Advertisement

Amr bin alAs alUmawi, seorang to­koh penting dan sahabat yang berperan dalam bidang militer dan politik di masa awal Islam. Ia secara terbuka menerima Islam delapan tahun setelah Nabi hijrah ke Madinah bersama-sama dengan tokoh­tokoh Quraisy lainnya seperti Khalid bin al-Walid. Ini terjadi setelah tercapainya Perjanjian Hudaibiyah, dan ia pun pin­dah ke Madinah. Namun tidak lama di Madinah Nabi menunjuknya sebagai wa­kil di Uman.

Karir Amr bin al-As terus menanjak pada masa al-Khulafa ar-Rasyidin. Abu Bakar menunjuknya sebagai komandan pasukan yang berjumlah kurang lebih 7000 untuk mengamankan perbatasan Palestina bagian selatan. Sebagai seorang pedagang yang sering mendatangi daerah tersebut, khususnya Gaza, Amr mema­hami benar kondisi dan pola masyarakat­nya. Karenanya ia pun dengan mudah mem’enangkan simpati penduduk setem­pat guna menumpas kaum perusuh mau­pun perlawanan tentara Bizantium di situ. Keberhasilan Amr ini mendorongnya untuk melanjutkan ekspedisi ke Mesh, walaupun kelihatannya tak mendapatkan dukungan penuh dari khalifah. Namun kehadiran khalifah Umar sendiri di ka­wasan Palestina pada 638 (17 H) jelas memberikan dorongan moral buat para komandan pasukan semacam Amr. De­ngan dukungan sekitar 4000 pengikut Amr memasuki Mesh pada 639 (18H). Kemenangan-kemenangan kecil yang dica­painya di Delta Nil telah menyebabkan khalifah mengirimkan bantuan pasukan lebih besar di bawah Zubair bin al-Aw­warn. Ketidakikutsertaan orang-orang Koptik melawan pasukan Madinah telah memudahkan Amr guna menghadapi pa­sukan Bizantium baik di Babilon maupun di Iskandariyah. Sampai dengan 642 (21 H) seluruh wilayah Mesh telah sepe­nuhnya dikuasai pasukan Madinah di bawah Amr. Atas petunjuk khalifah, Amr pun membangun kota garnisun dan pusat administrasi di Fustat (sebelah selatan Kairo). Dan ia pun ditetapkan sebagai gu­benur (wall! amir) di Mesh sampai Usman menggantikannya dengan Abdullah bin Sed bin Abi Sarh pada 645-646 (25 H). Melihat peranan Amr di Mesh, tindakan Usman jelas mencerminkan upaya Madi­nah untuk mengefektifkan kontrol khali­fah atas propinsi semacam Mesh, khusus­nya dalam bidang pendapatan. Amr sen­diri menolak untuk menduduki posisinya yang baru sebagai komandan perang (`ala al-barb).

Advertisement

Nama Amr mencuat kembali dengan peranannya yang krusial dalam konflik antara Ali dan Mu`awiyah. Amrlah yang mengusulkan kepada Mu`awiyah untuk mengajukan gencatan senjata kepada pihak Ali. Memang posisi pasukan Mu`­awiyah dalam perang Siffin 657 (38 H) tidak menguntungkan. Upaya Amr ber­hasil bukan hanya menolong posisi Mu`­awiyah dalam perang Siffin melainkan juga dalam perundingan perdamaian (syri­ra) yang diadakan kemudian. Keberhasilan Amr untuk mendudukkan Mu`awiyah sejajar dengan Ali dalam perundingan ini jelas merupakan pukulan serius terhadap Ali yang tak diragukan lagi adalah khali­fah yang sah. Memang posisi Ali semakin sulit seusai usulan perdamaian yang ia te­rima. Atas keberhasilan Amr, Mu`awiyah menunjuknya untuk mengambil alih Mesir dari tangan wakil Ali tak lama setelah pe­rang Siffin. Amr kembali menguasai Me-sir sebagai gubernur hingga akhir hayatnya pada 662 (43 H).

Advertisement