Advertisement

Salah satu contoh suatu asrama yang berhasil membentuk masyarakat Bhinneka Tunggal Ika adalah Asrama Mahasiswa Universitas Gadjah Mada REALINO di Yogyakarta yang didirikan pada tahun 1952 oleh suatu Yayasan Missi Katholik. Asrama berkapasitas 125 tempat tidur ini berpenghuni mahasiswa Universitas Gadjah Mada dari berbagai macam fakultas. Penghuninya datang dari pelbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pernah salah seorang penghuni asrama Realino berstatus anggota MPRS, yaitu seorang mahasiswa Fakultas Sospol Universitas Gadjah Mada asal dari Irian Barat. Mahasiswa ini bila mengigau dengan bahasa Belanda. Ada juga penghuni yang berkebangsaan Jepang. Tandpasta (tapal gigi) mahasiswa Jepang ini sangat besar, mungkin bisa digunakan untuk dua tahun.

Penerimaan penghuni, melalui tes masuk. Asrama membatasi lamanya waktu menjadi penghuni, yaitu hanya tiga tahun dengan maksud agar inahasiswa lain berkesempatan menjadi penghuni asrama. Fasilita’s yang disediakan antara lain, satu lapangan sepak bola, dua lapangan tenis, satu lapangan basket, satu lapangan bulutangkis, satu set alat musik band, piano, orkes gesek (biola dan cello), alat cukur listrik (tondeuse), dua aula dengan radio, gramophone, tape recorder, perpustakaan, dua kamar gambar, empat mesin ketik, mesin stensil, telepon, post-box, satu kamar belajar bersama bagi mereka yang ingin belajar bersama, kamar gelap untuk fotografi, perlengkapan tambal ban sepeda.

Advertisement

Realino Discussion Club merupakan bentukan untuk melatih para penghuni asrama mengutarakan pendapat, menguji kebenaran pendapatnya dengan berdiskusi, berdebat dan mengambil kesimpulan dari hasil diskusi. RDC ini wajib diikuti oleh setiap warga asrama dengan diatur gilirannya untuk membawakan topik yang dipilih sendiri. Para peserta diskusi diharapkan jauh hari sebelumnya mempelajari topik yang akan dibicarakan. Di asrama Realino mahasiswa makan siang dan makan malam bersama-sama, waktu makan pagi dari jam 06.00 sampai jam 08.00 dilakukan tidak bersama­sam.a. Bagi mereka yang tidak bisa makan siang atau makan malam bersama oleh karena ada kegiatan lain bisa mendaftar makan terlambat. Saat waktu belajar, penghuni tidak diperkenankan berekreasi dan tidak boleh berada di tempat tidur. Bagi mahasiswa yang tidak sempat pulang pada siang hari oleh karena praktikum, dll. bisa minta bekal makan kepada bruder.

Adanya persatuan yang akrab antar penghuni bisa dibuktikan oleh waktu, yaitu sebelum dan setelah terjadinya G30S. Penghuni yang mendukung Bung Karno dengan penghuni yang menentang kepemimpinan Bung Karno tetap saling hormat menghormati, tetap bersama-sama makan satu meja, tetap menghuni satu kamar bertiga, berbeda dengan para mahasiswa di Iuar asrama yang saling melempar batu dan mencederai satu sama lain. Peraturan asrama mengusahakan agar mahasiswa dari fakultas yang sama ataupun dari daerah asal yang sama tidak ditempatkan dalam satu kamar yang sama.

Advertisement