Advertisement

Baqillani lengkapnya Abu Bakar Muham­mad Ibnu at-Tayyib al-Baqinni adalah ulama terkemuka di Irak pada abad ke-10 (4 H). Ia lahir di Basrah pada 950 (338 H) dan wafat di Bagdad pada 1013 (403 H). Ia mendalami ilmu-ilmu keislaman dari ba­nyak ulama, antara lain dari Abu Bakar al­Abhari (w. 986/375 H), pemuka dalam mazhab Maliki; Abu Bakar al-Qati`i (w. 979/368 H), ahli hadis dari kalangan Ham­bali; Abu Abdillah asy-Syirazi (w. 982/ 371 H), ahli usul fikih; Abu Abdillah at­Ta-i al-Basri, ahli usul fikih dan ilmu ka­lam (murid Imam Asy`ari); dan dari Abu al-Hasan al-Bahili (w. 981/370 H), juga murid Imam Asy`ari. Disebutkan bahwa Baqillani, Abu Ishaq al-Isfaraini, dan Ibn Faurak sama-sama belajar pada Abu Hasan al-Bahili.

Baqillani, ketika masih berada di Basrah dan masih dalam usia muda, telah muncul sebagai ulama dan pengajar yang cemer­lang, pintar-bicara, mahir berdiskusi, me­miliki argumen-argumen yang kokoh, dan kaya dengan informasi serta penjelasan. Ketika Amir Buwaihi Adud ad-Daulah, di­beritahu tentang kemasyhurannya, ia di­undang oleh Amir yang bermazhab Syi`ah dan berteologi Mu`tazilah itu, agar mau datang ke istananya di Syiraz. Ia penuhi undangan itu dan terjadilah dialog-dialog antara ia dengan para ulama Mu`tazilah yang berada di Syiraz. Karena kecemer­langannya berdebat, Amir Adud ad-Dau­lah, bersimpati dan menunjukkan sikap toleran kepadanya. Ia tetap dirangkul oleh Amir itu, diminta untuk menjelaskan pa-ham Ahlus Sunnah kepada putranya, Dau­lah. Baqillani ilcut menyertai Amir terse-but pada waktu memasuki Bagdad pada 978 (367 H) dan sejak itu menetap di Bagdad. Ia juga pernah dipercaya sebagai ketua perutusan, yang diutus oleh Amir itu, pada 982 (371 H), ke Konstantinopel, untuk suatu perundingan dengan pihak Imperium Romawi Timur. Memang ada upaya dari pihak Mu`tazilah untuk menja­tuhkannya atau menyingkirkannya dari Amir Buwaihi, tapi tidak berhasil. Ia di­biarkan mengajar, baik ketika bermukim di Syiraz maupun ketika bermukim di Bagdad. Ia bahkan bergelar kadi (hakim), suatu pertanda bahwa ia juga diangkat se­bagai pejabat negara untuk urusan penga­dilan, kendati tidak diketahui dengan pas-ti kapan dan °telt siapa ia diangkat menja­di kadi itu.

Advertisement

Banyak murid-muridnya yang muncul menjadi ulama besar, seperti Kadi Abu Muhammad al-Bagdadi (w. 1032/422 H; ulama Maliki-Asy`ari), Abu Zar al-Harawi (w. 1043/434 H; ulama Maliki-Asy`ari ju­ga), Kadi Abu Ja`far (w. 1051/442 1-1; ula­ma Hanafi), Abu Abdur-Rahman as-Sulla­mi (w. 1022/412 H; seorang sufi), Kadi Abu Muhammad al-Asbahani (w. 1056/ 447 H); ulama Syafi`i), dan lain-lain. Kar­ya tulis yang dihasilkan Baqillani juga ter­golong banyak, sekitar 55 judul, di antara­nya adalah: Tamhid (tentang ilmu kalam), Hidayat al-Mursyidin wa al-Mugni` fiMa`ri­fat L4Edad-Din (juga tentang ilmu Icalam),

alIntisar fi Sihhat Naql (tentang validitas penukilan al-Quran);            al-Kabir fi al-Fiqh (tentang usul fikih), dan al-Quran (tentang keunggulan al­Quran).

Baqillani adalah ulama yang memiliki mu yang luas. Ia menguasai tafsir, hadis, usul fikih, fikih, dan ilmu kalam. Dalam lapangan fikih, ia adalah pendukung kuat mazhab Maliki dan dalam lapangan teologi ia merupakan pembela utama teologi Asy­`ariyah. Sumbangannya yang lebih besar adalah pada lapangan teologi. Melalui ba­hasan dan penjelasannya yang luas dan mendalam, ia berhasil membuat pendirian teologis aliran Asy`ariyah dalam sejumlah masalah, seperti tentang zat dan sifat-sifat Tuhan, lebih jelas terbanding dengan apa yang dapat disajikan oleh pendirinya, Imam Asy`ari. Melalui upayanya, kajian atau bahasan tentang ,jisim, atom, aksiden, dan lain sebagainya, masuk dalam teologi Asy`ariyah, sebagai kajian yang penting da-. lam rangka menunjukkan keberadaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Menurut Baqil­lani, atom-atom itu Baru ada bila dibubuhi dengan aksiden (`arad). Atom dan aksiden itu diciptakan dan dimusnahkan oleh Tu­han; atom atau benda materi tidak mung­kin berwujud lebih dari satu waktu (detik). Penggabungan atom-atom atau perubahan aksiden tidak terjadi dengan sendirinya, tapi karena kehendak Tuhan semata. Me­nurutnya, Tuhan boleh saja berkehendak merubah sunnah (kebiasaan) yang mengua­sai jalannya alam, boleh saja memberi api, misalnya, aksiden yang lain dari biasanya. Di sinilah terjadinya mukjizat, yang diarti­kannya sebagai penyimpangan dari kebia­saan. Pengingkaran adanya hukum kausali­tas oleh Baqillani ini menjadi ajaran utama teologi Asy`ariyah.

Tidak dalam semua masalah Baqillani sepaham dengan Imam Asy`ari. Ia tidak sepaham dengan Imam Asy`ari tentang perbuatan manusia. Bila menurut Asy`ari, perbuatan manusia seluruhnya diciptakan oleh Tuhan, maka menurutnya manusia mempunyai sumbangan yang efektif bagi terwujudnya suatu perbuatan. Katanya, memang Tuhan yang mewujudkan gerak yang terdapat dalam diri manusia, tapi si­fat dan bentuk dari gerak itu, seperti du­duk, berdiri, bertinju, berjalan, dan lain sebagainya, bukanlah diwujudkan oleh Tuhan, tapi oleh manusia sendiri. Dengan paham seperti itu, is pada hakikatnya se­paham dengan paham kadariyah yang di­anut Mu`tazilah. Pendapatnya yang lain yang juga berbeda dari paham Asy`ari, adalah pahamnya tentang sifat Tuhan. Apa yang disebut orang dengan sifat Tu­han, baginya, bukanlah sifat, tapi hal, se­jalan dengan pendapat Abu Hasyim dari kaum Mu`tazilah.

 

Advertisement