­sia, Bung Tomo tetap berprofesi sebagai wartawan. Pada masa itu dia bekerja seba­gai wartawan surat kabar Domei, Suraba­ya yang dipimpin oleh R.M. Bintarti. Pa­da awal kemerdekaan Republik Indonesia dia mendirikan Kantor Berita Indonesia di Surabaya. Kantor ini kemudian dilebur dan dimasukkan sebagai Kantor Berita Antara cabang Surabaya.

Pada 10 November 1945 terjadi per­tempuran besar di Surabaya antara tentara Inggris dan tentara Republik Indonesia se­bagai akibat dari tuntutan Inggris kepada pihak Indonesia untuk menyerahkan orang yang menyebabkan kematian Jendral Mal­laby tidak dipenuhi. Sebagai pemimpin BRI (Benteng Rakyat Indonesia), pada pertempuran ini Bung Tomo mempunyai andil besar dalam membangkitkan sema­ngat tentara dan rakyat Indonesia. De­ngan suaranya yang selalu berkumandang lewat radio selama pertempuran berlang­sung, Bung Tomo membakar dan mendo­rong semangat bangsa dan tentara Indone­sia agar tidak gentar dalam mempertahan­kan Surabaya dan gempuran tentara Ing­gris yang bersenjata lebih lengkap dari In­donesia.

Pada 1945 Bung Tomo juga menjabat sebagai Wakil Ketua Penerangan KNI (Ko­mite Nasional Indonesia) Surabaya. Ke­mudian pada 1947 dia diangkat sebagai anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Sudirman dengan dianugerahi pangkat Ma­yor Jenderal. Sebagai anggota Dewan Pe­nasihat ia berhasil mengkoordinasikan TNI. Pada 1955 Bung Tomo diangkat senya, hal ini dikontraskan dengan kemulia­an budi, tingkah dan laku Nabi, kendati­pun kumpulan ini juga didahului dengan sebuah pembukaan klasik yang berbau erotis (nasib) sebagaimana lazimnya syair­syair lama. Yang menarik, kumpulan syair­syair al-Busiri ini (al-Burdah) kemudian mendapatkan tempat khusus di hati seba­gian orang Islam karena dianggap mem­punyai kekuatan khusus sebagaimana di­alami si penggubah sendiri yang tersem­buh dari sakitnya yang kronis. Kepopuler­an Burdahnya al-Busiri juga telah meng­ilhami penyair-penyair lain sesudahnya apakah untuk membuat komentar dan ringkasan atas karya al-Busiri yang monu­mental tersebut ataukah untuk mencipta­kan ungkapan baru dengan tema yang sama. bagai Menteri Negara Urusan Bekas Pe­juang dalam Kabinet Burhanuddin Hara­hap.

Aktivitas Bung Tomo dalam organisasi pergerakan kebangsaan dimulai ketika dia menjadi anggota KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian dia menjadi anggo­ta organisasi Indonesia Muda. Pada 1938 dia diangkat sebagai sekretaris Parindra (Partai Indonesia Raya) cabang Surabaya. Pada 1947 menjabat sebagai Ketua Umum BRI (Benteng Rakyat Indonesia), yaitu suatu organisasi gabungan dari partai dan organisasi yang tidak setuju dan menolak Perjanjian Linggarjati. Ketika BPRI dile­bur dan dijadikan sebagai organisasi poli­tik dengan nama PRI (Partai Rakyat Indo­nesia), ia diangkat sebagai Ketua Umum­nya.

Pada 1978 ketika terjadi rasa ketidak­puasan dari sementara orang terhadap pe­merintah, Bung Tomo ditangkap dan di­penjarakan atas tuduhan subversi. Selanutnya bukunya yang berjudul Himbauan yang diterbitkan pada 1977 dinyatakan terlarang untuk diedarkan.

Setelah dibebaskan pada 1981 Bung Tomo melawat ke Saudi Arabia untuk me­nunaikan ibadat haji. Setelah selesai me­nunaikan ibadat haji ia meninggal pada 7 Oktober 1981 di Arafah.

Advertisement