Advertisement

Amru bin Ubaid adalah tokoh kedua Mu`tazilah. Dari catatan-catatan yang amat terbatas oleh para penulis zaman klasik Is­lam, diketahui bahwa ia lahir di Irak (di­duga di Basrah) pada 699 (80 H) dan wafat di Hijaz (di desa Miran, dua hari perjalan­an kaki dari Mekah) pada 259 (142 H). De­ngan usia 62 tahun Hijrah itu, ia dikarunia usia 11 tahun lebih panjang dari temannya yang sebaya, seperguruan, dan seperjuang­an, Wasil bin Ata, tokoh pertama dan pen­diri

Pada mulanya Amru bin Ubaid sependi­rian dengan gurunya, Hasan Basri, dan ti­dak menyetujui pendapat Wasil, yang me­ngatakan bahwa status mukmin yang me­lakukan dosa besar, jatuh menjadi tidak mukmin, tidak kafir, tapi fasik. Fasik di­pandang Wasil sebagai satu posisi (status) di antara dua posisi (mukmin dan kafir), yang lazim disebut al-manzilat bain al­manzilatain. Setelah melalui suatu diskusi dengan Wasil, Amru bin Ubaid merasa bahwa temannya itu berada di pihak yang benar, dan sejak itu ia menjadi pendukung aliran Mu`tazilah. Ia dan Wasil, selain juga saudara ipar, merupakan dwi tunggal yang giat membina kader-kader untuk dikirim ke berbagai_ pelosok negeri dalam rangka menyebar luaskan Islam menurut pema­haman Mu`tazilah.

Advertisement

Amru bin Ubaid digambarkan oleh Naz­zam (w. 231 H) sebagai tokoh yang amat sederhana (wara’), tekun beribadat, lapang hati, bijaksana, dermawan, jujur, dan bera­ni. Ibnu Qutaiba (w. 276 H) menyatakan bahwa Amru, kendati tidak setangkas Wa­sil dalam hal berdebat, cukup mahir me­matahkan argumen-argumen para penen­tangnya. Ia digambarkan sebagai berikut: “Jika anda tengah menyaksikan Amru da­tang ke arah anda, niscaya anda akan me­ngira bahwa ia baru saja pulang dari me­nguburkan ayahnya. Jika anda menyaksi­kannya duduk di antara jemaahnya, nisca­ya anda terpikir pada seorang panglima yang tengah memberikan perintah kepada para komandan bawahannya. Bila anda mendengar nasihatnya, niscaya akan mem­bayang dengan jelas di depan mata anda gambaran neraka yang mengerikan dan surga yang penuh kenikmatan, kendati ia tidak langsung menyinggung persoalan ne­raka dan surga itu.”

Amru bin Ubaid terkenal berani mena­sihati siapa pun. Khalifah al-Mansur per­nah mencucurkan air mata karena mende­ngar nasihatnya. Katanya pada Khalifah: “Anda telah dianugerahi segenap nikmat duniawi oleh Allah, maka belilah diri an­da dengan sebagian daripadanya. Ingatlah senantiasa suatu malam yang tiada malam berikutnya bagi anda!” Wazir berkata ke­pada Amru: “Anda telah membuat Kha­lifah menjadi remuk.” Amru menjawab: “Arida telah mendampinginya begitu la­ma, tapi tidak terpikir agak satu hari pun oleh anda untuk menasihatinya. Yang ada di balik pintu anda bukanlah kitabullah dan sunah Rasul.” Khalifah al-Mansur mengangkat mukanya dan berkata: “Apa yang harus kami buat. Kami telah ber­ulangkali mengundang anda dan teman­teman anda dan kami telah menyatakan bahwa cincin kerajaan kami di tangan an­da; silakan datang dan dampingi kami.” Amru menjawab: “Panggillah kami dengan rasa adil yang betul-betul bersemi da­lam diri anda. Kini gerbang istana anda pe­nuh oleh seribu kelaliman. Coba tebus agak sebagian daripadanya, supaya kami yakin akan kejujuran anda mengundang kami.”

Keberanian Amru selain tercatat dalam kasus di atas, juga tercatat dalam kasus pe­nolakannya terhadap hadiah yang hendak diserahkan Khalifah al-Mansur kepadanya. Ia bahkan tersinggung dan memandang pemberian hadiah itu sebagai upaya mem­beli harga dirinya, dan karena itu ia sege­ra keluar dari majelis Khalifah. Amru me­mang tergolong zahid, yang tidak tertarik pada harta dan kesenangan duniawi. Ke­tekunannya beribadat terlihat pada bekas sujud yang terdapat di dahinya yang sering dan lama bersujud, serta seringnya (40 kali) ia naik haji.

Amru bin Ubaid memang tidak luput dari celaan para ahli hadis, tapi celaan itu tampaknya didasarkan pada kenyataan bahwa ia tokoh Mu`tazilah, yang giat me­nyiarkan dan membela pendiriannya. Ken­dati ia dicela dan dihina secara emosional, ia tetap tenang, lapang dada, dan tidak mau membalas perlakuan jahil dari pihak yang tidak sependirian. Ia sabar menerima kepicikan orang lain. Ia juga dikenal seba­gai perawi hadis, dan cukup tajam menilai maw/ hadis. Disebutkan dalam Tarikh Bagdad bahwa ia menolak sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Safwan bin Umayyah. Dalam hadis itu terkandung pe­ngertian bahwa orang yang kecurian ber­hak dan berwenang membebaskan si pen­curi dari suatu hukuman, sebelum pencuri itu dibawa ke depan , pengadilan. Amru menilai bahwa hadis itu bertentangan se­kali dengan keselamatan umat, dan karena itu ia yakin bahwa hadis tersebut tidaklah berasal dad Rasulullah. Amru berpenda­pat bahwa tak seorang pun dapat memaaf­kan si pencuri, kecuali penguasa, karena pencurian itu bukan hanya merupakan ke­jahatan terhadap si tercuri, tapi juga terha­dap masyarakat. Oleh sebab itu penguasa­lah yang berhak meninjau hukuman, kare­na di tangannya diwakilkan kedaulatan rakyat.

Sebagai pendukung Wasil bin Ata, dapat dikatakan secara umum bahwa pendi­rian-pendirian teologis Amru, baik tentang status fasik bagi pelaku dosa besar, mau­pun tentang kebebasan iradat dan perbu­atah manusia, sifat-sifat Tuhan yang tidak lain dari zat-Nya, fasiknya salah satu dari dua pihak yang berperang dalam Perang Jamal, dan lain-lain, tidak berbeda dengan pendirian Wasil.

Advertisement