Advertisement

Baitur Rahman adalah mesjid yang ter­besar dan terniegah di kota Banda Aceh. Dibangun pertama kali oleh sultan Aceh, Sultan Alaiddin Mahmud Syah I, pada 1292 (691 H). Di masa pemerintahan Sul­tan Iskandar Muda, mesjid ini diperbesar dan kemudian berkembang menjadi pusat studi Islam, bukan saja di Nusantara tetapi juga untuk kawasan Asia Tenggara.

Peranan Baitur Rahman sebagai pusat peribadatan dan pusat ilmu pengetahuan ketika itu sangat besar. Berbagai cabang ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan umum lainnya diajarkan di mesjid ini. Oleh sebab itu tidak berlebihan bila di­katakan bahwa mesjid Baitur Rahman te­lah berfungsi sebagai sebuah universitas atau al-jami`ah. Sumber Tabaqat Qem7n Iskandar Muda menjelaskan bahwa terda­pat lima belas bagian yang berada di bawah asuhan Baitur Rahman ketika itu. Kelima belas bahagian tersebut adalah Tafsir Ha­dis (Air at-Tafsir wa al-Hadig), Kedokter­an dan Kimia (Dar at-Tib wa al-Kimya), Ilmu Sejarah (Dar at-Tarikh), Ilmu Pasti (Dar al-Hisab), Ilmu Politik (Dar as-Siya­sah), Pertanian (Der az-Zirtrah), Hukum (Der al-Ahkem), Falsafat (Der al-Falsafat), Ilmu Pemerintahan (Dar al-Wizarat), Ilmu Perbendaharaan Negara (Dar al-Khazanah wa Bait al -Mal) dan Ilmu Perang (Dar al­Harb).

Advertisement

Nama Aceh sebagai pusat ilmu penge­tahuan menjadi semakin terkenal. Di bidang ilmu pengetahuan agama dikenal nama-nama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Syekh Nurud­din ar-Raniri dan Abdurrauf Singkel. Sebagai sebuah perguruan tinggi, Baitur Rah-man mendatangkan dosen-dosen dari luar negeri, seperti dari Turki, Arabia, Persia dan India. Keadaan ini membuat Banda Aceh menjadi sebuah kota universitas.

Pada masa peperangan Aceh melawan Belanda, mesjid Baitur Rahman pernah mengalami kerusakan yang sangat parah. Hal ini disebabkan para pahlawan-pahla­wan Aceh menjadikan mesjid ini sebagai pusat kekuatan dalam menghadapi Belan­da. Namun atas pertimbangan Belanda pula kemudian, agar mereka mendapat tempat di masyarakat Aceh, mesjid Bai­tur. Rahman mereka pugar. Pemugaran yang dilakukan oleh Belanda ini terjadi pada 1932 di bawah pimpinan Gubernur van Aken.

Setelah Indonesia merdeka, atas prakar­sa Gubernur Aceh A. Hasymi, mesjid Bai­tur Rahman kembali dipugar dan diperbe­sar pada 1957. Dewasa ini mesjid Jami Baitur Rahman Banda Aceh dapat menam­pung lebih kurang 10.000 jemaah.

 

Advertisement