Advertisement

Ayub (Ayylib) adalah nama seorang nabi yang tertulis dalam beberapa kitab suci sa­mawi. Al-Quran menyebut nama itu em-pat kali: dalam surat an-Nisa, al-An’am, al­Anbiya dan Sad; di antaranya ia disebut bersama-sama dengan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Hal ini menunjukkan, bahwa seperti kedua nabi tersebut, Ayub adalah seorang yang berpengaruh dan berkelim­pahan. Dan seperti mereka, Ayub pun me­ngalami berbagai cobaan dan kemalangan yang hares dihadapi dengan penuh kesa­baran dan ketabahan.

Dalam anNubuwwat wa al Anbiyd `, karya as-Sabuni, Ayub diceritakan sebagai seorang yang benar-benar takwa, tabah dan sabar, kasih sayang terhadap fakir miskin, menyantuni dan mengayomi para jompo dan yatim piatu, hormat dan ra­mah terhadap tamu. Ayub adalah seorang nabi yang ditugaskan untuk menyeru ne­geri dan kaumnya agar memeluk agama tauhid.

Advertisement

Perjanjian Lama menjelaskan, Ayub pernah tinggal di Uz, bagian utara Saudi Arabia di antara Siria .dan Teluk Aqabah. Sedangkan al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, edisi Malik Gulam Farid menceritakan bahwa Ayub tinggal di suatu negeri yang diperintah oleh se­orang raja penyembah berhala. Raja ter­sebut menentang ajaran yang dibawa Ayub dan lebih dari itu’sangat aniaya ter­hadapnya. Meskipun demikian, Ayub tidak mau berkompromi dengan penyembah berhala; ia tetap gigih dalam memper­tahankan dan mendakwahkan akidah tau­hidnya. Karena mendapat penganiayaan dan kekejaman yang terus menerus dari penguasa setempat, Ayub terpaksa hijrah meninggalkan tanah airnya, mencari per­lindungan ke negeri lain. Akibat dari hij­rahnya itu, atau ada yang mengatakan akibat kelalaian para pengikutnya, Ayub terpisah dari sanak saudara dan para pe­ngikutnya.

Dalam rangka hijrah mencari perlin­dungan ke negeri lain itu, Ayub menem­puh perjalanan yang sangat jauh. Hal ini menyebabkan ia menderita haus dan da­haga serta letih yang sangat hebat; ada yang mengatakan ia terkena penyakit kulit, dan menyebabkan dia sangat letih. Di tengah puncak penderitaannya itu, melalui wahyu, Ayub diperintahkan un­tuk mencambuk dan memacu binatang tunggangannya, pertama dengan menghen­takkan kakinya, kemudian dengan seikat ranting kayu untuk membuatnya berlari cepat, sehingga ia dapat segera keluar dari bahaya dan mencapai tempat yang aman. Selain itu, Tuhan pun menghibur Ayub dengan kabar bahwa di hadapannya ada mata air yang tawar dan sejuk. Di sana ia dapat melepaskan dahaga dan membersih­kan diri. Karena Ayub menderita penya­kit kulit, ia diperintahkan untuk mandi di sumber air tertentu yang airnya me­ngandung mineral yang dapat menyem­buhkan penyakit kulitnya.

Ketika Ayub meneruskan perjalanan, ia bukan saja menemukan air yang sejuk dan menyegarkan, yang dapat melepaskan da­haga dan membersihkan diri, serta meng­obati penyakitnya, bahkan ia dapat ber­jumpa kembali dengan sanak keluarga dan kaumnya yang dahulu terpisah.

Ayub terpisah dari kaumnya, dikatakan karena kelalaian mereka. Ia bersumpah akan menghukum orang-orang yang ber­salah ini, setelah mereka bersatu kembali. Akan tetapi, Tuhan melarangnya memper­lakukan kaumnya dengan kekerasan pada suasana gembira dan bersyukur. Dan un­tuk memenuhi sumpahnya, ia disuruh me­nempuh cara yang tidak menyebabkan mereka berduka cita. Menurut as-Sabuni dalam anNubuwwat wa alAnbiya, Ayub diperkirakan hidup selama 93 tahun. Se­peninggalnya, tugas menyampaikan risalah diteruskan oleh salah seorang anak laki- lakinya, Zul Kifli. Ia tinggal di Syam sam­pai saat meninggalnya dalam usia 75 ta­hun.

Advertisement