Advertisement

Awza’i adalah seorang ulama mujtahid. ikutan umat Islam daerah Siria pada abad ke-2 H. Nama lengkapnya Abu Ainr Ab­durrahman bin Amr al-Awza`i; lahir di Ba`labakka pada 707 (88 H), dan wafat di kota Beirut pada 773 (157 H). Dalam se­jarah Islam ia terkenal sebagai seorang yang zuhud, rajin beribadat dan berani mengemukakan kebenaran di hadapan siapa saja. Pengetahuannya yang luas di bidang fikih dan hadis, disertai keteguhan pendirian dan keberaniannya dalam mem­peringatkan khalifah-khalifah muslim atau pembesar-pembesar negara lainnya berke­naan dengan hukum agama dan keadilan, membuat ia bukan saja dihargai di kalang­an ulama, tetapi juga disegani oleh pe­nguasa-penguasa dunia Islam di masanya.

Pahamnya di bidang fikih merupakan satu mazhab tersendiri yang dikenal dalam sejarah dengan Mazhab Mazhab tersebut, selain berkembang luas di daerah Siria dalam abad ke-2-4 H, untuk bebera­pa waktu berkembang juga di Andalusia (al-Awza`i oleh penulis-penulis Spanyol disebut “Awzu” atau “Aowzei”). Kemu­dian pengaruh mazhab itu hilang di kedua tempat tersebut, karena terdesak dengan masuk dan berkembangnya mazhab Syadi daerah Siria, dan mazhab Malik di Andalusia.

Advertisement

Walaupun Imam Awza`i termasuk salah seorang mujtahid besar di samping imam-imam mujtahid lainnya, dan mazhabnya termasuk mazhab tertua dalam bidang fikih, tetapi karena ia tidak mempunyai pengikut lagi, sebagaimana halnya mazhab imam-imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi`i dan Ahmad bin Hambal), maka ia tidak lagi begitu dikenal oleh umum, meskipun pendapat-pendapat fi­kihnya masih sering didapati dalam pem­bahasan masalah-masalah khilafiyah. Di antara fatwa-fatwa Awza’i di bidang fikih ialah berwudu memadai (sail) de­ngan memakai nabiz (air nira, kurma atau anggur). Air yang dicampuri najis, tetap dianggap suci, selama tidak berobah war­na, rasa atau baunya, walaupun air itu se­dikit. Air sisa anjing atau babi boleti dipa­pakai untuk berwudu dan diminum, dan suatu makanan yang dijilat kedua hewan tersebut tidak haram, tetapi halal dima­kan. Telapak sepatu atau terompah yang kena najis, cukup dibersihkan dengan menggosokkannya ke tanah, dan setelah itu boleh dibawa salat. Seseorang yang de­ngan sengaja menggauli istrinya di siang hari Ramadan, cukup membayar kafarat saja, dan tidak perlu mengkada. Sebalik­nya jika perbuatan itu dilakukan dalam keadaan lupa, cukup membayar kada saja, tanpa harus membayar kafarat. Seseorang yang sedang mengerjakan ibadat puasa, ji­ka is berkata dusta atau gunjing di siang h.ari, puasanya menjadi batal.

Al-Hafiz az-Zahabi dalam kitab tarikh­nya Duwalul-Islam menyebutkan, bahwa ada 70.000 fatwa Imam Awza`i dalam bi­dang keagamaan, sebagai jawaban dari ma­salah-masalah yang diajukan .kepadanya. Dalam buku-buku sejarah yang memuat sejarah hidup imam mujtahid besar ini di­sebutkan dua buah kitab karya ilmiah Awzal yang berharga, yaitu as-Sunan (da­lam bidang fikih) dan kitab.

Advertisement