Advertisement

Aruji Kartawinata, selanjutnya disebut Aruji, lahir di Garut, Jawa Barat, pada 5 Mei 1905. Dia adalah tokoh PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), perintis kemer­dekaan Indonesia, Pahlawan Nasional dan pahlawan Islam Indonesia. Pendidikannya dimulai pada sekolah dasar di Garut yang diselesaikan pada 1922, kemudian dia me­lanjutkan ke MULO di Bandung yang dise­lesaikannya pada 1925. Sedangkan pendi­dikan agamanya diperolehnya dan orang tuanya sendiri, terutama dalam membaca al-Quran.

Setelah tamat dari MULO, Aruji beker­ja sebagai guru Sekolah Dasar milik Syari­kat Islam di Garut, kemudian dia diangkat sebagai Kepala Sekolah pada SD tersebut. Selain menjadi guru Aruji juga terjun da­lam organisasi PSII. Pada 1926 ia diangkat sebagai pimpinan kepanduan SIAP (Syari­kat Islam Afdeeling Pandu) PSII. Secara berurut sejak itu jabatan-jabatan yang di­pegangnya dalam organisasi ini adalah se­bagai berikut: Gedelegeerd Lid Lajnah Tanfidziyah untuk Jawa Barat dan kemu­dian diangkat sebagai propagandis partai untuk seluruh Indonesia; Ketua Majelis Departemen Pergerakan Pemuda PSII an­tara 1932-1936; Ketua Departemen Urusan Umum tentang Angket, Keberat­an-keberatan Rakyat, Penerangan dan Pro­paganda; Sekretaris Umum Lajnah Tan­fidziyah PSII; Wakil Presiden Lajnah Tan­fidziyah. PSII; Presiden Lajnah Tanfidzi­yah PSII, dan kemudian Aruji juga diang­kat sebagai Wakil Ketua Liga Muslimin Indonesia.

Advertisement

Sedang karirnya sebagai pegawai peme­rintah dimulainya pada 1942, yaitu ketika dia diangkat sebagai pemegang buku admi­nistrasi di Kotapraja Bandung. Di samping tugasnya sebagai pegawai pemerintah, Aruji juga aktif dalam organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansur. Organisasi ini tidak disenangi Jepang, maka oleh Jepang ke­mudian namanya diubah menjadi Gerakan Kebaktian Rakyat Jawa (Jawa Hokokai). Pada 1944-1945, Aruji masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) dan menjabat sebagai Dai Danco di Cirnahi. Setelah proklamasi kemerdekaan dia di­angkat sebagai pegawai tinggi pada kantor Karesidenan Priangan urusan Keagamaan di Bandung, dan kemudian oleh pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) diang­kat sebagai komandan BKR (Badan Ke­amanan Rakyat) untuk seluruh Priangan dan komandan TKR Divisi III Jawa Barat di Bandung. Pada kedudukannya sebagai komandan ini Aruji pernah memimpin pa­sukannya menyerang sekutu di Bandung pada 24 November 1945.

Ketika pusat pemerintahan Republik berada di Yogyakarta, Aruji pernah men­jabat sebagai Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Syahrir H dan III Negara Kesatuan RI pada 1946. -Setelah kabinet bubar, ia diangkat menjadi pegawai tinggi pada Kementrian Pertahanan, yaitu anta­ra 1946-1950. Tahun 1948 ia menjadi Ketua Panitia Hijrah Tentara Nasional Indonesia dari kantong pendudukan Be­landa di Jawa Barat ke daerah Republik di Jawa Tengah. Sejak berdirinya RIS, Aruji duduk sebagai anggota parlemen, dan kemudian terpilih sebagai Wakil Ke­tua DPR RIS, yaitu Februari—Agustus 1950. Dia juga terpilih sebagai Wakil Ke­tua DPR RI hasil pemilu 1955, yaitu anta­ra 1956 dan 1960. Tahun 1960–1963 sebagai Wakil Ketua DPR GR, dan sejak 1 Maret 1963-1 Maret 1966 dia diangkat sebagai Ketua DPR GR. Ketika terjadi pemberontakan G 30 S/PKI, Aruji berpi­hak pada para mahasiswa yang tergabung dalam KAMI yang menuntut dibubarkan­nya PKI, penggantian menteri tertentu dan penurunan harga. Selanjutnya dia me­nyampaikan semua tuntutan yang didu­kungnya ini kepada Presiden Sukarno. Na­mun karenanya, Aruji diberhentikan dari kedudukannya sebagai Ketua DPR GR (pada Pebruari 1966) dalam suatu reshufle kabinet. Selanjutnya Aruji hanya diberi kedudukan sebagai anggota DPR biasa. Pa­da 1 Maret 1966 Aruji diangkat sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Dalam kedudukannya ini dia di­utus sebagai ketua delegasi Indonesia un­tuk menghadiri konferensi untuk menen­tang penggunaan bom atom serta perco­baan-percobaannya di lautan atau kepu­lauan yang dekat dengan negara-negara Asia, yang diadakan di Jepang pada 1966.

Aruji bertugas sebagai anggota DPA ha­nya dalam waktu dua tahun, yaitu antara 1966-1968. Hal ini disebabkan oleh ke­sehatannya yang semakin memburuk sete­lah 1968. Aruji menderita bermacam-ma­cam penyakit yang menimbulkan kompli­kasi yang parah. Di antara berbagai penya­kit yang dideritanya, yang paling parah adalah kemungkinan adanya peradangan di otaknya. Pada Senin 13 Juli 1970, ia wafat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo dan jenazahnya di­makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Advertisement