Advertisement

Baidawi adalah seorang ahli usul-fikih dan tafsir di kota Syiraz, Persia. Nama lengkapnya Abdullah ibnu Umar ibnu Muhammad ibnu Ali al-Baidawi asy-Sya- yang terkenal di kalangan ahli-ahli usul-fikih dengan Kadi al-Baidawi. Lahir di kota al-Baida pada awal abad ke-7 Hijrah dan wafat di Tibriz pada 1286 (685 H). Dari tempat kelahirannya al-Baida ia pindah ke kota Syiraz, dan di sana ia per­nah memegang jabatan sebagai hakirn, te­tapi tidak lama kemudian ia dipecat, aki­bat banyak kritikan-kritikan tajamnya ter­hadap penguasa waktu itu. Kemudian ia pindah ke Tibriz; di sana ia mengembang­kan ilmu pengetahuannya. Banyak murid­murid yang berdatangan dari sekitarnya untuk mendalami ilmu pengetahuan, ter­utama di bidang usul-fikih dan tafsir. Kadi Baidawi, di samping terkenal alim di bi­dang usul-fikih dan tafsir, juga tersohor dengan keahliannya berdebat dan mengua­sai benar ilmu berdiskusi.

Buku-buku sejarah yang memuat seja­rah hidupnya menyebutkan beberapa buah karya ilmiah berharga dari orang alim yang terkenal saleh ini, tetapi yang paling terkenal di bidang usul-fikih ialah kitab Minhaj al-Wusrd h a 71m al-Usdl, yang sangat terkenal dan berpengaruh di kalangan Syafilah. Buku tersebut berupa ma tan, yakni suatu keringkasan yang men­cakup masalah-masalah usul-fikih. Konon kabarnya kitab terse-but ditulis sedemikian ringkas, dengan tujuan dari pengarangnya agar murid-murid mudah menghafalnya. Para ahli usul-fikih sering memuja kedala­man isi dan keindahan susunan bahasa kitab tersebut, karena pengarangnya telah sanggup menghimpun masalah-masalah usul-fikih ke dalam susunan kata yang ser­ba pendek dan ringkas, sehingga dengan menghafal keringkasan itu berarti peng­hafal telah menguasai sebagian besar pem­bahasan usul-fikih. Imam al-Isnawi, se­orang ahli usul-fikih yang hidup pada abad ke-8 H (704-772 H) yang telah mensya­rah kitab tersebut, dalam komentarnya mengatakan: “Pada umumnya orang­orang yang menekuni bidang usul-fikih de­wasa ini memusatkan perhatian mereka pada buku al-Minhaj ini, karena, meskipun bukunya kecil, tetapi mengandung ilmu yang banyak dan susunan bahasanya in­dah dan menarik.”

Advertisement

Muhammad al-Khudari Beik dalam ki­tabnya Usul setelah menukilkan komentar Imam al-Isnawi tersebut, ber­kata: “Saya tidak mengerti di mana letak kedalaman isi dan keindahan bahasa kitab al-Minhaj (seperti dikatakan al-Isnawi itu), padahal kalimat-kalimatnya tertutup, ti­dak dapat dipahami. Saya sendiri jika hen­dak memahami perkataan al-Baidawi da­lam kitabnya ini, hams mencari syarahnya, dan memang Imam al-Isnawilah yang telah berhasil baik menguraikan isi buku al-Min­haj ini.”

Al-Minhaj adalah keringkasan dari kitab karya Tajuddin Muhammad ibnu al-Hasan al-Armawi (w. 606 H), sebuah buku yang diringkas dari kitab al-Maltsrd oleh Fakhruddin ar-Razi, yang terambil
dari empat buah kitab terkenal, yaitu: ki-tab al-Mu t amad oleh Abu al-Husein al-Basri syarah dari kitab al-Amd (atau al­`Ahd) oleh Kadi Abdul Jabbar, keduanya dari kalangan Mu`tazilah, kitab al-Musiasfa min ‘ilm al-Usd1 karya al-Gazali dan kitab al-Burhan oleh Imam al-Haramain, kedua­nya dari kalangan Asy`ariyah.

Di bidang tafsir, karya ilmiyahnya yang sangat terkenal ialah kitab Anwar at-Tan­zil wa Am.& at-Ta`wil yang terkenal de­ngan Tafsir al-Baidawi.

 

Advertisement