Advertisement

Bukhari adalah seorang ulama besar yang termasyhur, yang tidak ada tanding­annya dalam bidang hadis. Nama lengkap­nya ialah al-Imam Abu Abdillah Muham­mad ibnu Ismail ibnu Ibrahim ibnu al­Mugirah al-Bukhari. Ia lahir di Bukhara pada 816 (194 H).

Ia mulai mempelajari dan menghafal hadis waktu umurnya kurang dari sepu­luh tahun. Pada umur sebelas tahun ia te­lah sanggup mengoreksi kesalahan sanad hadis, dan dalam berumur enam belas ta­hun ia telah hafal beberapa buah kitab ha­dis, di antaranya kitab hadis karangan Ib­nu al-Mubarak dan karangan Waqi`. Kemu­dian pada umur delapan belas tahun ia te­lah menyelesaikan sebuah karangannya Qadaya asSalgibat wa atTabi`in.

Advertisement

Banyak negeri yang disinggahinya un­tuk mempelajari hadis, di antaranya Irak, Khurasan, Siria, Mesir, Kufah dan Basrah. Di negeri-negeri itu ia menekuni hadis se­hingga ia sempat menghafal 100.000 hadis sahih dan 200.000 hadis yang tidak sahih. Diriwayatkan bahwa Imam Ahli hadis ini sempat belajar dari seribu ahli hadis terke­muka di negeri-negeri yang dikunjunginya.

Banyak sekali kesaksian para ahli hadis akan kealimannya. Ibnu Khuzaimah (w. 311 H) seorang ahli hadis ternama dalam komentamya pernah mengatakan, “Saya tidak tahu jikalau ada di bawah langit Allah ini orang yang paling alim dengan hadis Rasulullah selain al-Imam al-Bukhari.” Pa­da suatu hari ia dikunjungi seorang ahli hadis tersohor, yaitu Imam Muslim ibnu al-Hajjaj (204-261 H), lantas yang disc- but terakhir ini berkata kepada al-Imam al-Bukhari, “Biarkanlah aku cium dua ka­kimu wahai guru dari segala guru dan to­koh dan segala ahli hadis.”

Pada waktu ia berada di Bagdad, nama­nya cukup menanjak di kalangan ahli-ahli hadis di negeri itu. Sekelompok ahli hadis dan ulama-ulama terkemuka di kota itu ingin membuktikan kemampuan ahli hadis pendatang ini. Dalam suatu pertemuan il­miah yang telah direncanakan, sebanyak seratus buah hadis yang telah dicampur aduk baik sanad-sanadnya maupun matan­matannya diajukan kepada al-Imam al-Bu­khari untuk disusun kembali seperti semu­la. Dengan tidak merasa ragu ia mengorek­si susunan hadis-hadis dan menyusunnya kembali seperti semula dengan tidak ada sedikitpun yang salah. Para hadirin pun bertam bah kagum akan kebolehannya.

Setelah ia mendapat banyak hadis dan mendalaminya di negeri-negeri yang di­kunjunginya itu, ia kembali ke kota tern-pat kelahirannya Bukhara. Belum lama ia berada di negeri ini, Imam yang terkenal pemalu, pemberani dan dermawan ini di­minta gubernur daerah itu, Khalid bin Ah­mad, untuk mengajar anak-anaknya di ru­mahnya. Tetapi Imam Bukhari menjawab bahwa ia bersedia mengabulkannya de­ngan syarat anak-anak gubernur itulah yang harus datang belajar ke rumahnya. Rupanya mendengar jawabannya itu gu­bernur tersinggung dan dengan berang ia mengusir imam ahli hadis yang terkenal hidup sederhana ini dan terpaksa pindah ke satu kampung yang terletak tidak jauh dari kota Samarkand. Di sana ia berdomi­sili sampai .wafatnya pada malam Idul­fitri 256 H dalam usia 62 tahun.

Karya terbesar Imam Bukhari yang ter­kenal alJams ` asSala, yang rnenghimpun hadis-hadis sahih, yang merupakan saring­an dari beribu-ribu hadis yang ada dalam hafalannya. Diriwayatkan, untuk penya­ringan dan pembukuannya ia perlukan enam belas tahun. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa kitab alJamP asSaha yang terkenal dengan Sahib BukhdrTterse­but adalah kitab yang paling sahih dan di­anggap sebagai sumber utama keislaman setelah al-Quran al-Karim. Ia terkenal sangat hati-hati dalam menyeleksi hadis­hadis hafalannya yang kernudian ditulis­kan dalam kitab itu. Diriwayatkan bahwa setiap ia menulis satu hadis dalam kitab­nya itu ia lebih dahulu melaksanakan salat istikharat (salat mohon bimbingan Allah). Ia berkata, “Tidaklah aku tulis satu hadis dalam kitab Sahihku ini kecuali lebih da­luau aku mandi dan salat dua rakaat.”

Ibnu Salah seorang ahli hadis terkemu­ka mengatakan bahwa jumlah hadis da­lam Sahih Bukhari sebanyak 7275 hadis, termasuk hadis-hadis yang berulang-ulang disebut. Para ahli hadis banyak menaruh perhatian terhadap kitab hadis terbesar ini. Banyak ulama-ulama hadis yang te­lah mensyarahnya. Di antaranya yang pa­ling terkenal ialah Fath al-Bari yang dika­rang oleh (bnu al-Hajar al-Asqalani, Irsyad al-Bari oleh Syihabuddin al-Qastalani dan Umdat al-Qari oleh Bahruddin al-Aini.

Di samping ulama yang mensyarah dan mengulas kitab tersebut ada pula yang me­ringkasnya menjadi mukhtasar seperti ki­tab at-Tairid as-Sahih yang disusun oleh Husein ibnu al-Muhaiak.

Di samping terkenal sebagai seorang ah­li Imam Bukhari juga terkenal seba­gai seorang ahli hukum fikih dan sebagai mujtahid. Banyak fatwa-fatwanya yang masih dapat ditemui antara lain: Bertemu dua khitan tanpa keluar air mani tidak di­wajibkan mandi. Mani yang ada di kain, boleh dibasuh dan boleh juga dikikis saja. Bila hari raya jatuh pada hari Jumat, maka orang yang sembahyang hari raya tidak perlu lagi melaksanakan salat Jumat. Ke­adaan sakit adalah di antara uzur yang membolehkan seseorang menjamak salat. Hadis-hadis daif tidak bisa dijadikan dalil, baik dalam masalah hukum, maupun da­lam hal keutamaan amal.

Dalam bidang tafsir, ahli hadis yang da­pat julukan Imam al-Muhaddisin ini menu­lis kitab at-Tafsir al-Kabir dan dalam seja­rah kitab at-Tarikh al-Kabir.

 

Advertisement