Advertisement

Bilqis adalah nama seorang ratu dari Saba, suatu kerajaan yang berada di kawasan negeri Yaman. Ayahnya her­nama Abu Syarh, raja Sinai. Sedangkan ibunya bernam palqamah atau Yalqamah, dengan urutan silsilah berbagai versi.

Ratu Saba memerintah suatu bangsa yang sangat ma kmur dan telah mencapai tingkat peradaban yang sangat tinggi. Akan tetapi dalam bidang ketuhanan me­reka menyembah matahari dan bintang­bintang, suatu kepercayaan yang diper­kirakan berasal dari Irak, ketika mereka pernah berhubungan erat melalui jalan laut dan Teluk Persia.

Advertisement

Dalam sejarah, Ratu Saba dikenal seba­gai seorang ratu yang adil dan bijaksana, memiliki kekuasaan yang besar, memiliki sumber kekayaan yang berlimpah, sangat dicintai, dibela dan ditaati oleh rakyatnya. karena ia sangat memperhatikan dan mem­bela nasib mereka. Kekuasaan dan kejaya­an negeri Saba ini mencapai puncaknya pada kira-kira 1100 SM., dan berakhir sampai 950 SM.

Ketika Nabi Sulaiman mengutus Hud­hud, salah seorang pejabat tinggi kerajaan­nya, untuk menyampaikan surat penting yang berisi peringatan agar tidak meng­adakan pemberontakan, ajakan untuk tun­duk pada kekuasaan Nabi Sulaiman, meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama tauhid, Ratu Saba memanggil para pembesar kerajaannya untuk dimintai per­timbangan. Selanjutnya ratu itu mengam­bil kebijaksanaan mengirimkan beberapa orang utusan untuk menyerahkan hadiah kepada Nabi Sulaiman.

Mendapat jawaban demikian, Nabi Su­laiman merasa tersinggung, menganggap pemberian hadiah itu sebagai penghinaan dari Ratu Saba. Ia mengembalikan hadiah itu sambil mengeluarkan ancaman akan menyerang negeri Saba dengan kekuatan militer penuh. Mengetahui kekuasaan Na­bi Sulaiman jauh melebihi kekuasaan dan kekuatan dirinya, Ratu Saba mengambil keputusan lebih baik menyerah.

Untuk mengadakan penghormatan atas kunjungan Ratu Saba, Nabi Sulaiman memerintahkan kepada para pembesar ke­rajaannya agar membangun sebuah singga­sana, yang lebih indah dan lebih unggul dalam segala seginya daripada singgasana ratu itu sendiri, yang menjadi kebanggaan­nya. Jalan masuk ke singgasan’a itu berlan­taikan ubin kaca, yang di bawahnya me­ngalir air yang sangat jernih.

Ifrit, salah seorang pembesar kerajaan Nabi Sulaiman yang mempunyai kedu duk­an yang sangat tinggi dan wewenang yang besar, menyediakan diri untuk menyiap­kan singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman mengemasi kemah. Selain itu “seorang yang berilmu pengetahuan luas memberikan pe­nawaran yang lebih baik untuk menyele­saikan singgasananya itu sebelum utusan Nabi Sulaiman kembali dengan membawa jawaban dari Ratu Saba.

Ketika Ratu Saba datang berkunjung, dia sangat mengagumi kemegahan dan ke­indahan istana yang dipersiapkan Nabi Su­laiman. Dia semakin menyadari bahwa Nabi Sulaiman adalah utusan Tuhan dan karunia rohani (agama) itu jauh lebih ber­harga daripada materi. Ketika ratu itu hendak memasuki singgasananya, dia me­nyangka bahwa ubin kaca bening itu air, lalu menyingkapkan kain, sehingga nam­pak betisnya, pemandangan air itu mem­bingungkannya dan dia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Pembuatan istana penghormatan itu rupanya hanya sebuah siasat. Sebenarnya Nabi Sulaiman menginginkan agar Ratu Saba itu dapat menyadari bahwa ia adalah seorang rasul, dan karunia rohani (agama) itu jauh lebih berharga daripada materi. Selain itu ia pun ingin mengarahkan per­hatian ratu itu pada hakikat, bahwa seper­ti halnya ratu telah salah duga bahwa ubin kaca itu air, seperti itu pula matahari dan benda-benda langit lainnya yang disembah itu bukan sumber cahaya yang sebenar­ nya. Benda-benda langit itu hanya me­mancarkan cahaya, tetapi sebenarnya me­reka itu Benda-benda mati belaka, Tuhan­lah yang telah menganugerahkan kepada benda-benda itu cahaya yang dipancarkan­nya.

Dengan metode itu dakwah Nabi Sulai­man berhasil. Ratu Saba akhirnya menga­kui segala kekeliruannya, dia kemudian meninggalkan agama yang selama ini di­peluknya dan menjadi penganut agama tauhid Nabi Sulaiman yang sangat setia.

 

Advertisement