Advertisement

Bazdawi atau Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi adalah ulama terkemuka dari abad ke-11 (5 H) yang hidup di kawasan seberang utara Sungai Amudarya (di Asia Tengah). la lahir pada 1031 (421 H), tapi tidak diketahui desa atau kota kelahiran­nya. Juga tidak diketahui dengan terang riwayat masa mudanya. Kuat dugaan bahwa ia memperoleh pengetahuan agama pada tahap awal dari ayahnya sendiri, se­dang pendalaman berikutnya pada ula­ma-ulama Hanafiyah yang ia jumpai di Asia Tengah. Selain mendalami ajaran­ajaran yang menjadi anutannya, yakni fi­kih Hanafiyah dan teologi Maturidiyah, ia juga berusaha memahami pemikiran-pemi­kiran yang dianut oleh pihak lain, seperti pemikiran kaum filosof muslim, pemikir­an ulama-ulama Mu`tazilah, pemikiran ula­ma-ulama Asy`ariyah. Disebutkan antara lain bahwa ia amat menekuni karya-karya yang ditulis oleh Imam al-Asy`ari. Melalui upaya yang sungguh-sungguh ia berhasil menjadi ulama terkemuka pada zaman­nya.

Bazdawi, selain mewariskan ilmunya melalui pengajaran, juga pernah meme­gang jabatan sebagai kadi (hakim) bebera­pa tahun di Samarkand sejak 1088 (481 H) dan kemudian pindah ke Bukhara dan wa­fat di kota itu pada 1099 (493 H). Ada ca­tatan bahwa pada 1085 (478 H) ia juga berada di Bukhara, dan karena itu muncul dugaan kuat di kalangan para ahli bahwa ia lebih banyak menghabiskan usianya bermukim di Bukhara.

Advertisement

Di antara ulama terkemuka, yang per­nah menjadi muridnya adalah Muhammad bin Tahir as-Samargandi dan Umar an-Na­safi. Adapun karya-karya tulis yang berha­sil ia tulis antara lain adalah karya taliq (catatan pinggir/marginal) atas buku al-Rind’ asSagir (karangan Syaibani),

(buku yang berisi sejumlah putusan pengadilan), alMabsat (buku _tentang furri7fildh), dan Kirdb us121 adDin; buku yang terakhir ini berkenaan dengan akidah atau teologi, dan telah diedit serta diter­bitkan oleh Dr. Hans Peter Lings pada 1963 (1383 H).

Bazdawi, selain tercatat sebagai ulama bermazhab Hanafi, juga sebagai ulama yang berteologi Maturidiyah. Akan tetapi berkenaan dengan teologi yang dianutnya itu, ia ternyata terpengaruh oleh sebagian pemikiran Asy`ariyah, sehingga ia tidak se­penuhnya lagi sepaham dengan Imam al­Maturidi. Bila paham teologi Imam al-Ma­turidi lebih dekat kepada Mu`tazilah ter-banding kepada Asy`ariyah, maka paham teologi Bazdawi sebaliknya: lebih dekat kepada Asy`ariyah terbanding kepada Mu`tazilah.

Seperti al-Maturidi, Bazdawi berpenda­pat bahwa seandainya wahyu tidak ada, akal manusia mampu mengetahui adanya Tuhan, mampu mengetahui baik dan bu­ruk, tapi tidak ada kewajiban untuk ber­buat balk dan menjauhi perbuatan buruk. Tidak seperti al-Maturidi, ia juga berpen­dapat bahwa tidak ada kewajiban untuk mengetahui Tuhan dan bersyukur kepada­Nya. Kewajiban-kewajiban, kata Bazdawi, ditentukan hanya oleh Tuhan dan keten­tuan-ketentuan itu tidak dapat diketahui kecuali melalui wahyu.

Mengenai perbuatan manusia, Bazdawi tidak mengikuti paham Maturidi. Bagi Bazdawi pada mulanya, perbuatan manu­sia sungguhpun diciptakan Tuhan, bukan­lah perbuatan-Nya; manusia adalah pem­buat dari perbuatannya dalam arti kata yang sebenarnya. Setelah pihak lain mengeritik dan mengatakan bahwa per­buatan yang diciptakan Tuhan pada ma­nusia lebih tepat disebut perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia, maka akhir­nya Bazdawi menjadi ragu-ragu dalam me­ngatakan bahwa perbuatan manusia ada­lah perbuatan manusia dalam arti yang se­benarnya.

Mengenai kehendak dan kekuasaan Tu­han, Bazdawi menegaskan bahwa Tuhan mempunyai kehendak dan kekuasaan mutlak. Tuhan, menurutnya, memang ber­buat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya menurut ke­hendak-Nya. Tak ada yang dapat menen­tang atau memaksa Tuhan, dan tidak ada larangan-larangan terhadap-Nya. Kendati begitu, kehendak dan kekuasaan Tuhan dalam pahamnya tidak semutlak dalam paham Imam Asy`ari. Bazdawi menjelas­kan bahwa tidak mungkin Tuhan membatalkan janji-Nya untuk memberi upah yang baik kepada orang-orang yang ber­buat baik, tapi sebaliknya bukan tidak mungkin Tuhan membatalkan ancaman­Nya untuk memberi hukuman kepada orang-orang yang berbuat jahat. Tuhan, katanya, jika menghendaki memberi am-pun kepada orang yang berdosa, tentu akan memasukkannya ke dalam surga, dan jika menghendaki untuk memberikan hu­kuman kepadanya, tentu akan memasuk­kannya ke dalam neraka, untuk sementa­ra atau untuk selama-lamanya. Menurut­nya, tidaklah mustahil bahwa Tuhan memberi keampunan bagi seseorang, tapi tidak mengampuni orang yang lain, ken­dati dosanya sama. Keterangannya itu mengandung arti bahwa ada sesuatu yang tidak dapat tidak mesti dilakukan oleh Tu­han, yaitu memenuhi wa’ad-Nya, yakni memenuhi janji untuk memberi upah yang baik kepada orang yang berbuat baik. Bila dipakai istilah yang digunakan oleh kaum Mu`tazilah, maka dalam paham teologi Bazdawi ada satu kewajiban Tuhan, yaitu memenuhi wa’ad-Nya.

Sifat-sifat Tuhan, dalam paham Bazda­wi, kekal melalui kekekalan zat-Nya, bu­kan melalui sifat-sifat itu sendiri. Menge­nai ayat-ayat tasybih, Bazdawi tidak sepa­ham dengan kaum Asy`ariyah: katanya, ta­ngan Tuhan bukanlah anggota tubuh Tu­han (karena Tuhan tidak bertubuh), tapi sifat-Nya, sama dengan sifat-Nya yang lain, seperti pengetahuan, daya, dan ke­mauan. Mengenai ru’yatullah (melihat Tu­han) di akhirat, ia sepaham dengan kaum Asy`ariyah. Katanya, tidak mustahil bah­wa Tuhan dapat dilihat nanti dengan mata kepala, seperti apa yang dikehendaki-Nya. Paham teologi Bazdawi lazim disebut Maturidiyah Bukhara.

 

Advertisement