Advertisement

Awrangzib, lengkapnya Abul Muzaffar Muhammad Muhyid-Din Awrangzib Alam­gir, sultan Mugal India yang berhasil me­luaskan wilayah kekuasaannya jauh ke selatan, memerintah dari 1658 sampai dengan 1707. Berbeda dengan pendahulu­pendahulunya, seperti Akbar yang terke­nal karena ide-ide keagamannya yang sin­kretis, Awrangzib sering dihubungkan de­ngan upayanya untuk menerapkan syariat Islam secara radikal. Ia naik tahta pada usia 40 tahun, menggantikan ayahnya Syah Jahan, setelah menyingkirkan kakaknya sendiri, Dara Syikoh, yang cenderung sufistis dan agak sinkretis. Memang perbe­daan orientasi di antara para penguasa Mu-gal ini mencerminkan upaya secara umum yang beragam dari pihak muslim guna membumikan Islam di Anak Benua India.

Masa pemerintahan Awrangzib menyak­sikan kebangkitan kekuatan non muslim termasuk Marata dan Sikh. Sebagai peng­huni daerah pegunungan orang-orang Ma-rata menikmati otonomi dan juga menjadi sumber kekuatan manusia bagi para pe­ nguasa di dataran Dekkan, termasuk sul­tan-sultan muslim di Bijapur dan Galkon­da. Karenanya, tak mengherankan, jika akhirnya orang-orang Marata di bawah Syiwaji mampu secara mandiri memberi­kan perlawanan terhadap penguasa Mu-gal, terutama sewaktu Awrangzib menun­dukkan daerah Dekkan (1686-1687) yang sejak lama telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian orang-orang Marata. Walaupun Awrangzib akhirnya pada sekitar 1690 mampu memporak­porandakan kekuatan Marata dan men­duduki sebagian daerah mereka, perla­wanan Marata tidak mampu dipadamkan sama sekali. Bahkan terus meningkat di akhir pemerintahan Awrangzib. Pada bagi­an lain kaum Sikh di Punjab semenjak awal 1690an bergolak meinanfaatkan ke­terlibatan Awrangzib di bagian selatan. Berpusat di kota suci mereka Amritsar, kaum Sikh telah berkembang menjadi komunitas keagamaan yang mekar dan mandiri semenjak masa pemerintahan Akbar (w. 1605). Orang-orang Sikh yang banyak berkecimpung dalam dunia perda­gangan dan kerajinan memang sangat ber­kepentingan dengan perubahan corak ke­pemimpinan, termasuk upaya Awrangzib untuk melipatduakan pajak atas para pedagang. Perlawanan mereka terhadap penguasa Mugal memang bukan hanya ter­hadap Awrangzib, bahkan sebelumnya mereka telah terlibat dalam bentrokan ataupun peperangan melawan Jahangir (w. 1627) dan Syah Jahan (w. 1658). Hanya karena lingkup pergolakan kaum Sikh yang terbatas di Punjab maka Awrangzib tidak secara langsung merasakan ancaman mereka, terutama setelah Awrangzib ter­benam dengan persoalan dan impiannya di bagian selatan. Karenanya kaum Sikh terus tumbuh sebagai komunitas yang oto­nom dan kemudian menentang penguasa­penguasa pengganti Awrangzib yang sema­kin lemah.

Advertisement

Berdasarkan pengalaman pribadinya yang taat beragama, Awrangzib terlihat cenderung berupaya mengatasi krisis pe­merintahan dan ancaman dengan meng­hidupkan semangat beragama lewat pene­rapan syariat. Meskipun Awrangzib dekat dengan para tokoh-tokoh sufi dan kalangan Nagsyabandiyah dan Khistiyah, ia secara khusus menaikkan posisi para ahli fikih de­ngan menunjuk mereka, bukan hanya untuk mengepalai bidang hukum, melain­kan juga bidang-bidang perpajakan dan perekonomian secara umum. la pun juga berupaya memperoleh simpati kaum Sun­ni, yang sebagai mayoritas muslim di Anak Benua, dengan melarang segala ma-cam upaya dan kebiasaan publik kaum Syi`ah yang mendiskreditkan simbol-sim­bol orang-orang Sunni. Di samping itu Awrangzib juga menunjukkan dirinya yang meyakini syariat dengan menerapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan semacam me­ningkatkan hukuman (ta `zir) buat pemi­num minuman keras, melarang festival Hindu dalam pasukan Mugal, dan menghi­dupkan kembali pajak kepala (jizyah) atas orang-orang non muslim.

Memang kebijaksanaan Awrangzib lebih banyak mengundang rasa tidak puas di ka­langan non muslim. Namun yang menarik, keputusannya adalah merupakan upaya untuk memenangkan simpati kaumnya yang dianggapnya telah dikecewakan oleh pendulu-pendulunya terutama Akbar de­ngan sinkretismenya. Interpretasinya atas situasi yang berkembang kala itu mem­punyai dampak yang dalam terhadap keberadaan Islam di Anak Benua India. Terlepas benar atau salah, Awrangzib ada­lah anak zamannya yang telah menentu­kan sikap dan mengarahkan kepemimpin­an sebuah pemerintahan besar guna meng­hadapi perubahan dan tantangan. Kaum muslimin di Anak Benua bisa saja melihat Awrangzib dari sisi yang berbeda. Namun bagi segolongan besar ia tetap sebagai pah­lawan dan penakluk yang tangguh (gazi).

Awrangzib meninggalkan warisan yang berharga. Dalam upayanya menerapkan syariat, ia pun membentuk satu komisi yang terdiri dari 24 ulama di bawah Ni­zamud-Din Burhanpuri untuk mengkodi­fikasikan keputusan-keputusan hakim atau Fatawi Hindiyah. Dalam bidang pen­didikan Awrangzib juga berjasa memba­ngun madrasah semacam Farang-i Mahall di Lucknow dan Madrasah Rahimiyah di Delhi yang kemudian melahirkan tokoh­tokoh seperti Syah Waliullah. Sampai de­ngan meninggalnya pada 1707 Awrang­zib telah mampu menguasai India bagian selatan sampai Mysore, suatu karir yang tak pernah dicapai oleh penguasa muslim mana pun.

Advertisement